
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Sehabis lihat koala Adit membawa putra-putranya untuk melihat Jerapah, macan, gajah, Playtipus, dan Kanguru.
Satu hal yang tidak bisa dilewatkan di Taronga Zoo adalah aksi pertunjukan hewan. Aksi yang dilakukan oleh singa laut dan anjing laut dengan gerakan yang sangat anggun. Ada juga aksi dari hewan lain yang sangat dinikmati oleh Ghibran dan Ghifari. Saat pulang sore hari anak-anak sangat lelah tapi mereka senang melihat semua yang ada di kebun binatang tersebut. Ketika pulang si kembar sudah tidak kuat membuka mata.Ketika naik ferry, Ghibran dan Ghifari sudah terlalu lelah satu digendong Adit, satu digendong Dinda. Dinda tak membolehkan Eddy menggendong putranya karena takut nanti Eddy terlalu lelah.
“Buat makan malam mau mampir atau makan di hotel aja Din?” tanya Eddy pada menantunya.
“Di hotel aja Pa, kasihan anak-anak kalau mampir-mampir,” Dinda memutuskan mereka makan di hotel saja.
“Kita mau makan di lobby atau di kamar aja?” tanya Adit.
“Di kamar aja Mas, biar nanti anak-anak kita basuh lalu kasih makan biar mereka tidur lagi. Kalau kita makan di bawah mereka tentu sudah tak niat makan,” jawab Dinda.
“Oke,” Kata Adit. Lalu dia pun memesan makanan minta diantar ke kamarnya Dinda.
“Papa tidur di mana?” tanya Dinda.
“Kita satu hotel beda lantai saja. Kami satu lantai di atas kamu,” kata Eddy. Dia membawa ransel pakaian anak-anak.
“Oh kirain lain hotel,” balas Dinda. Tentu dia tak menyangka Adit bisa satu hotel dengannya.
“Nggak kok, Adit sudah tahu hotelnya. Hanya belum tahu nomor kamarmu. Saat pesan tart kami menunjukan identitasmu baru pihak hotel kasih tahu nomor kamarmu.” jelas Eddy.
“Kok bisa tahu?” tanya Dinda pada Adit. Adit hanya tersenyum tak menjawab.
“Papa juga enggak tahu kok dia bisa tahu kamu ada di hotel ini. Mungkin kamu tercecer pesanan atau tanda bukti pemesanannya,” kata Eddy.
“Enggak kok Pa, semuanya via email. Enggak ada yang aku buka di luar sebelum sampai di sini. Sampai di sini aja aku enggak kasih tahu posisi aku ada di mana,” bantah Dinda.
“Sudahlah enggak usah dibahas,” jawab Adit. Lelaki itu tentu tak mau rahasianya terbongkar dari mana dia bisa tahu alamat lengkap dan posisi anak-anaknya.
Setiba di kamar hotel Adit langsung membasuh tubuh kedua putranya dengan handuk basah yang Dinda siapkan. Dinda memberikan Adit handuk basah dengan air hangat untuk membasuh kedua putranya yang masih terlelap tidur karena terlalu kelelahan.
Eddy ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, Adit minta dibawakan satu setelan pakaian buat tidur.
“Ada yang pencet bel. Coba kamu lihat itu Papa atau room service. Tadi Mas sudah pesan makanan,” kata Adit.
“Masa papa cepat banget, bukannya papa mandi dulu ya?” kata Dinda.
“Ya enggak tahu, coba aja lihat. Atau Mas aja yang lihat, kamu rampungin pakai baju anak-anak,” perintah Adit.
“Itu lebih baik. Mas aja yang lihat. Kalau buka kamar begitu aku suka serem,” kata Dinda.
Adit pun membuka pintu, ternyata yang datang adalah dari room service mengantar makanan yang dia pesan buat makan malam mereka hari ini.
“Mas pesenin apa buat makan malam mereka?” tanya Dinda.
“Kalau sudah kayak gini mereka cuma mau fried chicken sama french fries kan?” kata Adit.
“Jadi Mas pesenin itu agar mereka mau makan. Ada soupnya juga sih. Tadi ayam Mas beli yang fillet jadi enggak ada tulang juga ditambah udang tepung.”
“Oh kalau kayak gitu mereka pasti mau makan. Kalau disuruh makan nasi atau yang lainnya lagi ngantuk pasti mereka ribut nggak mau,” jawab Dinda.
Akhirnya kedua kembar dibangunkan oleh Adit dan dibujuk untuk makan. Mereka makan walau malas, tapi tetap bisa masuk karena makanannya yang mereka suka yaitu ayam goreng, udang goreng juga kentang goreng. Kalau disuruh makan nasi dengan segala macam itu mereka enggak akan masuk.
‘*Dia sebegitu tahu kemauan anak-anak, dia sebegitu hafal apa yang anak-anak suka bila sedang mengantuk. Apakah sosok ini juga akan aku buang*?’ pikir Dinda melihat bagaimana Adit telaten menemani dan membujuk anak-anak untuk menghabiskan makan malam mereka. Sesekali Dinda melihat Ghifari dan Ghibran menyuapi ayah mereka.
Saat itu Eddy baru datang membawa baju gantinya Adit. Eddy sudah rapi sehabis mandi.
“Makan duluan Pa,” tawar Dinda sambil menyerahkan tehh panas dengan madu yang Dinda pesan.
“Enggak apa apa,” jawab Eddy.
“Kami masih nungguin si kembar selesai Pa,” jelas Dinda.
“Enggak lah. Santai aja, kita makan bareng nanti,” jawab Eddy
Selesai makan anak-anak dibiarkan menonton televisi tentang hewan Australia. Mereka senang karena tadi sudah melihat hewan itu secara langsung.
Adinda sedang mandi. Eddy mendampingi cucunya menonton siaran hewan tersebut. Sedang Adit melihat hasil foto yang tadi mereka ambil. Tak semua foto Dinda yang ambil. Karena banyak juga Eddy atau Adit yang ambil.
Tak lama kemudian Ghibran dan Ghifari tertidur di depan televisi mungkin karena sudah kenyang dan juga terlalu lelah
“Besok sebaiknya kita tempat yang dekat aja enggak usah terlalu jauh karena anak-anak masih lelah,” sambil makan Eddy bicara soal tujuan wisata esok hari.
“Iya Pa, besok kita ke SEA LIFE atau tempat bermain air aja.” jawab Dinda sambil mengambilkan lauk tambahan untuk Adit.
“Lebih baik yang ke SEA LIFE aja Yank. Ruangannya ber-ac jadi anak-anak nggak terlalu capek,” Kata Adit.
“Oh iya boleh, itu juga boleh. Enggak apa-apa kita ke sana,” Dinda menyetujui. Tadinya kalau tak ada Eddy dan Adit memang tujuannya paling ke tempat seperti itu.
“Memang Papa di sini sampai berapa lama?” tanya Dinda pada Eddy. Sebenarnya itu ditujukan untuk Adit.
“Kami akan pulang bareng kamu,” jawab Adit tegas.
Dinda tak bisa menjawab, karena itu tandanya kalau dia bertahan di situ mereka pun akan bertahan di situ.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok.