GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
JANGAN MANIPULASI DATA



“Sudah jelas ya itu poinnya dan mohon diwanti-wanti lagi semua peserta sesaat  sebelum jalan. Tidak boleh memposting dengan bilang kita sedang memberi bantuan atau apa pun yang konotasi artinya sama dengan itu. Tidak boleh dan untuk program yang berikutnya sama seperti pak Fahrul, cari rumah jompo, rumah panti asuhan balita atau anak atau remaja, pokoknya yang tidak dapat bantuan dari dinas sosial pemerintahan atau dari perusahaan besar. Karena mereka sudah cukup semuanya. Yang kita bantu itu yang masih butuh uluran tangan. Nggak apa-apa kita ngasih bantuan ke rumah jompo atau rumah panti asuhan kecil, karena kita tidak butuh diekspose. Kita memberi dalam diam,” kata Dinda lagi.


Semua mencatat hal itu.


“Kembali lagi ke poin utama. Sama sekali jangan ada riya. Jangan pernah posting bahwa kita sedang memberi bantuan. Tidak boleh. Kalau sampai itu terjadi entah itu keluarganya siapa pun, ultimatum saja langsung dapat SP! Kalau tidak begitu mereka tetap akan curi-curi posting. Jadi karyawan kita akan memperingatkan keluarganya agar dia tak dapat SP. Itu lebih memperingan tugas kita.”


“Selanjutnya jangan pernah satu kali pun ada wartawan. Tidak boleh ada wartawan. Saya tidak mau itu. Kita mau memberi dalam senyap, bukan mau cari nama agar perusahaan kita besar. Tidak ada itu.”


‘Ya ampun Gultom kenapa bodoh banget sih sampai salah jalan. Kalau dia masih di sini tentu dia bisa merasakan bagaimana tulusnya Bu Dinda membantu orang lain.’


Sondang jadi ingat Gultom lagi. Kemarin Gultom baru saja memberitahu bahwa dia ganti nomor pada dirinya juga kedua putri mereka. Alasannya supaya benar-benar terputus dengan Pricilla, Niken atau pun Pratiwi dan siapa pun.


“Bu Sondang perhatikan ya, untuk bulan depan kan jadwal cabang kita. Kita harus lebih baik dari cabangnya pak Fahrul,” bisik Ilham.


“Siap Pak. Saya akan rinci semuanya mulai besok. Kita mulai perhatikan apa yang dibutuhkan dan kita cari dulu yayasannya,” jawab Sondang sambil mengangguk.


“Iya Bu. Saya sampai saat ini belum pesan makanan apa pun, karena sebelumnya saya sudah dapat pemberitahuan dari Irene tentang diet untuk lansia. Jadi benar-benar itu berisiko. Ada yang tak boleh gula, sama sekali. Ada yang tak boleh karbohidrat, ada yang tak boleh garam. Jadi kompleks, sangat kompleks. Sulit bila kita bikin makan siang secara global. Jadi saya berpikir makan siang biar disiapkan saja oleh yayasannya sendiri tanpa kita ikut-ikutan. Kita orang dari Alkavta makan siangnya di luar panti saja Bu. Saya sudah cari arena di sekitar situ yang bisa menampung kita. Di situ bisa gelar tikar lalu duduk makan bareng. Anggap saja kita family gathering dadakan. Kita bawa nasi box buat kita saja. Itu solusi dari saya. Tapi kalau Ibu ada masukan lain silakan. Paling uang makan untuk penghuni panti kami alihkan guna pendanaan lain, misal kita beri tambahan untuk pembelian diapers atau pembelian apa keperluan para manula itu,” kata Fahrul.


“Saya rasa bagus seperti itu,” kata Sondang.


“Karena memang menu diet lansia tidak sama. Mereka kebutuhannya masing-masing berbeda. Jadi memang untuk kita yang ikut kunjungan di data saja berapa orang, lalu kita makan di luar gelaran di bawah pohon.”


“Ya setuju begitu saja dan kita beri keterangan dulu pada mereka bahwa kita tidak bisa makan di panti asuhan berhubung dengan menu diet masing-masing penghuni panti,” ucap Ajeng.


“Jadi sudah clear semua ya. Tinggal bagian belanja laporkan sumbangan kita apa saja, dalam jumlah berapa. Catatannya jangan sampai kelingsut. Tidak boleh ada kwitansi yang double. Kwitansi juga harus jelas nomor telepon juga stempelnya. Saya tidak mau harus memecat orang gara-gara ada manipulasi data,” kata Dinda lagi.


Semua tentu tahu kalau sudah masalah uang jangankan satu juta mungkin 50 juta juga Dinda akan kasih free asal bilang kebutuhannya untuk apa. Tapi kalau mencuri, satu rupiah saja. dia langsung akan diproses hukum. Itu prinsipnya Dinda.