GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TEKAD KUAT MISCHA



Hari ketiga hilangnya Farouq. Belum ada tanda-tanda yang didapat oleh polisi mengenai keberadaan anak itu. Rustam dan Marini pun sudah bertanya pada keluarga di Majalengka dan Ciranjang. Mereka  mengatakan tidak tahu keberadaan Wiwik. Entah itu betul atau bohong. Tapi Rustam sudah memberitahu siapa pun yang menyembunyikan atau menampung Wiwik atau keluarganya akan mendapat sanksi pidana karena termasuk kerja sama dalam tindak melakukan melakukan penculikan.


Tentu saja semua takut mendengar akan terbawa-bawa dengan kasus itu. Mereka sekarang kalau dihubungi Wiwik akan menjawab tidak mau ketempatan. Itu yang Rustam beritahu pada Ajat pagi ini.


Santi masih lemah, tapi dia sudah mulai mau makan karena dapat obat perangsang nafsu makan yang disuntik. Sehingga dia tidak sadar selalu ingin makan walau tidak menikmati apa yang dimakannya. Yang penting dia makan dan makan sesuai dengan keinginannya.


Sekarang Santi mulai menangis. Sepanjang hari dia meneteskan air mata tak henti-hentinya.


“Aku tak mau ke sekolah. Aku ingin nengok mami,” pinta Mischa pada mang Udin sopirnya.


“Kan nggak boleh Non. Peraturan rumah sakit juga tidak membolehkan anak di bawah 12 tahun masuk ke ruang rawat kecuali dia pasien,” bujuk mang Udin.


“Pokoknya bagaimana caranya aku harus ke ruangan mami. Aku nggak mau tahu,” kata Mischa.


“Aku nggak mau pulang juga kalau belum ketemu mami,” rengek gadis kecil itu.


“Kan Non sudah dikasih video call sama enin dan papi.”


“Pokoknya aku harus ke sana,” kata Mischa lagi. Pagi ini dia tidak mau turun di sekolah dan dia juga tidak mau diantar pulang. Dia maunya ke rumah sakit. Akhirnya sang sopir pun mengalah. Dia diam-diam membawa Mischa ke rumah sakit.


Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit sopir berupaya menelepon seseorang.


“Kamu dinas apa?” tanya mang Udin.


“Dinas pagi Kang. Kenapa?” tanya orang yang diajak bicara Udin.


Tentu saja orang yang dihubungi kasihan terhadap Mischa dan meminta si sopir untuk menemuinya di lobby ketika sampai di rumah sakit agar nanti diantar ke ruangan Santi.


“Sekarang saya cari dulu dia ada di ruang berapa. Karena kan kakak nggak tahu ruangannya.”


“Iya mau nanya sama tuan nanti ketahuan kalau kami menuju rumah sakit,” jawab Udin.


“Ya sudah. Namanya Santi Sudrajat begitu?”


“Iya dia lagi hamil.”


“Oke akan aku cari. Kasih tahu alamatnya Kang,” pinta lawan bicara Udin.


Sopir pun menyebut alamat Santi dan Ajat agar tidak salah orang.


‘Alhamdulillah kemauan neng Mischa sebentar lagi terwujud,’ batin si sopir. Dia juga kasihan terhadap dua anak tersebut.


Udin sangat tahu bagaimana kondisi Mischa dan Farouq sebelum ada Santi. Benar-benar anak yang tak terawat. Baik secara batin maupun secara lahiriyah. Karena sehari-hari hanya para pembantu yang mengurus. Tidak ada yang memperhatikan bagaimana pakaian mereka maupun makanan yang mereka makan. Begitu ada Santi semuanya diurus dengan teliti. Makan tak hanya kenyang, mereka harus makan yang bergizi. Yang baik untuk perut juga otak mereka yang masih masa pertumbuhan. Dengan Santi memang membuat segalanya berubah. Itu sebabnya sopir juga kasihan terhadap nyonya Santi yang kehilangan Farouq untuk tiga hari ini.


“Nanti neng Mischa di rumah sakit kalau ketemu maminya nggak boleh nangis ya Neng. Non Mischa harus menghibur maminya. Kasihan kalau maminya nangis. Nanti dia tambah lama dirawat di rumah sakitnya,” kata Udin yang kadang menyebut Mischa dengan panggilan NENG, kadang dengan NON.


“Iya aku ngerti,” jawab Mischa. Tentu saja dia sangat berharap bisa bertemu dengan sang mami.