GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
ENGGAK PAKAI KEKERASAN FISIK, TAPIIIIIIIII ….



“Kamu nggak pakai kekerasan kan?” kata Dinda di meja makan.


“Kekerasan fisik nggak, kekerasan mental iya. Aku paling nggak suka orang yang mentalnya bobrok seperti itu,” kecam Gathbiyya.


“Jangan gunakan kata bobrok, itu tidak baik,” Adit mengingatkan putri tunggalnya itu. Kalau marah memang Gathbiyya tak bisa di rem.


“Dia yang punya kelemahan, kenapa dia membully orang?” protes Gathbiyya tetap masih ingin ngotot.


“Itulah cara seseorang buat memperlihatkan kelebihannya menutupi kekurangannya,” kata Eddy bijak.


“Dan orang seperti itu seharusnya kalian dekati,” lanjut Eddy lagi.


“Kurang kerjaan apa ngedekatin dia?” kata Ghaidan.


“Dia itu orang yang kesepian dalam keramaian,” kata Eddy.


‘Seperti ayah kalian dulu!’ lanjut Eddy dalam hatinya. Dia ingat bagaimana Adit melarikan diri pada hal-hal yang tidak benar.


“Memang tadi kamu bikin apa?” tanya Adit. Karena awal diskusi tadi Gathbiyya baru bilang dia sudah menutup mulut Khairudin anak yang membully Ghaylan. Belum bercerita apa pun.


“Waktu aku mau ke kelas Ghaylan, kebetulan Mr Johan sedang memungut berkas yang tercecer. Entah dia ditabrak siapa atau bagaimana. Berkasnya tercecer, aku membantu membereskan dan aku melihat soal yang akan dia bahas di kelasnya Ghaylan selintas. Aku langsung ingat bentuk soal itu lalu langsung aku tantang Khairudin untuk mengerjakan soal itu di papan tulis.”


“Aku juga nantang semua anak di kelas itu bisa nggak mereka ngerjain soal tersebut dalam waktu 10 menit. Tapi nggak ada yang bisa. Ya sudah aku bilang anak pesuruh saja bisa masa kalian nggak bisa. Kata aku gitu. Pokoknya aku bilangin, ayahku memang seorang pesuruh tapi kami punya imam di dalam rumah saat salat. Kami punya mentor saat diskusi dan dalam hal apa pun ayah itu bisa kok mimpin kami. Itu yang aku bilang tadi. Aku tidak membalasnya dengan fisik tapi dengan mental,” jelas Gathbiyya.


Adit tak percaya anaknya sangat membanggakan dirinya sebagai imam padahal kalau anak-anak tahu dirinya itu tak ada apa-apanya tanpa Dinda, bahkan dia hampir di DO belum lagi perbuatan buruknya dengan beberapa perempuan waktu SMA, tentu pandangan anak-anak tak akan seperti itu. Adit menyesalkan perilakunya yang buruk sebelum bertemu Dinda.


Yang pasti Adit berupaya untuk menjadi yang terbaik. Dia dan Dinda selalu belajar, belajar dan belajar tanpa henti. Baik dari buku, dari pengetahuan apa pun. Juga dari sikap anak-anaknya. Karena dari sikap anak-anak itu mereka bisa memetik semua hikmah, lalu mereka juga bisa menelaah agar bisa berbuat lebih baik dan baik lagi.


Adit memandang wajah istrinya benar-benar wajah bidadari yang diturunkan untuk dirinya dan Eddy.


“Tapi besok-besok lagi gunakan kata yang baik dan sopan ya,” kata Dinda.


“Iya Bun. Tapi aku nggak janji. Bunda tahu kan kalau sudah marah kayaknya emosiku tinggi banget,” jawab Biyya jujur.


“Bunda tahu nggak? Khairudin itu punya kakak yang lebih tua 4 tahun dan dia ada di kelas aku. Kakaknya itu jauh dari kata pintar. Sudah nggak pintar dia nggak rajin pula. Kalau doa rajin mungkin dia bisa menangkap pelajaran dengan baik sehingga hasilnya enggak selalu jeblok. Kerjanya cuma pamer harta orang tuanya.”


“Kakaknya itu lelaki atau perempuan?” tanya Dinda.


“Lelaki juga, namanya Fachrudin atau dipanggilnya Fahrul. Fahrul itu kerjanya cuma cerita ibunya habis pergi ke mana, ibunya habis beli apa, lalu papanya habis meeting di mana dan katanya mereka bisa pergi ke mana saja karena punya pesawat pribadi.”


“Aku memang sering menohok dia ketika dia pamer.”


“Maksud kamu menohok bagaimana?” tanya Eddy.


“Ya itu, kalau dia bilang mamanya abis beli apa dan pergi kemana dan segala macamnya aku langsung bilang bunda aku tadi masakin aku makanan yang enak dan enggak ada dijual di luaran karena selain rasanya enak diberi bumbu dengan kasih sayang dan cinta buat semua anaknya.”


“Kalau dia cerita tentang papanya yang habis meeting ke sana, meeting ke sini, aku langsung akan bilang ayah aku tadi gandeng aku waktu nyebrang dan dia nyium aku sebelum aku berangkat sekolah. Aku juga akan bilang kemarin kami habis salat isya bareng papa aku yang pasti jadi imam. Itu selalu aku kasih tahu kalau orang-orang yang sombong sama prestasi papanya di luaran sana. Mereka tuh nggak punya orang tua tapi mau bertingkah seakan-akan orang tuanya yang paling hebat.” jelas Biyya. Dinda tak aneh mendengar cerita itu. Karena banyak anak orang kaya harta miskin kasih sayang. Dan itu pernah di rasakan Adit suaminya, hanya Adit kekurangan kasih sayang bukan karena kedua orang tuanya sibuk mengejar harta, melainkan karena sibuk dengan kesehatan mama Ina.


Adit mengambil tissue, dia menghapus sedikit tetes air di sudut matanya. Benar-benar dia tak percaya anak-anaknya mendewakan dia seperti itu. Suatu anugerah yang tak terhingga buat dirinya dan Dinda serta Eddy tentunya.