
“Ayo kamu ikut Om,” kata satpam kepada Mischa.
“Ayo Kang. Akang nanti tunggu di luar ruangan saja. Yang penting nanti pas pulang anaknya enggak bingung nyari Akang.” ajak sang satpam kepada Udin, sopir Ajat dan Santi.
Rupanya tadi orang yang dihubungi oleh si sopir adalah satpam rumah sakit tersebut. Satpam mengajak Mischa ke lantai 3 tempat ruang rawat bagian kandungan. Dia langsung masuk ke lokasi VIP. Jam kunjung di paviliun tidak harus baku mengikuti jam waktu kunjung orang umum.
“Silakan masuk,” kata seorang lelaki di dalam sana ketika satpam mengetuk pintu.
“Maaf Pak saya mau mengantar si Eneng,” kata satpam yang mengantar Mischa.
“Mischa? Kamu kenapa ke sini? Kok nggak sekolah?” kata Ajat. Lelaki itu kaget anaknya yang masih menggunakan seragam sekolah jam 08.30 pagi sudah ada di rumah sakit.
“Kakak nggak mau sekolah kalau nggak lihat mami,” kata Mischa. Santi saat itu sedang tertidur.
“Mami-nya tidur Sayang. Baru aja disuntik dokter,” bisik Ajat. Ajat tak memarahi Mischa yang membolos sekolah demi bisa melihat maminya. Dia mengerti kerinduan bocah itu. Kalau belum ada cinta pada Mischa atas bimbingan Santi tentu dia akan memaki putrinya itu. Sekarang tidak. Dia sangat mengerti.
Mischa memandang wajah yang sangat dia cintai itu. Kalau sampai dia diculik pun dia tidak mau ikut sama mamanya. Dia tahu dan mendengar dari beberapa orang kalau dirinya sudah ditinggal sama mama sejak dia berumur 4 tahun. Sama seperti Farouq yang ditinggal ketika masih bayi karena ibu mereka tan menginginkan punya anak. Mischa juga ingat sosok ibunya Farouq yang tidak senang pada dirinya. Kalau ada papanya, baru bundanya itu bisa berbicara atau menegur Mischa kalau tidak ada Ajat, Mischa tidak dianggap. Walau tidak pernah di bentak-bentak atau dipukul. Kalau tak ada Ajat memang Mischa tak pernah diajak bicara.
Mischa mendekati bed tempat Santi tidur. Dia pegang tangan kanan sang mami yang tidak diinfus. Dia genggam erat dan dia ciumi. Ajat meneteskan air mata melihat bagaimana ketulusan cinta putrinya kepada Santi. Dia juga tidak mau marah kepada sang anak yang memang merindukan maminya. Memang saat video call Santi juga tak bisa bicara dengan Mischa sehingga mungkin Mischa sangat merindukan maminya.
Barusan dia mau keluar mumpung Santi baru disuntik tidur, tapi ternyata keburu Mischa datang.
“Seharusnya tadi Bapak telepon saya saja, nanti pasti saya jemput di depan tak perlu diantar satpam,” ujar Ajat.
“Saya takut Tuan marah sama saya. Jadi saya minta tolong teman saya yang satpam. Kasihan Non Mischa. Kalau di rumah sama perjalanan sekolah cuma menangis saja Pak, karena kangen sama nyonya,” lapor Udin.
“Semua pasti kangen sama nyonya. Orang sebaik dia siapa yang tidak sayang?” kata Ajat membenarkan pendapat pak Udin kalau Mischa merindukan Santi.
“Benar Pak. Nyonya disayang semua orang karena dia baik,” kata si sopir lagi.
“Sudah belikan dulu makanan saya. Itu ada pesanan buat makan siang Mischa dan saya selain makan pagi saya. Kamu juga beli saja untuk makan siangmu. Nanti susah keluar masuk di sini kalau tidak bawa barang untuk pasien,” pesan Ajat.
“Baik Pak. Saya nanti makan di sana saja biar bisa sambil merokok. Kalau di dalam rumah sakit kan nggak bisa merokok. Jadi sambil nunggu pesanan, saya makan agar tak buang waktu.”
“Ya sudah. Pokoknya kamu jangan sampai enggak makan,” jawab Ajat.
“Baik Pak,” jawab si sopir. Dia langsung pergi untuk membeli makanan yang Ajat pesan.