GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MENGOBATI KANGEN



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



“Wah Mamas sudah sehat ya,” kata Dinda saat pagi hari dia melihat Ghifari sudah normal kembali suhunya tubuhnya. Dinda baru selesai membuat sarapan kedua putranya ketika mendengar Ghibran dan Ghifari berceloteh berdua. Keduanya biasa tak menangis bila bangun tidur.



Seperti biasa Dinda membersihkan tubuh kedua putranya  pagi hari, selanjutnya mereka akan makan di halaman belakang ruko yang sangat kecil tapi setidaknya anak-anak bisa berjalan di rumput dan kena sinar matahari secara langsung.



Ghibran dan Ghifari juga mulai makan tanpa rewel, berarti memang bukan gusi atau giginya yang membuat Fari demam semalam.



Dan juga kalau mau tumbuh gigi atau karena imunisasi Fari enggak akan manggil-manggil ayah seperti demam saat tadi malam.


\*\*\*



Untuk mengobati kangennya Ghifari dan Ghibran pada ayahnya hari ini Dinda memutar video saat aqiqah untuk kedua putranya. Di sana ada Ayahnya Ada kakek juga ada Dinda. Tentu sudah dipotong-potong yang bagian keluarga lain atau pengajian dan acara makan sudah di Dinda buang. Yang tinggal hanya ada Radite, Eddy dan Dinda juga si kembar.



“Ini kakeknya siapa hayo?” tanya Dinda, dia pause video agar kedua putranya melihat Eddy dengan jelas. Kedua jagoan melihat televisi super besar tempat biasa mereka menonton film tentang alam yang Dinda putarkan untuk mereka.



“Tatek,” kata Ghibran.



“Ya kakeknya Mamas sama Ade kan? Kakeknya Mas Fari sama De Iban,” kata Dinda.



Dinda lalu dia menjalankan kembali video hingga tiba di posisi Radite menggendong kedua bayi sambil tersenyum bahagia.



“Ini Ayah. Ayahnya siapa ya?” goda Dinda kali ini.



“Yayah,” seru di Fari sambil tersenyum manis pada Adit video memang kembali di pause.



 ”Wah ini ayahnya Mamas ya?”



 Fahri mengangguk-angguk membenarkan apa yang Dinda katakan, sedang Ghibran masih memandang kakeknya yang sedang melihat Radite menggendong dua putra mereka.



“Tatek,” seru Ghibran.



“Yang itu kakeknya ade Iban dan ini Ayahnya Mamas gitu?” goda Dinda.




Fari langsung berbalik badan dan memeluk Dinda. Mereka memang sedang berada di kasur lantai tempat mereka biasa bermain.



“Wow Bundanya Mamas ya?” tanya Dinda.



Ghibran pun langsung ikut Ghifari dia langsung memeluk lehernya Dinda.



“Ya Bunda tahu, Bunda punya kalian berdua. Bunda punya mamas dan ade kata Dinda.



“Mik,” pinta Ghifari



“Ih kamu sih mintanya mimik,  kita kan lagi nonton,” tolak Dinda. Ghibran yang merasa dia juga mau minta ASI. Akhirnya ikut minta jatah ASI.



“Mimik,” pinta Ghibran.



“Wah kalau kalian sudah berkolaborasi seperti ini, Bunda kalah deh. Oke. Ayo kita mimik,” kata Dinda.



Dinda pun memberikan galon ASI-nya untuk Ghibran dan Ghifari buka.  Biasanya mereka bisa buka sendiri penutup galon ASI dan langsung minum dari pabrik ASI milik Dinda.



Setelah minum ASI keduanya lalu bermain kembali. Dinda memberikan kotak-kotak kayu untuk permainan menyusun balok juga memberikan cincin kayu dan plastik buat keduanya bermain.



“Put yellow ring please,” pinta Dinda.



“Good job mas Fari. But this not ring. Its lego Mas,” fari memang mengambil benda berwarna kuning tapi bukan yang berbentuk cincin, melainkan kubus.



“This one is red, come put the other which red and give to me,” pinta Dinda.



Dinda terus menyebutkan warna atau color dari semua yang dia pegang itu untuk merangsang kedua putranya mengingat dan belajar.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI yok