
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kok dia enggak bereaksi apa pun? Kok dia cuma begitu ya?” tanya Adit pada Eddy dengan tatap mata bingung.
“Sepertinya dia sudah enggak peduli dan tadi dia juga sudah izin pada Papa lusa dia akan berangkat ke Australia bawa anak-anak,” kata Eddy.
“Nngapain Pa?” tanya Adit.
“Dinda bilang mau survei sekolah di sana, juga tempat tinggal dan di mana tempat dia belanja untuk barang dagangannya di Bekasi. Dia sudah memutuskan akan tinggal di sana.”
“Anak-anak mau di sekolahkan di sana?” tanya Adit tak percaya.
“Begitu yang dia bilang. Dia mau tinggal di sana dan sekolahin anak-anak di Australia. Tapi kepergian kali ini baru survei belum menetap. Tapi ya entah juga kalau dia tiba-tiba berpikir akan langsung menetap,” kata Eddy.
“Kalau langsung menetap tentu dia akan bikin izin tinggal Pa. Nggak mungkin hanya pakai visa perjalanan aja,” jawab Adit.
“Mungkin juga, tapi yang pasti dia sudah izin bahwa akan berangkat lusa. Kalau dia sudah seperti itu berarti dia sudah punya tiket dan segala macamnya,” kata Eddy.
Tentu saja Adit tambah bingung, ternyata rumah tangganya makin ruwet seperti sekarang.
Adit mengetuk pintu penghubung kamar Dinda, sebenarnya Dinda malas tapi untuk menuntaskan semuanya dia wajib bicara.
“Aku minta waktu sebentar,” kata Adit. Dia melihat kedua buah hatinya sedang tertidur pulas seperti saat tadi dia tinggalkan ketika dia keloni keduanya sebelum mereka tidur tadi.
“Aku baru dengar dari papa kalau kamu pamit mau bawa anak-anak ke Australia lusa,” Adit mulai membuka obrolan mereka malam ini.
“Ya aku sudah punya tiketnya,” jawab Dinda.
“Benar kamu mau survei tinggal di sana dan menyekolahkan anak-anak di sana?” tanya Adit lagi.
“Benar,” jawab Dinda tak berkelit.
“Sebegitu marahnya kamu sama aku, sebegitu marahnya kamu sama papa. Sebegitu teganya kamu sama anak-anak memisahkan aku dan mereka?” keluh Adit.
“Aku bukan tega sama anak-anak. Setidaknya mereka hanya akan terluka satu kali aja, selebihnya mereka akan melupakan kalian untuk selamanya,” kata Dinda.
Adit tak bisa lagi menerima keputusan ini dia bersujud pada Dinda. “Kalau Mas punya salah maafkan, tapi jangan pisahkan kami,” pinta Adit.
“Mohon berdiri. Aku tak pantas menerima ini.” Dinda langsung pindah tempat duduk karena tak enak Adit memohon sambil bersujud di lututnya.
“Aku tidak bisa menerima permohonan maafmu. Sudah terlalu sakit dan sudah terlalu berat beban yang aku terima. Kalau aku terus bertahan anak-anak yang akan jadi korban karena mereka akan selalu aku bawa menghindar setiap ada persoalan.”
“Lebih baik satu kali aja aku keluar dari lingkaran ini dan seterusnya kita saling melupakan. Kamu bisa bermain dengan semua perempuan kesukaanmu, kamu bisa menikah dengan siapa pun yang kamu mau dan kamu bisa punya anak berapa pun yang kamu suka tapi tidak lagi dengan aku.”
“Tapi aku hanya punya kamu dan aku hanya suka kamu. Aku hanya cinta anak-anak.”
“Seiring berjalannya waktu kamu akan punya cinta lain, kamu akan punya anak-anak lain dengan wanita lain. Jadi tidak usah berkeluh kesah soal itu. Banyak perempuan di luaran sana yang yang mengejar cintamu.”
“Sehabis dari Australia nanti aku juga akan menyerahkan kembali kepemilikan saham anak-anak langsung di notaris. Aku tidak akan mau mengambil satu rupiah pun dari uang kalian. Biarlah kamu bahagia dengan uangmu dan perempuanmu. aku tak butuh.”
“Lebih baik aku merangkak dengan hasil usahaku sendiri, daripada aku harus terbelenggu dengan harta ini, sehingga anak-anak terikat dengan kalian.”
“Lebih baik harta itu buat anak-anakmu yang lain dari perempuan lain,” jelas sudah semua keputusan Dinda.
“Tidak akan pernah ada perempuan lain atau anak-anak lain selain anak yang dari kamu. Walau pun ada anak lain itu akan ada dari rahimmu bukan rahim perempuan lain,” putus Adit.
“Itu tak akan pernah terjadi karena kebersamaan kita selalu menyakitkan. Kamu yang bilang kita akan selalu berterus terang. Kita akan selalu saling mendekatkan diri. Aku sudah kasih kamu kesempatan untuk kita memulai dari nol, tapi kamu yang menendang aku duluan saat aku terima telepon.”
“Kamu yang menghina aku duluan dengan tak menganggap diriku ada. Kamu yang memulainya, jadi aku juga bisa balas. Sekarang selamat tinggal. Silakan keluar,” kata Dinda tegas. Rupanya dia merasa sangat terhina ketika Adit tak mengacuhkan pesan yang dia kirim.
“Enggak akan, aku enggak akan keluar sebelum kamu maafin aku,” jawab Adit.
“Terserah,” jawab Dinda. Dia langsung tidur dengan anak-anak.
Adit mengamati 3 jiwa yang sangat dia cintai, istrinya dan dua anaknya. Adit duduk terpaku di sebelah anak-anak dipandanginya wajah kedua putranya.
Dinda sebenarnya belum bisa tidur, tapi akhirnya lama-lama dia juga ikut tidur karena menunggu Adit tak juga keluar dari kamarnya.
Tak kuat menahan kantuk Adit pun tidur memeluk Ghifari dan Dinda memeluk Ghibran.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI yok.