
“Jadi itu alasan kalian benci sama papa kalian” tanya Opung Gultom ( biasa disebut nama anak atau cucu untuk menyebut nama ibu atau nenek seseorang ).
“Ya. Kami benci pembohong. Kalau memang dia punya istri lain, jangan bilang cuma cinta sama kita saja. Buktinya dia juga bisa menikah sama yang lain. Artinya memang papa bohong kan? Papa juga cinta sama mamanya Marry dan yang lagi hamil itu,” balas Tarida.
“Ada banyak hal yang membuat seseorang itu menikah, belum tentu karena cinta. Bisa karena balas budi. Mungkin seperti papamu, dia tidak cinta Mama. Dia hanya balas budi. Bisa saja kan? Karena papamu kuliah dan pengobatan opungmu dulu dari uang keluarga Mama,” kata Sondang pedih. Membayangkan kalau Gultom selama ini tak mencintainya makanya mudah berpaling pada yang lain. Padahal sampai Tarida kelas 3 SD tak ada masalah sama sekali. Masalah ada begitu Gultom kenal Pricilla dan perempuan itu mau dinikahi sebagai istri kedua. Perempuan itu SADAR Gultom sudah punya istri dan mereka menikah tanpa izin istri pertama serta tak ada keluarga Gultom sama sekali.
“Bisa juga karena terpaksa. Misalnya zaman dulu ada pernikahan yang diatur oleh orang tua. Jadi pengantinnya tidak tahu apa-apa. Langsung bertemu di altar pernikahan.”
“Ada banyak hal lain sebagai alasan pernikahan. Nanti kalian akan ketahui kalau sudah dewasa,” tentu tak mungkin Sondang memberitahu tentang kawin kontrak, atau karena iseng lalu hamil misalnya kan nggak mungkin.
“Aku bukan anak kecil Ma. Papa bilang DIA HANYA CINTA MAMA DAN KAMI BERDUA. Jadi dia bukan nikah karena balas budi pada Mama. Kalau dia menikahi ibunya Marry bukan karena cinta, lalu apa alasannya? Lalu ke tante satunya lagi itu juga, apa alasannya? Iseng? Kasihan? Sayang? Dijodohkan seperti tadi Mama bilang?” kata Tarida emosi.
“Kalau benar papa hanya mencintai Mama dan kami. Tapi dia menikahi dua tante itu. Artinya dia bohong kan pada dua tante itu? Tetap saja kan papa pembohong? Kami tak mau jadi anak seorang pembohong seperti dia!” tajam ulasan Tarida.
“Apa pun caranya, tak bisa kamu hapus darah papamu dalam dirimu. Marga mungkin bisa kau ganti. Tapi darah papamu itu sudah takdirmu,” ucap Sondang pelan. Dia tahu kedua putrinya sangat kecewa. Gultom sudah menikam jiwa anak-anak sedemikian dalam.
Sondang dan inang Gultom berpandangan sedih. Dua jiwa polos itu telah sangat marah. Mereka pasti telah diskusi. Sehingga bisa seia sekata dalam merangkai kata. Seakan mereka tahu malam ini akan ditanya soal pertemuan dengan papa mereka.
“Opung bilanglah sama abang,” kata Sondang malam itu setelah anak-anaknya masuk kamar masing-masing. Dia masih membahasakan panggilan ABANG buat Gultom.
“Anak-anak itu bukan seperti zaman saya dan abang kecil. Kami kecil itu bisalah kita diajak bicara apa pun, kita bisa dibohongin orang tua. Tapi anak sekarang itu nggak bisa lah. Opunglihat saja mereka sudah kritis sendiri, kalau yang tidak tahu mungkin akan menuduh aku yang mengajari mereka untuk tidak sopan pada papanya.”
“Aku tahu lah itu,” kata inang Gultom.
“Ya Opung, katakanlah pada abang mereka tidak mau dibohongi seperti itu. Papanya bilang pada mereka, papanya hanya mencintai mereka dan saya. Ternyata ada perempuan lain, ada anak kecil lain.”
“Dari situ anak-anak bisa menyimpulkan papanya bohong. Kalau sekarang papanya bilang dia menikahi perempuan-perempuan tersebut tanpa cinta, lalu anak-anak akan berpikir ulang sebegitu mudahnya kah seseorang menikah tanpa cinta? Tanpa saling percaya? Itu akan menjadi dilema buat mereka.”
“Itu PR buat abang selesaikan masalah itu dengan anak-anak. Saya tidak mau tahu karena saya tidak ikut berbohong seperti abang. Dia yang berbohong jadi dia yang harus bertanggung jawab terhadap anak-anak,” jelas Sondang.
“Pikirkan juga kalau anak-anak terluka karena papanya telah berbohong pada mama mereka dengan menikahi perempuan sampai punya anak. Itu menyakitkan anak-anak. Bukan hanya saya.”
“Ya besok Opung akan langsung bicara. Kasihan anak-anak kalau terluka terlalu lama,” kata inang. Dia sadar dua cucunya telah hilang kepercayaan terhadap cinta seorang lelaki.