
Santi kaget ketika ada siomay satu porsi datang ke tempat dia duduk. Dari jauh dia lihat Mischa membawa plastik yang berisi cilok juga satu gelas besar bubble tea.
“Mami ternyata cilok itu cuma kayak bakso tapi kecil dan kenyal gini cuma ditusuk lidi. Terus cuma pakai kecap sama saus. Ada juga sih yang pakai bumbu kacang sedikit. Lebih enak siomay banyak pilihannya,” Mischa langsung memberi penilaian apa yang dia temukan dari hasil berburu singkat barusan.
“Ya nggak apa-apa. Kalau kayak gitu kan kamu jadi tahu apa itu cilok dan mengapa Mami melarang kamu jajan di sekolah. Karena belum tentu bersih dan makanannya juga standar. Tak ada gizinya. Siomay pun sama seperti itu. Yang di jual murah di gerobak, jarang yang menggunakan ikan asli. Kalau untuk di jajanan tradisional yang murah tak akan mungkin bisa pakai bahan baku ikan asli Kak. Kalau siomay yang mahal tentu menggunakan ikan. Itulah hukum ekonomi. Tak mungkin modal kecil bisa menggunakan bahan ikan asli,” ucap Santi sambil selintas mengajarkan putrinya tentang bisnis.
“Lebih bagus lagi kalau bikin sendiri di rumah, tentu ikannya lebih banyak. Enggak apa-apa ya. Buat pengenalan aja sih. Biar gimana pun selera itu kan nggak bisa kita arahkan sukanya yang mana. Tetap aja banyak orang yang suka semua yang di jual orang. Kadang juga karena memang harganya yang terjangkau, kita nggak boleh apriori terhadap yang orang suka,” kata Santi.
“Iya Mi, aku cuma penasaran. Terima kasih ya Mi boleh beli,” ucap Mischa tulus.
“Ingat tapi harus dimakan ya. Sudah dibeli enggak boleh dibuang,” Santi menasihati putrinya agar tak membuang rizky.
“Aku enggak buang kok Mi. Ini juga belinya cuma sedikit, cuma pengintahu,” kata Mischa.
“Dedek nggak pengin makan yang berat-berat? Cuma kacang rebus itu doang?” kata Ajat.
“Ini mau nyobain siomaynya Kakak. Kalau enak aku pengin siomay Pi,” kata Santi. Dia memang sedang tak ingin makan dalam artian ngidam. Tadi hanya ingin suasana nongkrong santai saja.
“Papi lagian tadi cuma pengin nemenin dedek, sekarang tahunya Papi yang jajan lebih banyak,” protes Mischa.
“Wah enak ini Kak siomaynya. Mami mau dong Kak. Tapi siomay sama sedikit pare aja. Nggak pakai tahu, kentang, kol atau pun telur,” kata Santi.
“Oke Mi, aku pesenin ya. Jadi parenya dua potong aja, yang lainnya siomay yang banyak?” tanya Mischa.
“Iya Kak. Kecapnya sedikit lalu sausnya yang banyak. Eh bumbunya juga yang banyak dan jangan lupa jeruk limonya,” tegas Santi.
“Ya, aku belikan,” kata Mischa. Gadis kecil itu pun langsung lari ke tukang siomay tadi memesan sesuai dengan permintaan Santi lalu dia langsung kembali setelah membayar langsung pesanannya.
“Coba ini satu suap,” Ajat menyuapi Santi. Dia memberikan satu sendok kwetiau goreng dengan berisi udang dan cumi.
“Wah enak nih Pi. Enak. Coba beli dua porsi untuk dibawa pulang Pi. Buat sarapan besok pagi. Kita tinggal panasin aja,” usul Santi.
“Oke, nanti Papi beli,” jawab Ajat. Dia sama sekali tak pernah menyangka akan makan di lokasi merakyat seperti ini. Kalau tidak kenal Santi, dia hanya kenal resto mahal saja, setidaknya paling murah ya di cafe lah, bukan jajan di kaki lima seperti ini.