
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Sayangnya saya menolak Bu. MOU kita juga batal,” Adit langsung mengambil kertas MOU dan dia robek.
“Apa maksud Anda? Kenapa Anda robek MOUnya?”
“Saya putra tunggal CEO ALKAVTA PRIMA MAJU dan ini istri saya sebagai wakil CEO-nya. Mohon maaf Bu kerja sama kita batal di ujung tombak. Ternyata saya tahu niat Ibu mendekati perusahaan bukan untuk kerjasama tapi cari brsan. Walau anak Ibu cantik. Walau anak ibu lulusan S2 tapi kalau dijajakan seperti kue apem itu nggak ada harganya Bu.”
“Ibu bawa ke mana-mana. Ibu promosikan seperti barang yang tak ada harganya itu menjatuhkan harga diri anak Ibu dan harga diri Ibu sendiri. Di mata kami Ibu enggak ada apa-apanya,” Adit langsung berdiri dan meninggalkan meja itu.
Dinda masih senyum-senyum di depan bu Rahma yang bengong melihat Adit meninggalkan meja.
“Anda benar istrinya pak Adit dan anda benar wakil CEO ALKAVTA PRIMA MAJU?” tanya bu Rahma tak percaya. Sejak tadi dia bicara menawarkan anaknya di depan istri lelaki yang ingin dia bidik sebagai menantu.
“Betul Bu dan bu Dinda pemilik saham ALKAVTA PRIMA MAJU. Saham bukan milik CEO-nya atau pun milik Pak Adit,” kata Bagas.
“Jadi walaupun anak Ibu bisa jadi istrinya pak Adit tetap saja semua di tangan Bu Dinda,” jelas Bagas sambil membereskan sisa-sisa kertas yang sudah disobek Adit. Biar bagaimana pun sobekan itu tidak boleh tertinggal di rumah makan tersebut. Jadi tetap akan Bagas bawa pulang.
“Selama ini kamu diskusi itu bagaimana?” tanya Dinda di mobil menuju rukonya
“Selama ini enggak ada masalah kok. Pembicaraan juga lancar aja, enggak pernah dia bawa anaknya atau bicara perjodohan,” kata Adit yang tidak curiga.
“Kalau tidak karena keinginanmu pergi ke ruko tentu aku bertemu tanpa kamu ya?” Kata Adit.
“Tanpa aku kan sama Bagas dan Shindu. Enggak apa-apa lah. Kalian bertiga enggak mungkin enggak bisa meredamnya,” hibur Dinda. Dia tahu suaminya super kesal akan kegagalan proyek kali ini.
“Tapi kan nanti dikira macam-macam.”
“Enggaklah, kalau sudah sama Shindu dan Bagas aku percaya.”
“Cuma keqi aja 2 bulan nyiapin semua proposal, sampai hitung-hitungan njelimet. Hasilnya kayak gitu tadi,” kata Dinda.
“Maaf ya kamu sudah capek tapi malah aku robek,” Adit tak tega, karena walau tak pernah ikut pertemuan, tapi Dinda selalu terlibat dalam diskusi intern proyek ini.
“Enggak apa-apa, aku sih seneng kalau batalnya karena itu .Tapi kan keqi hasil kerja kita jadi sia-sia,” sesal Dinda.
“Iya juga sih, di detik terakhir dia mau ngumpanin anaknya, jelas-jelas dia bilang pengin jadiin kalian bersatu.”
“Kamu bawa apa Ve?” Dinda bertanya pada Velove yang datang bawa bungusan besar.
“Lihat deh aku nemu asinan Bogor. Aku langsung beli banyak pasti semua juga suka,” kata Velove. Dia baru turun dari ojek online.
“Wow aku pasti suka ini, aku buka duluan,” kata Dinda. dia langsung membuka satu bungkus asinan sayur dari Bogor.
“Ih keren banget kamu dapat ginian di mana sih?”
“Temanku kemarin ke Bogor aku pesan memang banyak karena aku tahu hari ini kita mau pertemuan jadi aku pesan ekstra 10 bungkus untuk aku bawain ke kamu sama Puspa.
“Apa tuh nyebut-nyebut nama aku?” kata Puspa yang baru datang dia bersama si sulung.
“Kamu tuh denger aja kalau namamu disebut, ini lho Velo bawain asinan bogor.”
“Pas itu, aku dengar ada yang lagi hamil lagi ya?” kata Puspa.
“Ibu bos kita hamil lagi,” kata Velove.
“Hebatlah pokoknya,” jawab Puspa. Dia senang bergaul dengan Velove dan Dinda itu tidak ada perbedaan atau pembedaan kelas. Tidak ada istilah bos dan pegawai, padahal Velove dulu adalah supervisornya.
Mereka bertiga dianggap setara bila mengemukakan pendapat, tidak ada bos atau anak buah begitu pun dengan para pegawai di ruko ini. Puspa sering ke ruko ini untuk mengambil barang. Dia sekarang ambil sendiri, tidak dikirim lagi tapi dia pilih sendiri lalu dia packing sendiri. Berkat usahanya Puspa sekarang sudah punya motor.
Anaknya dibonceng di depan dengan kursi tambahan di motornya, tentu dengan jaket dan helm. Si adik kecil dijaga oleh ibu di rumah.
Ibunya Puspa sangat bersyukur karena Dinda telah menolong mereka dengan memberikan pancing bukan memberikan uang atau yang disebut sebagai ikan. Kalau diberikan ikan langsung habis.
Puspa memang tidak pernah keluar kecuali ke ruko walaupun punya motor. Kalau pergi ke supermarket atau pergi ke mana pun bersama ibu dan kedua putranya. Dia tidak mau ada rumor buruk bahwa dirinya janda muda yang kegatelan.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok.