GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
ADIT TERPERANGKAP



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



Sesuai janji hari ini Adit ke kantornya Meliana. Begitu masuk ruangan Meliana Adit langsung tahu kalau Meliana tercium sangat harum dengan ekstra parfum. Walau parfum mahal dan lembut, tapi bila dipakai berlebihan tetap saja bikin pening.



Meliana berpakaian agak sedikit terbuka d@danya dan belum ada kopi saat itu. Tak seperti sebelumnya kopi sudah tersedia.



Adit mengitari ruangan melihat apa foto di ruangan itu



“Wah ini kapan? Fotonya keren banget,” kalau diperhatikan kata-kata Adit, lelaki itu memuji fotonya bukan kecantikan Meliana dalam foto tersebut.



“Kamu dapat penghargaan di mana?” tanya Adit selanjutnya.



“Itu waktu aku di kampus,” kata Meliana dengan bangganya. Dia sedang meracik kopi yang akan dia hidangkan buat Adit.



Adit pindah ke sisi lain yang berseberangan lalu dia melihat sesuatu di sana kemudian pindah ke sisi lain sebelum balik ke tempat duduk.



 Adit mengangguk tiga kali, entah pada siapa.



“Kamu suka kopi apa?” tanya Meliana.



“Loh waktu itu kamu sudah kasihin aku kopi, kenapa sekarang pakai tanya? Berarti kan kamu tahu aku seleranya apa,” Adit menjawab dengan diplomasi.



“Oh sorry sekarang mau aku bikin Cappucino atau vanilla latte?” tanya Meliana.



 ”Cappucino boleh, yang banyak krimnya,” kata Adit karena Melianan bukan membuka kopi instant. Maka dia pesan banyak krimnya.



Meliana pun membuat kopi sesuai dengan permintaan Adit.



Adit langsung menyeruput kopi yang diberikan untuk dirinya dari Meliana tanpa ragu.



Adit langsung meletakkan cangkirnya karena takut cangkir terjatuh dari tangannya yang akhirnya tumpah. Adit merasakan pusing yang tak bisa dia tahan. Sedikit kencang dia pijat keningnya agar bisa menghilangkan sakit kepala tiba-tiba.



“Loh kepala aku kenapa?” Adit bersuara sedikit keras karena kepalanya sangat pening.



“Kamu kenapa?” tanya Meliana tak mengerti mengapa Adit pusing tiba-tiba.




“Gila enggak nyangka ya sampai kayak gitu,”  ibu-ibu yang menunggu anak-anak di ruangan kelas kaget melihat tampilan layar handphone yang tadi diberikan oleh seorang lelaki yang sekarang sedang terlihat pingsan dan jadi santapan keganasan Meliana di ruang kerjanya.



Begitu pun di ruang satpam. Tiga satpam kaget tak percaya melihat layar monitor ponsel yang tadi juga diberikan pada mereka dengan pesan agar diperhatikan terus apa yang akan terjadi di ponsel itu.



 Semua yang melihat layar ponsel itu melihat sepak terjangnya Meliana dengan jelas. Seorang ketua yayasan pendidikan dengan tingkah yang tak patut. Dari mulai meracik kopi sampai dia membuka bajunya tamunya untuk dia raba dan ciumi tubuh serta pastinya bibir lelaki itu habis dia lu-mat.



Satpam yang melihat video CCTV di ponsel yang tadi diberikan seorang bapak wali murid yang sekarang jadi korban Meliana langsung berlari menghampiri resepsionis dan bercerita apa yang terjadi di ruang ketua yayasan mereka. Tentu saja resepsionis bingung



 Jadi kita harus bagaimana tanya resepsionis bingung mau bertindak bagaimana. Karena dari ruang kelas juga ada seorang ibu yang berteriak kalau ketua yayasan berbuat tak senonoh diruangannya membuat semua penunggu siswa yang tidak berada di kelas jadi kaget dan mulai ribut.



 ”Kita langsung gedor aja yuk ruangan Ibu Melia,” kata satpam.



Saat itu di 3 ruang belajar anak-anak heboh karena sebelum masuk ke ruangan Meliana Adit sudah memberi tiga ponsel ke ruang belajar di tempat ibu-ibu ibu.



“Ibu mohon bantu saya, sebentar lagi lihat video yang akan live di ponsel ini. Ibu perhatikan di sini sebentar lagi,” begitu tadi yang Adit pesankan pada tiga ibu di tiga kelas berbeda.



Memang Adit yang memberikan tiga ponsel yang terhubung dengan CCTV pada para ibu. Adit juga memberikan satu ponsel pada pak satpam. Dan sekarang 3 ponsel itu langsung menyebarkan kejahatan atau kenakalan Meliana. Para ibu hyang memegang ponsel langsung membagikan kepada semua orang tua di WAG orang tua. Satu di kirim, tentu langsung merembet ke media sosial.



Satpam menggedor ruang Meliana bersama resepsionis juga beberapa orang tua siswa. Meliana tentu kaget ruangannya digedor. Dia sedang bahagia bisa memiliki Adit walau Adit pasif. Meliana sedang merekam semuanya dan nanti akan dia edit agar terlihat Adit aktif membalas serangannya seakan mereka bercumbu mau sama mau.



“Ada apa?” tanya Meliana setelah membetulkan baju dan merapikan baju Adit.



“Kelakuan Ibu sudah tersebar di seluruh orang tua siswa Bu. Dan selain itu juga orang tua siswa sedang membagikan kan video Ibu sejak Ibu meracik kopi yang Ibu tambahkan obat tidur, sampai Ibu menciumnya bapak itu,” jelas Satpam sedang Meliana melihat selain satpam di belakangnya banyak para orang tua siswa yang memandangnya dengan tatapan ji-jik.



Meliana tentu kaget melihatnya. Saat itu datang Eddy, Bagas dan dua orang laki-laki ke kantor Meliana untuk membawa pulang Adit yang masih tak sadar.



Para orang tua melihat bagaimana tiga orang lelaki mengangkat Adit yang masih tak sadarkan diri dan mereka membuat videonya dan meng-unggah ke media sosial dengan caption korban ibu ketua yayasan masih pingsan dan dibawa pulang.



Tak terlihat Dinda di sana, tapi Dinda sudah menang 10-0 dari Meliana. Yayasan hancur begitu ketahuan bagaimana kelakuan Meliana melakukan pelecehan pada orang tua siswanya.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok