GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SAMA-SAMA EMOSIAN



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Sehabis dari KBRI, Adit dan Dinda malam itu keluar bersama melakukan makan malam romantis, juga jalan-jalan berdua di Sidney. Dari Eddy mereka tahu anak-anak bangun ketika mereka berangkat. Dan anak-anak sudah tidur kembali saat mereka baru selesai dari KBRI.



Itu sebabnya mereka tak was-was keluar malam. Karena tahu anak-anak sudah tidur dan tidak rewel.



“Mas masih enggak habis pikir,” kata Adit.



“Kenapa Mas?” jawab Dinda.



“Mas jungkir balik bagaimana caranya bisa rujuk sama kamu, bahkan Mas sudah putus asa. Yang penting Mas bisa dekat dengan anak-anak. Enggak apa apa lah enggak rujuk asal anak-anak bisa Mas miliki.”



“Kok malahan gara-gara ulang tahun anak-anak, Mas nyusul ke sini, Allah memberikan jalan untuk kita bersama lagi,” kata Adit sambil berjalan memeluk istrinya. Udara malam cukup dingin bagi mereka yang asli negara tropis dengan pakaian tipis.



Dinda tak percaya, dalam pikiran suaminya tak apa tak rujuk yang penting anak-anak bahagia. Dinda yakin tak ada lelaki lain yang memikirkan cinta anak-anaknya sebesar Adit. Dinda bersyukur memutuskan kembali rujuk.



“Aku juga enggak percaya Mas, tapi begitu tahu kalau feeling Mas itu selalu ada buat aku, aku yakin kita memang sudah dijodohkan bersama.



 Sedihnya kita sering ribut karena masalah kesalahpahaman aja,” kata Dinda.



“Makanya Yank, selanjutnya yang lebih baik kita diskusi. Semuanya dibicarakan enggak seperti kemarin-kemarin. Kamu ingat enggak kesalahan kita pertama, masalah Merrydian.”



“Karena aku terlambat bicara, lalu disambung kesalahan kedua karena kamu tiba-tiba langsung ajukan cerai tanpa diskusi. Kesalahan ketiga adalah aku cemburu sama kamu sehingga pulang malam dan aku berpikir menghindari kamu di meja makan sehingga aku makan malam di luar. Kesalahan keempat kamu menduga sesuatu yang enggak benar tentang makan malam dan langsung mau pindah hidup di luar negeri.”



“Kesalahan satu dan tiga itu adalah dari pihak aku, kesalahan dua dan empat itu dari pihak kamu. Selalu seperti itu, terjadi sebab akibat,” kata Adit.



“Ya Mas, emosi kita memang selalu seperti itu ya. Padahal kita kan sudah bilang mau saling terbuka, waktu kita mau meninggalkan ruko di Bekasi.” Dinda mengupas semua yang Adit katakan.




“Kalau Mas enggak ngambeg, waktu itu aku enggak janjian makan siang. Aku sengaja janjian di kantor, aku sengaja bikin Mas tambah cemburu,  aku kan keqi,” kata Dinda.



“Tuh kamu kayak gitu kan, malah bikin Mas tambah cemburu.” Kata Adit sambil mengetatkan pelukan pada istrinya dan mencium kening Dinda.



“Wajar aku bikin Mas cemburu, wong aku cuma terima telepon, Mas kayak gitu. Siapa yang enggak marah karena merasa disepelekan padahal aku enggak ngapa-ngapain sama dia. Daripada disepelein, ya sekalian aja aku janjian,” kilah Dinda.



“Iya, iya, besok-besok Mas enggak cemburu lagi,” jawab Adit.



“Ya jangan dong, harus tetap cemburu, karena cemburu itu kan tandanya Mas sayang sama aku,” kata Dinda.



“Tapi cemburunya harus dikasih tahu, Mas harus bilang! Bukan dengan cara seperti itu. Mas harus bilang kalau Mas cemburu, bukan ngambek,” kata Dinda.



“Oke Mas salah kemarin ngambek.” jawab Adit.



“Tapi ada juga orang ngambek langsung cari rumah,” goda Adit.



“Kok Mas tahu?” Dinda kaget mengetahui kalau Adit tahu saat dia mau beli rumah.



“Ada konsumen yang lapor, kamu lagi cari rumah di developer. Mas bilang kamu lagi cari rumah buat compare dengan proyek kita bukan mau tinggal di situ.”



“Astaga segitunya Mas tahu?” Dinda melepas pelukan suaminya dia langsung berbalik badan dan memandang Adit tak percaya.



“Ya tahu lah, kebetulan aja Pak Sungkono telepon,” Adit membuka teleponnya mencari panggilan masuk.



“Nih pak Sungkono telepon, dia lihat kamu ada di perumahan. Enggak mungkin kan Mas nyusul ke sana, enggak keburu. Pasti kamu sudah pulang.” Dinda memang melihat saat itu ada telepon masuk dari nama Sungkono kliennya Adit.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR  yok.