GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TIBA DI RUMAH KAKEK



“Assalamu’alaykum,” kata Dinda begitu dia turun mbil hendak masuk ke rumah.


“Sayang kita udah sampai ya. Kita sampai di rumahnya kakek,” bisik Dinda pada Ghaylan yang dia gendong sejak dari rumah sakit tadi.


Di rumah ada Mbok Marni. Rupanya dia memang sengaja tidak berangkat yang berangkat ke sekolahan Bu Asih dan Bu Siti.


Bu Marni masak lengkap untuk Dinda. Pasti Dinda akan cepat lapar dan butuh asupan yang sangat banyak serta sehat.


Hari ini Bu Marni bikin ayam bumbu nanas serta tumis buncis tak lupa ada kerupuk.


Sejak semalam Adit sudah minta harus ada salad buat cemilan sehat Dinda. Adit juga kemarin sudah beli banyak keju, yougurt,  kacang polong dan kacang merah, ikan dan banyak bahan lainnya. Pokoknya semua makanan berprotein tinggi untuk kualitas ASI Dinda.


Memang bukan Adit yang belanja, tapi Mbok Marni.  Adit hanya memberi uang lebih di luar uang belanja yang biasa disiapkan oleh Pak Eddy.


“Ini kamar kalian,” kata Eddy ketika dia dan Adit masuk ke kamar bayi. Di sana sudah ada Dinda bersama Ghaylan.


“Rupanya kalian udah siap ya, enggak mau pakai baby box tapi bikin ranjang king size yang diberi pagar seperti ini,” Eddy memberi komentar tentang ranjang bayi king size yang Adit pesan pada pengrajin kayu jati. Ranjang mereka pesan dengan modifikasi sendiri. Ranjang king size-nya diberi pelengkap pagar pasang bongkar pasang.


“Iya Pa, jadi kalau kakak-kakaknya mau naik bisa. Kalau di baby box kakaknya mau naik pasti enggak cukup,” ulas Dinda dengan senyum. Dia selalu berorientasi pada kebutuhan anak-anaknya.


“Aku yakin kakak-kakaknya pasti ingin tidur bersama adik-adiknya. Yang penting kita jaga aja supaya adik-adik enggak ketindihan.”


“Satu dua hari mungkin seperti itu, tapi hari-hari berikutnya mereka akan bisa kita beritahu pelan-pelan. Kalau hari pertama dia ditolak mereka merasa tersisihkan.”


“Ya kita harus menjaga perasaan dan emosi para kakak agar tidak marah kepada adik-adiknya. Jangan sampai merasa perhatian semua orang hanya pada sang adik saja,” ujar Eddy.


Mbok Marni langsung memberikan su5u ibu menyusui pada Dinda, juga dia berikan cemilan kroket kentang isi daging dan keju yang dilengkapi dengan saus sambal bangkok.


“ Mbok tahu aja aku udah lapar banget,” jawab Dinda tanpa malu.


Di kamar bayi juga ada freezer su5u untuk menyimpan ASI atau yang akhirnya karena sudah diperah jadi disebut menjadi ASIP.


Ada microwave maupun panci dan kompor gas portable bila listrik padam, jadi bisa untuk memanaskan botol ASIP atau kalau malam-malam ini bikin minum atau mie ketika menunggu bayi.


Semua sudah Adit siapkan, juga ada dispenser panas dingin jadi kalau malas tinggal direndam dengan air panas dari dispenser saja walau butuh lebih lama waktu siap nya.


Alat pompa ASI juga sudah tersedia, bahkan su5u ibu menyusui juga disiapkan di kamar bayi. Bila Dinda butuh tak perlu turun atau keluar kamar untuk mencari su5u bila ingin membuat tengah malam.


“Mbok minta air garam ya di baskom. Kalau bisa yang hangat ya,” pinta Adit.


“Iya Mas, saya siapkan,” kata mbok Marni.


“Sini Yank kamu makan kroketnya sambil duduk di sini,” kata Adit minta Dinda duduk di sofa depan dirinya.


“Rendam kakinya ya biar enggak pegal,” pinta Adit sambil menggulung celana panjang istrinya agar tak basah. Eddy dan mbok Marni memperhatikan bagaimana cintanya Adit yang anak tunggal itu. Dua-duanya anak tunggal karena keadaan, tapi tak ada yang kolokan.


“Ya ampun Mas, aku baru jalan sedikit aja. Tadi selama di rumah sakit kan aku didorong pakai kursi roda kan?” Dinda tak percaya Adit sampai memikirkan dirinya seperti itu.


“Tetap saja kamu harus rendam kaki, nanti tiap pagi akan seperti ini biar kamu enggak terlalu lelah,” Adit memang sudah berniat setiap pagi dia akan menyuruh salah seorang mbok untuk nyiapin air garam hangat.