
Ayahnya Santi langsung menuju kantor polisi sesuai dengan data yang tadi Ajat berikan. Papanya Ajat sedang ada pengajian rutin, giliran dia sebagai tuan rumah, sehingga dia tidak bisa pergi begitu saja.
“Terima kasih Pak. Kami akan lacak di mana keberadaan dua nomor ini. Kami juga akan segera mencari posisi cucu Bapak,” kata polisi saat menerima laporan ayahnya Santi.
“Mohon dibantu dengan cepat Pak. Kasihan cucu saya. Sudah lima hari hilang. Saya takut dia tidak makan dengan benar. Karena anaknya agak sulit makan bila tidak bersama dengan orang yang dia kenal.”
“Saya mengerti Pak. Saya juga punya anak seperti itu,” kata sang polisi.
“Benar, makanya saya minta tolong agar cucu saya segera ditemukan. Sekarang ibunya masih drop di rumah sakit, karena memikirkan anaknya yang hilang. Padahal anak saya tersebut sedang hamil. Jadi dia tidak boleh ke mana-mana takut kandungannya bermasalah.”
“Wah ibunya sampai drop seperti itu Pak?” kata polisi lain yang mendengarkan laporannya ayahnya Santi.
“Ya sejak hari pertama dia langsung drop dan sekarang dirawat di rumah sakit. Itu sebabnya saya yang lapor karena suaminya menemani sepanjang hari di rumah sakit.”
“Akan kami prioritaskan penanganan kasus cucu Bapak ini,” jawab polisi tersebut.
Ajat berharap banyak dari detektif yang Adit sewa. Tentu dia akan memberi bonus sedikit kepada detektif tersebut bila kasus ini selesai.
Hari ke-6 belum ada perubahan dan belum ada yang tahu di mana Farouq berada Mischa masih sekolah dan pulang sekolah dia ke rumah sakit sesuai dengan izin dari maminya kemarin.
“Sebentar ya Mi. Papi terima telepon dulu,” kata Ajat. Dia sedang menyuapi Santi. Ajat kaget menerima panggilan dari nomor telepon rumah. Ajat takut ada khabar buruk yang membuat pembantu di rumah menghubunginya.
“Terima telepon di sini saja Pi,” kata Santi.
“Kadang di sini sinyalnya jelek Mi. Putus-putus. Lebih baik Papi keluar sebentar,” kata Ajat. Dia tahu dari telepon rumah kemungkinan ada khabar penting. Dia tak berani menerima telepon di depan Santi. Bisa bahaya buat kesehatan.
“Ya udah sini Mami makan sendiri. Bisa kok,” akhirnya Ajat pun memberikan piringnya ke Santi karena istrinya sudah tidak diinfus lagi.
Mischa baru saja pulang, jadi dia mungkin masih dalam perjalanan tak mungkin terjadi sesuatu. Tetapi bisa saja Mischa celaka di jalan. Itu yang Ajat pikirkan. Dia sangat takut terjadi hal-hal yang di luar perkiraannya.
Sebenarnya buka Mischa penyebab pembantu menghubungi Ajat. Habis maghrib pembantu di rumah bingung ketika ada tamu memencet bel rumah.
Pembantu membuka pintu dan melihat sosok orang tak dikenal juga Farouq yang kondisinya sudah sangat lemah dalam gendongan orang itu.
“Ya Allah den Farouq,” kata para pembantu. Mereka langsung memeluk dan menggendong Farouq dibawa masuk.
“Maaf. Bapak siapa?” Tanya seorang pembantu yang menemani tamu tersebut.
“Orang tua anak tersebut ada Bu?” tanya sang tamu tak menjawab dengan identitas malah bertanya tentang orang tua Farouq.
“Papi dan maminya di rumah sakit. Saat Farouq hilang maminya langsung drop dan dirawat sampai sekarang belum keluar dari rumah sakit,” kelas sang bibik.
“Bisa minta nomor teleponnya agar saya bisa bicara dengan mereka?”
“Bapak masuk saja yuk. Langsung bicara dari nomor rumah saja, karena kalau dari nomor Bapak pribadi saya takut Pak Ajat tidak bisa terima langsung. Mungkin dia pikir bukan hal penting jadi dia akan tunda semua pembicaraan. Dia takutnya rekaman bisnis yang menghubungi.”
“Baik Bu. Boleh saya bicara dengan beliau ya,” jawab si tamu itu.
“Silakan masuk, saya hubungi Pak Ajat ditelepon.” Telepon ini yang Ajat terima.