
“Papi percaya semua itu,” jawab Ajat.
“Waktu itu ibu bilang bahwa Mischa dan Farouq ada yang mau adopsi. Ibu bilang Papi harus lepas mereka. Toh selama ini Papi nggak pernah peduli pada mereka. Papi nggak pernah tahu ulang tahun mereka, Papi nggak tahu pelajaran mereka, Papi nggak tahu apa yang mereka makan dan segala macamnya seperti ukuran sepatu atau bahasa apa yang pertama kali mereka ucapkan dan sebagainya. Pokoknya Papi sama sekali nggak tahu tentang anak-anak itu. Jadi Papi harus relain anak tersebut diadopsi.”
“Awalnya Papi bingung, kok ada ya orang mau adopsi anak yang nggak berpendidikan seperti anak dua itu.”
“Ibu bilang yang mau adopsi itu jatuh cinta pada Farouq, dia nggak mau lepas Farouq, begitu pun Farouq apa-apa hanya mau sama mami-nya tersebut. Aku nggak tahu bagaimana mereka manggil perempuan yang mau adopsi itu MAMI.”
“Akhirnya ibu ngasih saran gimana kalau Papi nikahin perempuan tersebut. Tentu saja Papi nggak mau. Papi bilang Papi nggak akan nikah lagi. Cukup dengan 2 perempuan baji-ngan sebelumnya.”
“Kamu lebih baik beli sate daripada piara kambing? Tanya ibu soal kebiasaan Papi buat jajan.”
“Buat apa piara kambing kalau dia jadi kambing liar yang merusak kebun tetangga, itu yang Papi bilang ke ibu.”
“Tergantung dari mana asal kambingnya, ibu terus mengejar Papi agar melihat dulu sosok yang akan mengadopsi anak-anak. Ibu memberikan data perempuan tersebut. saat itulah Papi kaget.”
“Papi lihat kedekatan perempuan tersebut sama anak-anak. Bayangin dua minggu Papi nggak kerja. Dari pagi sampai malam ngeliatin pergerakan perempuan tersebut. Dia di kantor, dia di mall, dia di rumah Papi. Papi selidiki itu. Bahkan di rumah Papi sendiri, Papi seperti pencuri tak ingin ketahuan oleh perempuan tersebut dan dari semuanya itu Papi baru tahu dia sama sekali tak ingin jadi istri Papi sama sekali.”
“Tak ingin!”
“Dia sudah bilang pada mamanya maupun pada ibu Papi kalau dia hanya ingin jadi ibu anak-anak Papi saja.”
“Dua minggu itu bikin Papi jatuh bangun. Papi tiba-tiba jatuh cinta pada orang yang belum pernah Papi kenal. Perasaan yang belum pernah Papi rasakan kepada dua istri Papi sebelumnya. Dari situlah Papi mulai mengenal anak-anak. Papi mulai berupaya tahu siapa misha dan siapa Farouq. Akhirnya dengan senang hati Papi mau menikahinya. itu alasan Papi menikah dengan perempuan bernama Santi. Jadi jangan kira tak ada cinta di pernikahan ini. Salah besar Papi sangat mencintai kamu sejak sebelum menikah. Hanya Papi nggak bisa bicara Papi takut semuanya jadi salah duga. Sejak melihat foto dan data dirimu dari ibu, Papi enggak pernah satu kali pun jajan. Its over. Semua telah selesai begitu ada kamu!”
Santi tak percaya Ajat mencintainya sejak jauh sebelum dia melihat Ajat.
“Seiring berjalannya waktu ibu curiga kenapa istri Papi belum hamil, sedangkan di dua pernikahan sebelumnya bahkan belum menikah sudah pada hamil duluan. Papi langsung di sidang berkali-kali. Papi didesak apakah pernah menggauli istri Papi, karena yang mereka tahu Papi menikah karena terpaksa. Papi bilang Papi menggauli istriku kepada ibu, taii ibu nggak percaya.”
“Kamu tahu dua minggu sejak kita nikah itu adalah masa terberat buat Papi. Papi memang nggak berani menyentuh kamu, takut kamu trauma. Takut kamu ji-jik sama lelaki sampah ini. Itu mengapa Papi menunda melakukan hubungan suami istri dengan kamu selama 2 minggu. Tiap malam Papi terpaksa harus meredamnya di kamar mandi, sendirian panas dingin. Papi rasakan dua minggu akhirnya nggak kuat.”