
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
“Pantas, dia tak butuh uang gaji perusahaan Pa. Rupanya sebelum pergi dia sudah mempersiapkan usaha. Artinya dia mulai bersiap sejak tahu aku tak cerita masalah Merrydian. Dia sangat marah padaku dan tak ada ampun karena masalah Merrydian begitu menyakitinya.”
Adit memperlihatkan foto ruko yang Dinda tempati jelas terpampang nama G&G, kalau Dinda belum persiapan tentu toko itu belum berjalan.
“Jadi sebelum Dinda pergi dari rumah ini dia sudah siap kuda-kuda duluan.” Jelas Adit.
“Itu kamu harus jadikan acuan, jangan macam-macam lagi kalau nggak ingin kamu tambah enggak bisa bertemu sama sekali dengan anak-anak,” pesan Eddy memperingatkan anak tunggalnya.
“Itu masalah yang sedang aku pikir Pa. Aku baru dapat info dari teman SMA kalau ketua yayasan tempat Dinda masukin anak-anak sekolah itu belum menikah, dan bahayanya dia dulu suka sama aku.”
“Waktu SMA kakek dan bapaknya melarang dia bergaul dengan orang yang tidak benar. Papa tahu saat SMA aku itu sangat nakal dan free seex jadi dia langsung mundur teratur.”
“Sekarang kakek dan ayahnya sudah enggak ada, dia pasti bebas menentukan arah. Aku takut dia seperti Merrydian yang menghalalkan segala cara.”
“Walau sejak awal aku sudah bilang padanya kalau aku punya anak istri tapi buat perempuan yang terobsesi, mungkin dia mau jadi istri kedua atau piaraan aja. Jadi mulai besok aku tak akan pernah datang sendiri ke yayasan tersebut. Itu akan beresiko kalau Dinda mengira yang tidak tidak.”
“Mungkin saja kan perempuan itu akan mengatur skenario agar terjatuh lalu dia ada dalam pelukan ku atau bagaimana kan aku enggak tahu. Jadi mulai besok setiap ke yayasan itu aku harus ditemani oleh orang lain,” kata Adit.
“Aku baru tahu kemarin dari temanku Pa. Makanya aku lapor Papa jangan sampai aku terjatuh di lubang yang lebih dalam,” tentu Adit takut bila dia harus kesandung masalah yang tak bisa dia atasi. Dulu kasus Shalimah dan Merrydian adalah akibat dia tak bercerita pada Eddy. Sekarang dia tak mau terjadi hal baru yang tak bisa di prediksi dan dia tak cerita sejak awal pada Eddy.
“Papa yakin anak-anak itu kenal wajah kamu. Berupayalah agar mereka melihat wajahmu dan lihat reaksi mereka. Itu lebih baik daripada kamu yang mengenali mereka. Nanti dikira Dinda kamu ya ngejar dia,” kata Eddy.
“Wah bener Pa, Dinda kan memperkenalkan wajah kita. Anak-anak itu tahu siapa kakek dan ayahnya, jadi lebih baik aku dekat dengan mereka tapi pura-pura enggak lihat ya Pa,” kata Adit dengan bergembira
“Seperti itu lebih baik, jangan kamu yang lebih dulu menghampiri mereka. Biar anak-anak yang menghampiri kamu. Jadi kesalahan itu bukan ada di kamu. Kalau anak-anak kan nggak mungkin disalahkan oleh Dinda.” kata Eddy lagi.
“Kamu sudah makan siang?” tanya Eddy.
“Aku tadi makan kimbab 3 bungkus. Lumayan lah ganjelnya, Papa mau? Masih ada dua. Aku tadi beli 5.”
“Eh tapi enggak bisa deh, ini pedas. Nanti papa dimarahin Dinda,” kata Adit. Walau pun Dinda tidak ada bersama mereka, semua larangan Dinda selalu mereka patuhi.
“Wah kalau pedas jangan deh, nanti papa bisa bahaya kalau Dinda tahu,” Eddy tak mau mencuri kesalahan melawan larangan Dinda. Mereka pun langsung memesan makanan di kantin.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI yok