GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
ALASAN MAKAN BANYAK IBU HAMIL



“Ini sengaja ngejek aku kan?” kata Santi melihat beberapa pelepah daun pisang digelar di karpet plastik. Dia sudah tahu pasti makanannya adalah sambal lalapan dan ikan atau ayam goreng.


Dinda sengaja menyiapkan 5 pelepah daun pisang diatur nasi dalam bulatan-bulatan kecil yang dicetak dengan mangkok,  sehingga tidak diaduk-aduk. Ada banyak ayam serta ikan bakar bukan di goreng seperti dugaan Santi. Yang terutama ada cobek-cobek kecil dari tanah liat yang berisi sambal. Jadi sambalnya disajikan di cobek-cobek kecil lengkap dengan asesori ulekannya sebagai pemanis.


“Kenapa ngejek kamu Yank?” tanya Ajat.


“Mereka akan lihat aku dan ngatain aku, kalau aku makannya sangat banyak,” kata Santi sambil nyengir.


“Betul. Kamu pasti akan bilang alasannya kamu lagi hamil kan?” ejek Puspa.


“Iya tuh, paling gitu tuh bumil. Itu alasannya rakus karena hamil padahal memang dia rakus,” kata Wika.


Suami Wika hanya senyum-senyum, memang dia orang yang tak banyak bicara.


Tadi para bapak sudah ngobrol tentang hewan peliharaan yang ada di sana. Oleh Adit mereka juga dipersilakan kalau mau ngajak anak-anaknya main ke situ tanpa harus lapor pada Adit dan Dinda. Tinggal minta kuncinya saja. Silakan karena itu memang bebas untuk siapa pun.


“Ini kenapa sayurannya menggoda imanku semua?” kata Santi. Dia melihat ada daun poh-pohan, ada aneka lalapan seperti timun, selada dan sebagainya. Tapi yang membuat Santi heboh adalah daun poh-pohan dan leunca mentah. Karena jarang yang suka. Tetap saja ada lalapan matang seperti daun singkong dan daun pepaya yang direbus, tapi kacang panjang, kol dibiarkan mentah.


“Wah pertemuan berikutnya aku pengen bikin karedok,” kata Velove.


“Kayak sudah tau saja tempat pertemuannya di mana,” jawab Puspa.


“Aku kalau ketempatan, mau di sini juga tempatnya,” kata Velove.


“Wah asyiik, aku bakal dapat biaya sewa green house,” jawab Dinda.


Semua tertawa mendengar seloroh Dinda.


“Nggak mau. Aku di sini aja dekat opung sama Tarida.” balas Mischa.


Padahal anaknya Velove pun sekelas dengan Tarida tapi ternyata Tarida langsung dekat dengan Mischa. Mungkin karena sudah terbiasa ngobrol di kelas, jadi mereka sudah biasa saja. Kalau dengan Mischa kan teman baru dan jarang berjumpa.


“Ya sudah kalian dekat opung, kalau makan ikan biar opung bantu ya. Kalau pakai ayam kalian sudah bisa,” kata Santi yang mengkhawatirkan putrinya.


“Mischa dekat Bunda kok. Nanti kalau mau makan ikan biar Bunda yang ambilin ikannya,” kata Dinda. Karena kebetulan Mischa duduk di seberang dia dan Biyya.


“Aduh anak laki-laki siapa yang jagain ini?” kata Adinda.


“Yah tolong pantau anak-anak, ikan bakarnya perhatikan ya. Takut ada durinya,” kata Dinda.


“Iya nanti Ayah bantuin, tapi mereka sudah biasa sih. Pasti nggak akan apa-apa,” kata Adit tersenyum. Dia tahu istrinya selalu ketakutan anaknya keselek duri ikan.


“Ghaylan dekat Kakek koq, tenang saja,” kata Eddy.


Semua orang dewasa di situ tahu, semua anak diperhatikan oleh Dinda dengan saksama.


“Kami sudah bikin untuk yang kecil-kecil ada sup loh. Soup cream. Mungkin mereka pakai sup krim saja kalau nggak bisa dengan makanan kita yang dewasa,” kata Dinda pada Ajeng, Wika, dan Puspa yang masih punya anak batita. Bahkan ada yang di bawah 1 tahun.


“Kami bawa sih menu makannya dia, tapi nggak apa-apa tadi aku juga sudah lihat soup cream-nya. Kayaknya anakku suka,” kata Wika.


“Iya memang aku bikinkan soup cream nggak kita tawarin sini karena memang cuma satu panci kecil buat anak-anak yang balita saja. Kalau untuk yang dewasa nggak cocok soup cream dengan menu sambal lita siang ini.”


“Ayo sudah silakan makan. Nggak usah saling tunggu. Kakek dan teman-temannya silakan,” kata Dinda memberikan tanda kedua tangan ditangkupkan depan dadanya, memberikan tanda selamat makan kepada Eddy dan teman-temannya.