
“Wah hebat nih timnya Ayah,” kata Adit. Dia tak menyangka anak-anak bisa mengkoordinir semuanya walau bukan mereka yang mengerjakan semua. Untuk hal-hal yang belum bisa mereka kerjakan seperti membuat pembakaran atau hal yang harus dikerjakan orang dewasa, setidaknya mereka bisa mengkoordinirnyaa. Adit dan Dinda pun mendengar cerita bagaimana koordinasi team di bawah pimpinan Gathbiyya terhadap acara hari ini. Anak-anak sadar tak mau berebut dominasi dan saling ingin unjuk kekuatan. Mereka sepakat pemimpin kegiatan kali ini saudara perempuan mereka. Kalau semua ingin menang sendiri tentu acara akan amburadul. Tentu saja Adit dan Dinda sangat bangga.
“Jadi kakek hanya kasih list yang kalian buat ke mbok Marni?” tanya Adit memastikan.
“Nggak cuma list lah. Uangnya kan juga dari kakek,” kata Fari.
“Ya maksudnya itu. Terus pengerjaannya bagaimana?” tanya Dinda.
“Pengaturan kerja itu dikomandani oleh Gathbiyya,” kata Ghaidan.
“Dia yang atur semuanya, penempatan lalu piringnya, lalu jenisnya yang dimasak. Semua kita diskusikan tapi keputusan di ambil oleh pemimpin tertinggi,” Ghibran yang kelahiran pertama pun tunduk di bawah komando Gathbiyya.
“Kalau bagian pembuatannya itu Ghazanfar yang atur. Para bibi bikin sesuai dengan permintaan ganti dia,” kata Ghaidan.
Adit dan Dinda tersenyum bangga Gathbiyya sudah bisa menjadi komandan batalyon pembuatan kegiatan sore ini. Artinya mereka bisa memanage tim juga waktu.
“Koq bisa menghimpun mereka jadi satu suara?” tanya Adit pada putrinya yang sedang mengatur piring kecil.
“Semua jari di tangan kita beda bentuk dan fungsinya Yah. Mereka bisa erat menggenggam bila bersatu. Kalau mereka berdiri sendiri-sendiri tak akan terjadi genggaman. Begitu pun kami berenam. Kalau semua mau menang sendiri ya tak bisa jadi team. Untuk itu kami harus bersatu agar bisa membentuk formasi genggam,” ucap Gathbiyya.
Para mbok langsung mulai membakar semua sate tentu yang lebih lama adalah sate kambing. Tadi mbok Marni juga sudah beli lontong sengaja tidak bikin karena mereka sedang sibuk.
“Ini lontongnya nggak bikin ya Mbok?” kata Eddy. Dia melihat bentuknya berbeda. Biasanya kalau bikin ukuran lontong dibuat besar, toh nanti dipotong sama saja ukurannya. Kalau lontong beli kan ukurannya kecil standart.
“Iya Pak. tadi beli aja di pasar biasanya memang kan bikin,” jawab Bu Siti.
“Iya beda bentuk saja kalau bikin dengan beli,” jawab Eddy.
Dan juga bu Asih sedang tak ada di rumah. Dia pulang kampung karena kerabatnya ada yang meninggal sehingga jatah pegawai yang bekerja berkurang.
“Bagaimana kabar terkini dari detektif?” tanya Eddy pada Adit.
“Belum ada Pa. Mereka hari ini berpencar satu team ke Majalengka yang satu team ke Ciranjang kota Cianjur. Semoga saja ada pencerahan,” kata Adit yang juga berharap mendapat titik cerah keberadaan Farauq.”
“Seharusnya maghrib ini kan sudah ada kabar Yah. Masa belum ada kabar sih.” kata Dinda yang ikut cemas. Dinda tak bisa membayangkan bila salah satu putranya diculik.
“Semoga sebentar lagi ada kabar,” balas Adit.
Mereka pun lalu langsung fokus pada kegiatan bebakaran yang diprakarsai oleh anak-anak. Tentu saja semua anak sangat senang. Mereka bisa meracik sendiri makanan apa yang mereka inginkan.
“Pak Adit ada telepon.” kata Bu Siti pada Adit.
“Bapak suruh terima di ponsel,” lanjut bu Siti kembali. Dia tadi terima telepon di nomor rumah. Semua sedang di halaman belakang sehingga telepon rumah juga tak ada yang dengar.
“Aduh ponsel saya di kamar. Saya lupa. Oke saya ambil. Nanti saya langsung telepon,” kata Adit. Rupanya barusan ada telepon ke nomor rumah minta Adit suruh menerima telepon entah dari siapa karena bu Siti lupa bertanya siapa peneleponnya.
“Ayah bagaimana sih dari tadi kita nungguin telepon tapi teleponnya nggak dibawa,” keluh Dinda saat mengetahui teleponnya Adit malah ada di kamar tidur mereka.
“Tadi pulang kerja Ayah charge, jadi Ayah lupa,” kata Adit.
Adit langsung menuju kamarnya. Ternyata yang menghubunginya sudah tiga kali adalah detektifnya.