GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MELIHAT MANTAN



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



Pagi ini Adit mulai menunggu di sebuah sekolah dia menunggu dari jam 07.00 Hingga jam 08.15 tak ada Dinda atau si kembar. Adit tak tahu mobil Dinda sekarang mobil apa, jadi dia tidak melihat mobil tapi melihat siswa. Adit menanti dari jauh melihat siapa yang sudah masuk ke sekolah. Tadi dia dapat info bahwa siswa tidak masuk dari hari Senin hingga hari Jumat. Jadi mereka rupanya hanya seminggu tiga kali bisa Senin, Rabu, Jumat atau Selasa, Kamis, Sabtu. Jadi untuk amannya Adit akan menunggu satu minggu di satu sekolah agar jelas bahwa putranya sekolah atau tidak di yayasan tersebut,



Hari ini sudah minggu kedua, Adit pindah ke yayasan lainnya.



Sekarang sudah satu bulan sudah Adit mencari, artinya sudah 4 yayasan yang dia datangi.



“Radite?” pada hari itu ada yang menegur dia.



Radit menoleh, dia melihat wajah seorang perempuan cantik yang serasa pernah dia lihat dimana tapi dia tak ingat siapa namanya.



“Hai aku kenal wajahmu tapi aku lupa kamu siapa ya,” jawab Adit sambil menghampiri perempuan itu.



“Wah mukaku familiar ya kamu masih ingat. Alhamdulillah,” jawab perempuan itu. Aku Meliana, kita pernah satu SMA.” jawab perempuan itu.



“Oh satu SMA? Pantas aku lupa, karena sudah lama. Hebat ya kamu masih ingat teman lama,” kata Adit menyambut uluran tangan perempuan itu.



‘*Bagaimana aku bisa lupa? Kamu lelaki pertama yang membuatku jatuh cinta saat kita masuk SMA*!’ batin Melia.



“Kamu ada perlu apa kesini?” tanya Meliana.



“Oh aku mau mencoba menawarkan pembuatan ruang perawat anak-anak atau kalau misalnya sudah punya aku menerima proyek renovasi untuk yayasan ini,” jelas Adit. Dia tak mungkin bilang antar anaknya atau sedang mencari anaknya kan?



“Wow. Ayo masuk ke kantorku,” ajak Meliana.




“Kebetulan ini yayasan milik kakekku, kedua orang tuaku tak mau pegang lalu diserahkan ke aku sejak 2 tahun lalu,” jawab Meliana lagi.



“Ayo masuk,” ajak ketua yayasan tersebut.


\*\*\*



‘*Itu bukannya Mas Adit ya*?’ batin Dinda melihat sosok yang mirip mantan suaminya sedang berjalan bersama ibu ketua yayasan.



Dinda melihat Adit membawa map proposal yang biasa dulu dibawa suaminya ketika masih satu kantor.



‘*Ada apa ya dia ke sini? Apa sekarang kantor mulai membangun proyek remahan seperti ini? Apa perusahaan bangkrut sehingga cari order kecil*?’ batin Dinda. Tapi Dinda tak bisa merenung lama, dia langsung kembali konsentrasi pada dua anaknya yang sudah bersiap lari masuk ke kelasnya bila tak dia pegang.



Adit belum melihat bahwa di tempat yang sama ada Dinda, tadi dia tidak enak karena ditegur oleh seseorang yang bertanya apa tujuannya ke sekolah ini jadi dia menyebut akan memberikan penawaran. Padahal di tempat lain, kalau belum ketemu Dinda, Adit tidak akan memberikan penawaran kerja sama.



Benar yang ada di pikiran Dinda, proyek yang ada di proposal Adit itu proyek buang waktu dan tak pernah dilakukan selama ini. Biasa menangani proyek hotel atau mall setidaknya pembangunan rumah sakit, masa sekarang menawarkan kerja sama untuk satu dua ruang kelas saja?



Bukan sombong, tapi kalau pekerjaan kecil seperti itu ditangani perusahaan sebesar milik Eddy, kasihan usaha perorangan yang butuh pekerjaan seperti itu.



Sekarang Adit melakukan hanya demi mencari anak-anaknya saja karena tak boleh mencari dengan menggunakan detektif sebab sudah diancam Dinda.



Terlanjur  ditegur kan nggak enak, akhirnya Adit pun melangkah masuk ke kantor yayasan


\*\*\*


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya teman yanktie yang lain dengan judul  HILANGNYA CINTA SUAMAIKU yok