
“Jadi fix ini keinginan kalian?” tanya Adit pada putra dan putrinya. Dia dan Dinda sudah nge print daftar yang anak-anak inginkan. Dia dan Dinda masing-masing memegang data itu.
“Iya Yah, itu yang kami inginkan,” jawab Gathbiyya sambil menuang su5u coklat hangat ke mangkuknya yang berisi oatmeal dan potongan buah alpokat untuk sarapannya pagi ini.
“Oke habis sarapan Ayah mau ajak kalian dan kakek ke depan sebentar. Nanti atau besok baru kalian beli sama kakek ya list hewan yang ingin kalian cari ini,” ucap Adit. Memang kemarin dia dan Dinda bertanya, bila mereka diperbolehkan memelihara binatang, hewan apa yang mereka inginkan?
“Oke,” jawab Gathbiyya lagi. Mereka pun makan sambil bercengkerama.
“Kita mau ke mana?” tanya Eddy karena dia lihat anak dan menantunya tidak mengeluarkan mobil sama sekali, juga mereka hanya menggunakan sendal, celana pendek serta kaos tanpa berganti pakaian.
“Ayo kita ke depan saja,” ajak Dinda dia menggandeng Ghazanfar dan Ghaylan. Karena Gathbiyya tak mau dia gandeng.
Ghaidan gandengan dengan kakeknya. Tak ada yang mau gandengan dengan Adit yang kadang masih tak ingat langkah anak-anak tak sepanjang langkah yang dia buat.
Hanya menyeberang dan dari depan rumah mereka lalu ke kiri sedikit dua rumah sampai mereka ke green house. Saat semua sudah berdiri di lokasi yang hanya terlihat kawat kecil menutup semua area itu, Adit membuka plang dengan menarik tali yang sudah tersedia di depan.
Semuanya membaca plang nama lokasi tersebut GREEN HOUSE ALKAVTA!
“Nggak salah?” kata Eddy yang sangat kaget melihat bahwa bangunan yang selama ini dia lihat dari ujung rumah adalah sebuah green house milik anak-anaknya.
Tentu saja ke-6 anak Adit antusias, mereka minta kakeknya cepat-cepat membuka green house itu. Sejak tadi mereka sudah mendengar suara cericit burung.
“Bismillahi,” Eddt membuka pintu dan ke enam cucunya nyerobot masuk duluan.
“Kok ada pintu lagi di dalam?” kata Ghaidan.
“Kalau pintunya hanya satu nanti ada hewan yang lolos terbang atau lari menghampiri kita lalu keluar jadi memang sengaja dibuat pintu double seperti ini. Seperti tadi kalian berebut masuk. Kalau tak ada pintu double tentu banyak burung cari kesempatan keluar,” jawab Adit dengan tersenyum. Dia bangga ada pertanyaan kritis seperti itu. Artinya anak-anak peka terhadap keadaan sekeliling.
“Oh iya juga ya,” kata Ghifari dan Ghibran hampir bersamaan.
Saat masuk ke arena, sudah mendengar suara burung yang entah-berantah. Ada burung sawah atau burung emprit, ada burung gelatik yang memang tak ada suaranya, burung liar yang biasa jadi hama petani. Tapi memang dibeli Dinda untuk membuat freen house terkesan alami. Banyak burung kutilang, prenjak, burung cipow, burung tekukur, burung crocokan yang membuat rame.
Memang Dinda sengaja membeli burung-burung murah seperti jalak dan kutilang untuk membuat ramai lahan itu kalau untuk burung cantik Dinda sudah membeli parkit dan lovebird juga burung betet. Adit ingin beli burung kakak tua tapi kemarin belum sempat sudah keburu sore. Baru semalam Adit dan Dinda melepas semua burung sepulang kerja mereka belanja burung-burung itu.
“Ini apa?” tanya Ghibran melihat ada tiga kotak dari triplek yang dilapisi lakban dan isinya daun jati serta pasir saja.
“Itu peternakan jangkrik untuk pakan burung di sini. Jadi kita bikin sendiri. Begitu sudah menetas dan sudah agak besar kita bebaskan jangkrik-jangkrik tersebut di alam. Nanti kita biarkan beberapa indukannya saja yang ada di dalam kotak tersebut untuk selalu bertelur. Begitu seterusnya jadi kita tidak selalu beli jangkrik untuk pakan burung bebas,” ucap Adit.