
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Terima kasih ya Mas,” kata Dinda sebelum turun dari mobil Dirga.
“Kapan bisa bertemu lagi?” harap Dirga.
“Aku enggak tahu, tapi silakan aja hubungi kalau memang waktunya pas. Mungkin kita bisa ketemu,” jawab Dinda.
“Aku ingin ketemu bukan jam kerja kamu,” jawab Dirga.
“Kalau begitu hubunginya jangan hari Senin sampai Jumat, kan tahu hari kerjaku hari itu. Dan mungkin minggu-minggu depan aku sudah mulai sibuk dengan sekolah anak anak,” jawab Dinda.
“Aku sudah pindah sekolah anak-anak di daerah sekitar sini,’ jelas Dinda.
“Jadi pagi aku antar mereka dulu baru aku berangkat kerja.”
“Kamu enak ya selalu bekerja seperti itu, waktumu lebih fleksibel. Dulu kamu punya toko grosir sendiri sehingga bisa kapan pun mengurus anak-anak. sekarang kembali ke perusahaanmu, kamu juga bisa atur waktu kerja.”
“Kan sudah aku bilang orientasi hidupku hanya untuk anak-anak. Aku memang cari uang buat anak-anak, walau begitu waktu untuk anak-anak itu lebih dari segalanya. Aku enggak bisa kalau harus seperti orang-orang lain yang meninggalkan anak-anak. Mereka bisa seperti itu, tapi aku tidak,” kata Dinda.
Dinda tak sadar bahwa telah menohok mantan istrinya Dirga yang tak peduli meninggalkan anaknya untuk pergi dengan orang lain.
“Ya sudah sampai jumpa,” kata Dirga.
“Ya sampai jumpa lagi,” jawab Dinda, dia langsung turun di lobby karena memang Dirga menurunkannya di lobby kantor.
Dari dalam Adit melihat mantan istrinya turun dan melambai pada dokter yang memang di tahu sangat mengejar cintanya Dinda.
“Loh sudah pulang Yank?” tanya Adit. Dia berupaya tidak marah dan tidak memperlihatkan sikap cemburu lagi.
Tentu saja Adit terluka. Tadi saat Dinda tinggal pergi Eddy sudah memberitahu bahwa Adit harus segera meninggalkan ruangan Dinda, karena Dinda tak mau satu ruangan dengan dirinya.
“Yank, Mas mau bicara,” kata Adit lembut di dalam ruangannya Dinda.
Dinda tak peduli, dia langsung memeriksa semua berkas yang ada di dalam email di cocokkan dengan berkas yang ada di mejanya.
“Yank,” ucap Adit lagi.
“Anda mau bicara apa Pak Adit? Kalau masalah personal, maaf ini jam kerja, saya tidak ada waktu untuk bicara dengan anda,” kata Dinda tegas. Lalu dia kembali menekuni berkasnya.
Adit sangat terpukul dengan perkataan Dinda itu. Dia tahu dia sangat salah waktu marah tidak menggubris pesan Dinda soal mengapa dia ditinggalkan.
“Please Yank, dengerin Mas dulu,” pinta Adit sendu.
Dinda tetap tak peduli.
“Mas tahu Mas salah cemburu waktu dengar kamu menerima telepon dari dokter tersebut tadi pagi. Maafin kesalahan Mas. Maksud Mas bukan mau cuekin kamu Yank.”
Kesal dengan Adit yang terus bicara Dinda menutup berkas lalu mengambil ponselnya juga kunci mobil. Dinda langsung pergi meninggalkan kantor, Dinda langsung pulang tak peduli dengan Adit.
Adit tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia pun membereskan barang-barangnya untuk pindah ke ruangannya karena tadi Eddy sudah memberi ultimatum bahwa Dinda tak ingin satu ruangan lagi dengannya.
“Kamu benar-benar membalas cubitan ku dengan dua kali tamparan Yank,” kata Adit pelan sambil terus membereskan berkasnya.
Gara-gara dia cemburu pada saat Dinda menerima telepon malah sekarang dia yang menerima dua kali tamparan. Satu tamparan dia langsung diusir dari ruangan kerja Dinda dan tamparan berikutnya adalah Dinda tak mau lagi bicara padanya mengenai apa pun. Adit merasa akan semakin sulit buat mendekati Dinda kembali. Terlebih sekarang Dinda marah dan meninggalkan kantor tanpa pamit pada dirinya apalagi pada Eddy.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok