GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
AYAH TAK MELARANG KAMU HAJAR DIA



Malam ini semua makan malam dalam suasana yang riang gembira tak ada marah-marah apa lagi berantem. Eddy yang sudah pensiun bahagia melihat rumah tangga Adit yang membuatnya merasakan hidup dalam keriuhan. Eddy sama sekali sudah tidak ke kantor. Tapi dia tak kesepian walau semua cucu sudah sekolah. Kadang dia ikut antar jemput para cucu.


“Abang, Mamas dan Biyya habis ini kita ke ruang tengah,” pinta Adit.


Sekarang membereskan piring sehabis makan harus dikerjakan oleh anak-anak sendiri. Itu aturan Dinda. Memang anak-anak tidak mencucinya tapi mereka harus membereskan meja agar kembali bersih. Itu sudah kewajiban dari Dinda, anak perempuan atau laki semuanya harus beres-beres meja.


“Iya Yah,” jawab Iban. Jagoannya Adit itu tahu dia akan di sidang dan tidak pernah ada kata takut dari anak-anak untuk menghadapi sidang. Mereka malah senang karena bisa beradu argumentasi dengan ayah dan bunda mereka. Kadang kakek pun ikut mendengarkan. Tapi kakek jarang bersuara kalau sedang sidang.


Dinda membawa teh madu untuk dia dan Eddy juga Adit. Dia juga cemilan ke ruang tengah tempat sidang akan berlangsung.


“Ada yang mau memulai cerita?” tanya Dinda. itulah sidang ala mereka.


Malam ini Ghaidan tidak ikut karena dia sedang tidak ada persoalan, tapi tidak dilarang untuk ikut siapa pun itu bisa hadir. Hanya yang dipanggil namanya oleh Adit itu yang harus hadir.


“Tadi aku berantem Yah,” kata Iban.


“Kok jawab ke Ayah? Yang tanya kan Bunda?” balas Adit.


“Iya pokoknya Ayah sama bunda lah kan sama aja. Aku tadi berantem,” kata Iban jujur.


“Kenapa Abang?” tanya Dinda dengan lembut.


Dinda dan Adit memang menerapkan tidak ada amarah untuk anak-anak. Beda dengan orang tua pada umumnya, mereka tetap menegur tapi tidak dengan nada keras. Cara ini sama seperti yang dilakukan orang tua Dinda dan orang tua Adit.  Mereka tak pernah melarang dengan marah.


“Tadi aku lewat kelasnya Biyya,”  jelas Iban. Biyya yang di sebut namanya hanya bisa menundukkan kepala.


“Lalu?” kata Eddy penasaran. Tumben sang kakek bicara.


“Abang melihat Biyya sedang dipepet oleh Charles. Langsung Charles Abang tegur karena Abang tak suka cara Charles mengintimidasi adik aku. Walaupun korbannya bukan adik aku pun, aku tetap akan menegur karena tak baik seorang laki-laki mengitimidasi perempuan seperti yang dia lakukan.”


“Memang Charles bilang apa?”


“Charles bilang : kamu tidak usah kepedean. Adik kamu itu jelek, tidak cantik. Aku juga tidak naksir kok. Jadi tidak usah kamu belain dia.”


“Tanpa menunggu dia selesai bicara, langsung dia Abang hajar!” tanpa ragu Iban menceritakan kronologi nya. Dia jujur karena itu yang Dinda dan Adit terapkan pada anak-anak. Harus jujur.


“Seharuskan tidak seperti itu Bang?” tegur Adit.


“Abang tidak suka intimidasinya Yah. Jangan body shaming. Dia menghina bentuk rupa orang adalah menghina ciptaan Allah! Lagian adik Abang cantik kok siapa bilang Abang aku jelek?”


“Mungkin dia berkata seperti itu untuk menutupi rasa malunya. Harusnya Abang tidak usah seperti itu,” kata Dinda. Walau pikirannya melayang jauh, bagaimana anak seumur Charles sudah mengatakan tak naksir putri kecilnya yang baru berusia 5 tahun dan duduk di kelas 2 SD?


“Aku lagi nunggu kesempatan mau aku hajar dia, Abang udah marah duluan,” kata Biyya kesal.


“Ya Abang, seharusnya Abang tunggu dulu. Lihat bagaimana kelanjutannya. Kalau memang sudah tak bisa ditanggulangi oleh Biyya baru Abang hajar. Ayah tidak larang Abang hajar lelaki yang mengintimidasi adikmu, karena itu kewajiban seorang kakak. Tapi harusnya kamu tunggu dulu bagaimana usaha adikmu membela diri,” jelas Adit. Adit tak melarang lho Iban menghajar orang lain bila menggoda adiknya.


“Itu yang bikin aku kesal. Aku menangis itu karena aku tidak dianggap sama Abang. Aku mau hajar dia duluan!” kata Biyya kesal.


“Iya maaf. Abang salah,” kata Iban dengan kesatria. Dia mengakui kesalahannya tanpa malu.


“Ingat ya, lain kali biarkan adikmu membela diri dulu. Adik kalian itu tidak bodoh dan tidak lemah. Kalian sama kekuatannya. Jadi tunggu dulu. Kalau memang adikmu butuh bantuan baru kamu bergerak,” kata Dinda. Padahal Dinda dan Adit tahu kemampuan bela diri Biyya di atas semua saudaranya. Tapi tentu dia tak mau mengatakan seorang nak lebih unggul dari yang lain. Dinda bilang mereka semua sama.


“Iya Bun, aku mengaku salah,” kata Iban.


“Ya sudah ayo sekarang kita main musik,” kata Adit.


Mereka pun lalu mengambil alat musik kegemarannya masing-masing. Dinda dan Biyya langsung duduk di depan piano. Fari senang dengan drum, ada drum di pojok ruangan itu. Sedang Iban bermain gitar bersama Eddy dan Adit. Mereka pun asyik menyanyikan lagu-lagu yang mereka kuasai.