
“Astagfirullah,” kata Santi
“Kenapa San?” tanya Puspa bingung.
“Itu garisnya lurus,” jelas Santi berbisik.
“Ibu, Bapak silakan keluar. Kami akan menangani pasien lebih dulu,” kata seorang suster. Saat itu masuk dokter tergopoh-gopoh.
“Ayo anak-anak. Kita keluar bawa minum dan makanan kalian jadi kalian nggak bengong di luar,” ajak Puspa pada Tarida dan Theresia.
Semarah apa pun Sondang sebenci apa pun dia pada Gultom, tapi mereka pernah saling mencinta. Mereka pernah hidup bersama selama 14 tahun. Tentu saja dia merasa kehilangan bila Gultom meninggal. Saat itu dia mulai terisak.
“Sabar Kak. Sabar,” kata Santi menghibur Sondang.
“Walau aku benci dia, walau aku marah sama dia, tapi rasanya aku belum siap kehilangan dia,” kata Sondang dalam pelukan Santi. Mendengar itu Tarida dan Theresia juga mulai ikut menangis. Mereka juga benci pada papanya tapi belum sanggup kalau harus kehilangan terlebih ingat cerita Wika kemarin.
Puspa memeluk bahu kedua putri Sondang. Dia mengerti keduanya mulai merasa takut kehilangan juga seperti yang Sondang rasakan.
“Coba kalian niatkan dalam hati apa yang akan kalian lakukan untuk papa kalian bila dia mampu lewat dari masa kritis ini. Bila dia bertahan hidup, apakah akan memaafkannya atau terus membencinya?” kata Puspa.
“Coba kalian bayangkan apa yang akan terjadi bila papa kalian tidak ada?”
Tentu saja kedua gadis kecil itu sudah tahu apa yang akan terjadi bila papa mereka tidak ada. Karena walau papa mereka tidak full perhatian seperti Adit, tapi papa mereka tidak sedingin Ajat.
‘Aku bersumpah kalau memang papa bertahan, aku akan maafin dia. Walau aku tahu itu berat, tapi akan aku beri satu kesempatan buat papa,’ kata Icha dalam hatinya.
‘Seandainya papa masih bisa bertahan, aku akan mencoba menerima papa apa adanya. Tapi tetap aku tak akan pernah memaafkan papa!’ kata Tarida. Tentu juga dalam hati.
Sampai kapan pun Rida takkan pernah memaafkan lelaki yang mendua seperti sang papa. Terlebih sang papa sampai tiga. Andai Tarida tahu bahwa papanya akan mengarah ke perempuan keempat!
Adit kaget mendengar berita yang Ajat katakan barusan.
“Aku belum tahu bisa ke sana apa nggak. Tapi Abang akan bilang pada Bu Dinda. Dia sedang sibuk di dapur bersama keenam anak kami. Mereka sedang mencoba resep baru. Aku nggak mau ganggu, kalau aku kasih tahu Dinda pasti dia akan segera menyudahi pekerjaannya. Nanti anak-anak terluka. Jadi Abang akan pantau saja berita dari kamu terus. Kalau mereka sudah selesai bereksperimen baru Abang akan bisik-bisik pada Dinda,” kata Adit.
Sedang Ilham langsung memberitahu di grup five little star. Di group ada Fahrul juga Ajeng dan Wika. Selain itu Ilham juga mengirim pesan pada Bagas meminta doa agar Gultom bisa melewati masa kritisnya. Dia juga menceritakan bahwa tadi garis monitor sempat lurus.
“Apa Bu Dinda sudah tahu?” tanya Ajeng.
“Pak Ajat langsung telepon pak Adit, jadi Bu Dinda pasti sudah tahu,” jawab Ilham.
“Baik aku akan kabari di grup emak rempong tapi aku yakin semua kan kita sudah tahu paling tinggal Velove.”
“Velove sudah aku kasih tahu via pak Bagas. Tapi sebaiknya kamu kasih tahu saja. Takutnya mereka sedang tidak pegang HP salah satunya sehingga bisa saling mengingatkan,” kata Ilham.
“Baik aku akan langsung kasih tahu di grup sebelah.”