GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
ADA YA PEREMPUAN SEJAHAT ITU?



“Mi, Papi mau bicara serius,” ucap Ajat, ketika mereka sudah masuk ke kamar tidur mereka dan anak-anak sudah tidur.


“Kenapa Pi? Ada perlu apa?” balas Santi. Tak ada ketakutan dalam nada suaranya.


‘Biasanya seorang perempuan bila diajak bicara serius, akan takut, tapi dia tidak.’ Ajat memandang lekat istri ke 3nya. Istri pilihan anak-anak dan ibunya!


“Sudah 8 bulan kita menikah, kita belum pernah bicara apa bagaimana dan tujuan rumah tangga kita,” kata Ajat.


“Sekarang kita harus saling terbuka semuanya Mi dari A sampai Z harus kita bahas, sehingga kita jelas arah tujuan rumah tangga ini mau ke mana.”


“Oke,” jawab Santi. Dia biasa tegas di pekerjaan jadi nggak aneh dan tidak takut saat Ajat mengajaknya terbuka segalanya.


“Oke, kita mulai. Mami ingatkan awal pernikahan kita itu apa?” tanya Ajat.


“Pasti ingatlah. Tujuan Mami nikah juga Mami tahu kok,” balas Santi tegas.


“Kita mulai dari situ ya. Kita rinci sejak perkenalan dan pernikahan kita. Karena itu belum pernah kita bahas, padahal sudah hampir setahun pernikahan kita.”


“Papi akan mulai dari Papi duluan ya Mi karena Papi tahu selama ini Mami dengar tentang Papi dari orang lain, entah itu dari pembantu entah itu dari ibu entah itu dari sepupu Papi,” Ajat yakin Santi tak pernah ingin mengorek sejarahnya, namun pasti ada sejarah yang dia dengar.


“Dia adik kelas Papi di kampus, tak usah disebut namanya karena tak penting. Saat camping Papi biasanya nyanyi. Tiba-tiba da yang minta Papi ngiringin dia nyanyi. Dari situ mulailah Papi kenal dengan dia.”


‘Aku malah enggak tahu kamu bisa main musik Kak,’ ucap Santi dalam hatinya. Memang sebelum ini Santi panggil lelaki asal Jawa barat itu kakak, kalau depan anak-anak saja dia menyebut papi.


“Papi belum pernah menyatakan sayang dan cinta sama dia, walau kami akrab dan beberapa kali pergi bersama juga nonton bersama karena dia rajin ajak Papi pergi dan nonton. Suatu kali kami datang ke pesta ulang tahun temannya. Itu awal pangkal Papi terikat dengan dia.”


“Kisah ini nggak pernah Papi ceritakan ke siapa pun. Bahkan ke ibu. Ibu tahunya versi orang luar. Bukan versi Papi.”


“Di pesta itu Papi dan dia dijebak entah siapa yang memulai, entah siapa yang memberi. Papi dan dia minum minuman yang diberi obat perangsang sehingga kami melakukan hal buruk.”


“Papi tahu dia tidak cinta ke Papi, tapi karena kejadian itu Papi mulai merasa harus bertanggung jawab karena yelah menodai seorang perempuan, padahal dia nya enggak apa-apa. Dia punya seorang pacar yang pelaut kalau nggak salah.


“Karena kejadian itu, dia enggak langsung hamil seharusnya kalau Papi enggak pernah nyentuh dia lagi, enggak akan ada drama berkepanjangan. Tapi karena sudah pernah melakukan, sudah pernah merasakan nikmatnya bercinta, akhirnya kami beberapa kali mengulang kegiatan hina tersebut. Semua kami lakukan sama sekali enggak didasari cinta yang benar-benar tulus, tapi senang aja melakukan hal tersebut. Just fun.”


“Karena sering melakukan perbuatan dosa tersebut, akibatnya dia hamil sehingga mau tidak mau Papi lapor ke ibu. dan kami terpaksa menikah. Saat itu Mischa sudah 3 bulan di perut.”


“Ketika kami menikah orang tuanya langsung mengusir dia dari keluarga besarnya. Itu yang orang luar nggak ada yang tahu tentang ibunya Mischa.”


“Orang tua dan orang luar tahunya Papi pacaran sama dia terlewat batas dan akhirnya hamil. Awal pangkalnya nggak ada yang tahu kecuali teman-teman yang menjebak dia.”


“Papi pikir rumah tangga kami baik-baik aja, Papi bekerja dengan baik sampai jadi wakilnya ayah. Uang bukan masalah buat Papi. Papi rampungin kuliah, dia nggak karena saat itu hamil. Selesai kuliah Papi langsung ambil S2 di Singapura, dia enggak mau ikut, dia tinggal di sini bersama ibu karena masih punya bayi saat itu.”


“Sesekali Papi pulang. Jakarta ~ Singapura berapa lama sih? Dan duitnya juga nggak seberapa buat Papi kan? Tahun pertama rumah tangga tak berlandaskan cinta berlangsung aman,  begitu seterusnya sampai akhirnya tiba-tiba dia pergi dari rumah tanpa jejak, meninggalkan Mischa begitu saja ketika anak itu berumur 2 tahun.”


‘Ada ya perempuan sejahat itu?’ batin Santi.