GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
NGUNGSI KE RUMAH DEPAN



“Ingat ya kalian bulan depan akan di rolling termasuk semua karyawan pastinya. Saya hanya mengevaluasi hasil kerja kalian saja karena kalian adalah binaan saya langsung,” kata Dinda sambil memperhatikan hasil kerja five little star yang selalu dia pantau tiap bulan.


Dinda tak mau kecolongan lagi seperti kasus Rizaldy dan Utoro dulu. Sampai sejauh ini semua berjalan baik terlebih untuk semua karyawan karena ada rotasi berkala tiap tahun, sehingga tidak mungkin ada yang berani macam-macam lagi. Dinda sengaja mengatur pengganti dari orang yang bertolak belakang. Kalau CS nanti mereka bisa mengatur penipuan.


“Mungkin bulan depan saya tidak aktif penuh sampai saya melahirkan,” kata Dinda.


“Loh Bu, bukannya sekarang baru 6 bulan?” kata Ajeng.


“Benar tapi perkiraan dokter kehamilan saya hanya 7 bulan. Mungkin masuk 7 bulan juga sudah lahir,” kata Dinda.


“Jadi saya mau wanti-wanti agar 3 bulan ke depan ini kalian benar-benar kerja mandiri. Saya akan pantau denganzoom meeting saja tiap bulan.”


“Kami tetap serius tanpa kehadiran Ibu, kami tetap akan minta petunjuk Ibu pada saat jam kerja,” ucap Santi.


Mulai hari ini Dinda dan anak-anak tidur di rumah depan. Eddy memang mengontrak rumah tersebut untuk satu bulan ke depan karena rumahnya direnovasi atas usulan Adit.


Mereka membuat satu kamar anak lagi untuk anak yang akan dilahirkan oleh Dinda. Itulah sebabnya Eddy menyewa rumah depan yang penghuninya kebetulan sedang dinas di luar negeri untuk 3 tahun. rumahnya kosong hanya dijaga pembantunya.


Eddy hanya menyewa dua kamar tidur saja khusus buat Dinda dan anak-anak. Eddy sendiri masih tetap di rumah pribadinya tidak perlu pindah karena dia hanya ada di rumah malam sampai pagi tak akan terkena dampak debu.


Adit membuat kamar tidur bayi di sebelah kamarnya. Kamar yang sekarang digunakan oleh Fari dan Iban akan digunakan untuk Ghaidan. Jadi kamar babies dan Aidan mengapit kamar tidur Dinda.


Sebenarnya ini bukan membuat kamar baru hanya pindah barang dan segala perabotan juga membobok kamar sebelah agar ada pintu penghubung saja.


Fari akan mempunyai kamar sendiri, begitu pun Iban. Usia mereka sudah mengharuskan tidak selalu tidur bersama walau mereka kembar.


Kamar Fari dan Iban ada di seberang kamar Dinda. Sedang kamar Eddy tetap ada di bawah bukan di lantai atas.


Walau masing-masing anak sudah punya satu kamar sendiri, di atas masih ada dua kamar kosong.  Memang sejak dulu di atas ada 7 kamar tidur.


Sedang di bawah hanya ada 3 kamar tidur, satu kamar utama digunakan oleh Eddy, dan 2 biasa digunakan untuk para tamu yang menginap.


“Jangan berantakin ya,” Dinda menasihati tiga anaknya.


“Ingat ini bukan rumah kita.”


“Kenapa harus bobo di sini?” tanya Iban.


“Rumah kita mau dibongkar buat bikin kamar dedek bayi, dan seperti ayah bilang kemarin, kamar kalian juga nanti ada di depan kamar ayah dan bunda. Jadi kalian masing-masing punya kamar.”


“Ingat kalau sudah punya kamar harus beresin sendiri,” Adit yang membalas pertanyaan Iban.


“Iya Yah. Kami mengerti kok.” jawab Iban.


Fari berkeliling melihat kamarnya juga kamar ayah dan bundanya. Mereka memang hanya sewa dua kamar. Kamar yang lainnya terkunci.


Bahkan pakaian pun Dinda hanya bawa yang diperlukan tiap hari saja. Bukan dibawa semuanya. Dinda memang sengaja tidak memindahkan pakaian, hanya bawa 2 atau 3 pasang buat prepare. Nanti setiap hari akan diganti oleh para mbok. Jadi sewa kamar benar-benar hanya untuk numpang tidur saja.


“Ayo Bun kita makan dulu itu makanan sudah datang. Bu Siti yang antar,” ajak Adit. Mereka minta kamar di ruang bawah saja tak mau yang diatas agar Dinda tak lelah.


“Sedih ya makan enggak sama kakek,” keluh Dinda.


“Kakek ada koq, tiap makan pagi dan malam kakek akan ke sini biar enggak repot. Kakek kan sendirian jadi dia yang ngalah. Karena kalau kalian yang ke sana akan repot lebih baik kakek yang sendirian yang ngalah.”


“Alhamdulillah kalau kakek yang ke sini,” kata Dinda.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~