GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BOLEH PULANG TAPI BERTAHAN



“Sore nanti boleh pulang Bu. Tapi anak-anak belum, mereka masih harus dipantau samai minimal 5 hari. Sekarang baru masuk hari ke tiga,” jelas dokter yang visite pagi ini.


“Kalau begitu biar kami tidak pulang saja Dokter. Enggak apa apa kami tetap bayar biaya rawat. Karena akan repot bila istri saya harus di luar kamar menunggu anak-anak. Tidak ada kamar untuk istirahat, padahal ibu sehabis melahirkan kan butuh banyak istirahat. Biar saja kami tetap bayar kamar enggak apa apa tanpa perlakuan pengobatan,” kata Adit memutuskan sebelum Dinda menjawab.


“Jadi Bapak anggap punya sewa kamar hotel ya?” Kata dokter bercanda.


“Kasihan juga istri saya kalau harus bolak-balik rumah dan ke rumah sakit. Belum lagi nanti kakak-kakaknya rewel, dan nanti menunggunya di luar dia malah lebih enggak istirahat. Lebih baik saya bayar di sini saja,” kata Adit dengan jujur.


Dinda merasakan besarnya cinta Adit untuknya. Dinda tahu Adit tak ingin dia mengidap baby blues bila kondisi tidak memadai.


“Baik Pak saya akan tuliskan bahwa pengobatan dan perlakuan buat ibu sudah selesai hanya tinggal sewa kamarnya saja dan membawa bayi ke sini setiap saat baby ingin menyusu. Atau ibu akan ke ruang baby,” jelas dokter.


“Terima kasih Dok, enggak apa apa dibebani biaya untuk pengobatan pun,” Adit senang Dinda masih bisa bertahan di kamar itu.


“Kapan boleh pulang?” tanya Eddy yang siang itu datang pada saat jam makan siang. Dia membawakan makan siang untuk Adit juga Dinda pasti juga buat dirinya karena dia tidak senang makan sendirian. Benar Dinda dapat jatah makan siang, tapi ibu menyusui pasti cepat lapar kan?


“Tadi pagi dokter bilang sore ini Dinda boleh pulang Pa. Tapi aku putuskan Dinda enggak pulang,” jawab Adit.


“Kenapa?” tanya Eddy.


“Baby belum ada yang boleh keluar, kalau Dinda pulang baby-nya masih di sini Dinda akan bolak-balik. Sepanjang hari dia akan capek pulang pergi rumah dan ke rumah sakit. Belum lagi nanti anak-anak di rumah rewel karena bolak-balik ditinggal Dinda. Itu lebih bahaya karena Dinda akan stress,” jelas Adit.


“Kalau begitu Papa setuju. Memang tidak baik Dinda pulang pergi, juga kasihan kakak-kakaknya di rumah pasti pengen ikut dengan alasan ingin lihat adiknya. Dinda juga enggak bisa istirahat.”


“Iya Pa, semoga aja adik-adiknya cepat boleh keluar, tidak nunggu beberapa hari lagi.” HarapAdit.


“Berapa lama pun, lebih baik kita tunggu. Jangan maksa bawa bayi pulang bila mereka belum siap. Toh kakak-kakaknya di rumah aman. Kamu jangan khawatir soal para kakaknya,” jawab Eddy.


“Baik Pa,” jawab Adit. Dia juga tak ingin Dinda lelah fisik dan pikiran.


“Ya sudah kita makan dulu,” ajak Eddy.


“Pa, aku kepengin satu sopir tiap hari bawain aku makanan dan pakaian bersih. Karena enggak mungkin aku minta bawain makanan sama Mbok Marni seperti waktu Dinda di rumah sakit ketika melahirkan Fari dan Iban. Dulu ‘kan di rumah enggak ada siapa-siapa jas\=di mbok bisa bikinkan masakan buat aku. Sekarang para simbok harus jaga anak-anak. Jadi aku minta Pak Pujo pagi, siang, dan malam beliin aku makanan sehat aja,” pinta Adit.


“Kenapa enggak Mas aja sih yang keluar beli makanan?” kata Dinda.


“Aku enggak akan pernah tinggalin kamu di kamar sendirian,” jawab Adit tegas. Sejak dulu setiap Dinda di rumah sakit memang dia tak pernah keluar meninggalkan Dinda bila tidak ada Eddy yang menggantikan jaga. Adit tak percaya pada siapa pun untuk menemani Dinda.


 Eddy hanya tersenyum dia tahu bagaimana cintanya Adit terhadap Dinda.