GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
RUJUKAN YANG MENGEJUTKAN



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Adit masih tak percaya melihat pada siapa surat rujukan itu dibuat oleh dokter penyakit dalam ini.



“Mengapa bisa seperti ini Dok?” tanya Adit. Dia harus memastikan rujukan itu benar adanya. Tak salah specialis.



“Untuk lebih jelasnya silakan tanya ke sana saja ya. Saya tidak berani memberikan advise apa-apa. Lebih baik tanyakan dengan jelas ke sana nanti. Jawaban konkritnya bisa ibu dan bapak lihat di sana saja,” jawab dokter Mahfud sambil tersenyum menenangkan pasangan suami istri di depannya.



Dinda melihat Adit dengan tatapan bingung. “Bagaimana mungkin?” katanya.



“Apa tidak berpengaruh proses CT Scan tadi Dok? Katanya kan nggak boleh dilakukan CT Scan.” tanya Adit.



“Tidak apa-apa, saya sudah tuliskan pada saat minta perlakuan tadi, sehingga akan aman buat bagian lain yang tidak dipindai. Karena saya hanya minta bagian kepala saja dan efeknya juga saya buat yang terendah mungkin. Sudah saya minimalisir, tenang saja,” kata dokter.



“Sekarang saya tidak beri resep ya. Karena saya takut salah, lebih baik kalau sudah spesifik nanti dokter di sana yang memberi obat bukan saya.”



“Baik dokter. Terima kasih,” jawab Dinda dan Adit. Mereka keluar ruangan periksa dengan langkah yang gontai bingung mau bikin apa dengan surat rujukan tersebut.



“Kalau hari gini masih bisa daftar enggak ya Mas?” ucap Dinda pada suaminya.



“Biar kita sekalian keluar rumah, enggak dua kali atau tiga kali anak-anak ditinggal.”



“Mas nggak bisa tahu Sayank. Lebih baik kita tanya aja ke bagian pendaftaran. Semoga aja masih bisa, sehingga kita bisa sekalian jalan seperti yang kamu bilang tadi. Memang kasihan anak-anak kalau kita sering tinggalin mereka.”



“Kamu tunggu sini aja ya, Yank. Mas aja yang jalan daftar. Dengan surat rujukan biasanya lebih mudah karena bukan pasien yang daftar baru.”



“Iya Mas, ‘ jawab Dinda langsung duduk di depan poli penyakit dalam. Dinda segera minum jus yang tadi dia beli. Masih ada dua botol jus jambu, satu tentu milik Adit satunya dia minum. Bukan karena haus tapi karena dia nervous, mengapa bisa mendapat rujukan seperti itu.



“Semoga aja Mas Adit masih diterima pendaftarannya sehingga aku bisa langsung tahu jawabannya. Jadi aku enggak ninggalin anak terlalu lama,” Dinda bicara sendiri tanpa sadar.




‘*Untung enggak ketemu sama dia, sehingga aku enggak perlu ribut sama Dinda. Aku yakin kalau Dinda lihat dia pasti ingin ribut dengan Meliana. Dinda sangat dendam pada dia*,’ pikir Adi lagi.



“Masih bisa tidak Pak?” tanya Adit pada petugas bagian pendaftaran pasien.



“Kalau pakai surat rujukan begini biasanya masih bisa. Sebentar ya Pak saya hubungi bagian pendaftaran langsung di poli yang dituju,” petugas langsung memencet nomor saluran poli yang Adit akan kunjungi.



“Masih ada tiga kuota Pak. Jadi masih bisa terima dan kalau pun kuota habis biasanya kalau ada rujukan masih tetap bisa diterima kok,” petugas langsung memberikan Adit formulir isian.



Adit memberikan surat rujukan itu juga kartu pasien atas nama Adinda Suryani milik istrinya untuk di proses.



“Bagimana Mas? Masih bisa diterima?” tanya Dinda saat Adit tekah tiba disisinya. Dia verikan juice jambu biji yang Adit pesan tadi.



“Alhamdulillah masih bisa Yank. Semoga aja kita lancar ya, jadi anak-anak nggak keganggu terlalu lama. Kamu sudah pesan ke rumah belum mereka nggak usah nungguin kita karena kita dobel periksa. Kasihan kalau nunggu kita, pulangnya terlalu malam.”



“Aku barusan telepon papa kasih tahu bahwa kita dirujuk dan papa bilang jalanin aja nggak usah ketakutan. Papa juga janji mau awasin anak-anak sampai mereka tidur. Tentu aja sama dibantu 3 mbok. Papa mana bisa sendirian yang penting papa ngawasin,” jelas Dinda.



“Baguslah kalau kamu telepon papa. Aku takutnya kamu belum telepon jadi kepikiran sama anak-anak.”



“Enggak kok, begitu Mas pergi daftar aku langsung telepon papa karena emang langsung kepikiran makan malam anak-anak.”



‘Gimana aku enggak ketakuta kalau kamu sakit Yank? Kamu telat pulang aja kepikiran anak-anak. Pasti kamau akan kebeban bila sakit dan tak bisa urus anak-anak dengan tanganmu sendiri.’ Adit meneguk juicenya.



Sebenarnya Dinda di rujuk ke poli apa sih kok sampai Adit, Eddy dan Dinda kebingungan seperti itu? Ada yang bisa tebak?


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok.