
Saat semua tamu sudah pulang Ajat memperhatikan wajah tenang Farouq. Kecil kurus, namun ada senyum di bibirnya. Lelaki kecilnya itu meninggalkan semua dengan tenang. Yang masih ada di ruangan itu hanya Ponirah dan suaminya. juga mama dan papa Ajat serta ibu dan ayahnya Santi. Mereka sedang membaca Yasin. Ada juga beberapa tetangga yang datang di situ yang lainnya sudah pulang termasuk Pak Halimi. Semuanya bilang besok pagi-pagi akan datang lagi.
Satu atau dua orang masih ada juga yang datang. Teman kantor Ajat maupun relasi yang datang malam itu. Tapi tentu saja tidak lama. Kalau relasi dari kantornya Santi tentu sudah datang sejak siang. Jadi tinggal relasi dari kantornya Ajat yang memang baru tahu beritanya saat Maghrib. Saat jenazah sudah tiba di rumah duka. Memang Ajat sengaja tidak mengabarkan sebelum jenazah tiba di rumah.
Hari semakin malam. Sekarang sudah tak ada siapa pun lagi. Yang membaca yasin pun telah usai. Ajat mendekati jenazah Farouq.
“Maafkan Papi ya Sayang. Awal-awal hidupmu Papi nggak pernah mau kenal kamu. Maafin Papi yang pernah menganggap kamu adalah sampah. Kamu adalah anak pembawa sial, karena gara-gara kamu ada di perut perempuan yang terpaksa jadi ibumu itu, Papi terikat dengan bundamu itu. Perempuan yang membuat kamu seperti sekarang.”
“Maafin Papi, walau terlambat, untungnya Papi pernah kenal dan menyayangi kamu. Semoga saja kamu benar-benar mau memaafkan Papi,” Ajat mengusap-usap tangan anaknya yang sudah tertutup kain kafan. Dia tak berani lagi mencium Farouq karena takut ada tetes air mata jatuh. Ajat lalu membaca Yasin pelan. Lamat-lamat dia selesaikan dengan dada sesak dan terisak. Menyesali pernah tak mau ‘kenal’ dengan Farouq.
“Papi tahu kamu sudah ikhlas. Papi juga ikhlas Sayang. Dari pada kamu menderita di sini dengan kondisi paru-paru dan perutmu seperti itu,” kata Ajat sesudah selesai membaca Yasin.
Ajat masuk ke kamarnya dia ingin melihat Santi. Ternyata Santi tak ada di kamar tidur mereka. Tentu saja Ajat bingung.
“Pasti ada di kamar Kakak,” berupaya tenang. Dia pun mencari ke sana. Ajat langsung masuk ke kamar Mischa, ternyata tak adaSanti di sana. Mischa tidur sendirian dengan selimutnya.
“Loh, Santi di mana?” tanya Ajat bingung. Di kamar tidur mereka dan di kamar Mischa juga tak ada. Akhirnya dia tahu di mana istrinya berada pasti ada di kamarnya Farouq.
Seperti dugaannya, Santi tidur di sana memeluk foto Farouq juga mobil-mobilan yang terakhir mereka mainkan bersama. Tentu saja membuat Ajar treyuh. Dia pun naik ke kasur itu dan memeluk istrinya agar istrinya merasakan kehangatan pelukannya.
Monica mengirim karangan bunga turut berduka cita, dia kirim atas nama dirinya dan suaminya. Walau dia tinggal tak jauh dari rumah Ajat, tak ada niatnya untuk datang. Bahkan kedua orang tua Monica pun tak hadir. Mereka sering ke sekolah Mischa dan Farouq. Mereka tak peduli pada Mischa. Hanya peduli terhadap kakak sepupu Mischa yaitu cucunya dari kakaknya Monica. Buat keluarga Monica, Mischa juga sampah.