
“Siapa yang nasinya kurang atau lauknya kurang bilang ya,” Sondang berteriak karena memang dia bagian konsumsi.
“Mama memang ada yang lauknya saja? Karena kalau ambil di kotak yang isi nasi sayang, nanti terbuang-buang sisanya,” kata Ghifari bijak.
“Ada Sayang. Yang lauknya saja ada. Kamu mau yang pedas atau yang semur?” balas Sondang.
“Aku maunya rica-rica Ma.”
“Aku mau yang semur Ma.”
“Aku mau ….”
“Aku mau ….”
“Aku mau ….”
Akhirnya anak-anak menjawab bersamaan karena nasi mereka masih ada tapi lauknya yang tidak ada.
“Bunda bawa nugget dan sosis goreng loh. Siapa yang mau?” ucap Puspa. Dia mengeluarkan satu tupperware besar berisi sosis dan nugget. Memang dia persiapkan untuk lauk tambahan anak-anak.
“Aku ayamnya nggak jadi. Aku mau nugget saja.”
“Aku ayamnya nggak jadi. Aku mau sosis saja.”
Beberapa anak tidak mau tambah ayam tapi memilih sosis dan nugget. Dinda dan Velove tersenyum mereka sangat senang anak-anak benar-benar enjoy dengan kebersamaan mereka kali ini.
“Bunda kenapa curang? Kenapa nggak keluarin dari tadi?” protes Ghifari.
“Bukan curang Sayang. Kalau dari tadi Bunda keluarin sosis dan nugget. Ayam dari box kalian itu nanti tidak termakan. Akan mubazir, jadi memang Bunda keluarkan apabila ayam dan lauk kalian di kotak sudah habis,” Puspa membela diri.
“Oh begitu,” kata Ghifari. Dia baru tahu politik bunda Puspa agar mereka menghabiskan dulu datang lauk yang ada di box.
“Ingat tidak boleh ada yang buang makanan. Masih banyak saudara kita yang kekurangan. Jadi kalau kita membuang itu kita sangat tidak empati pada sesama,” ulas Bagas.
“Aku sudah tahu apa arti kata empati,” ucap Ghaylan
Mereka tadi benar-benar searching di Google apa perbedaan kedua kata itu.
‘Mereka tetap belajar, walau sedang bermain seperti ini. Benar-benar hebat metode yang disiapkan para orang tua ini,’ batin Gultom. Dia menyadari selama ini kurang berinteraksi positif dalam komunikasi dengan Rida dan Icha. Terlebih sejak dia kencan dan menikahi Pricilla, dilanjut dengan Niken.
“Pak Gultom mau tambah nasi atau mau tambah lauk lagi?” kata Dinda.
“Iya Bu nanti saya tambah,” jawab Gultom.
“Para bapak yang butuh tambah nasi mungkin bisa berbagi satu box berdua lalu tambah lauk kalau tidak habis satu box kedua sendirian,” kata Adit. Dia sedang membagi setengah nasi bersama Bagas, lauknya tinggal ambil di stok lauk tambahan.
“Dari tadi aku juga berpikir seperti itu. Untung Abang bilang,” kata Ajat.
“Kamu kan dua box berdua istrimu. Kenapa harus cari lawan?” balas Bagas.
“Bukan buat aku lah pastinya. Fahrul dan Ilham nggak cukup nasi satu box mereka mau nambah satu box lagi takut nggak kuat tuh perut. Kalau Abang bilang begitu kan jadinya ada solusi buat mereka,” jawab Ajat yang masih tetap disuapi oleh Santi. Mereka sudah buka box kedua. Jadi dua box itu cukup. Setengah buat Santi satu setengah buat Ajat.
“Iya makanya seperti itu saja pak Gultom cari teman berbagi.”
Gultom berbagi nasi dengan Sindhu, dia mengambil lauk tambahannya ayam kecap.
“Pak Shindu lagi sakit gigi atau kenapa ya?” goda Ajat, melihat hari ini Shindu lesu.
“Mungkin kurang jatah peperangan,” kata Santi cepat.
“Perang apa Mami?” tanya Icha polos. Para orang tua langsung menyadari Santi lupa kalau di sana ada anak-anak.
“Ya perang membereskan peralatan lah. Dari tadi kan papa Shindu nggak ngapa-ngapain,” jawab Puspa cepat. Dia meralat ucapan Santi yang tidak sadar banyak anak-anak.
“Mungkin papa Shindu lagi sakit gigi,” kata Ghibran.
“Nah makanya kalian harus rajin sikat gigi. Jangan kayak papa Shindu,” kata Ajeng. Dia kasihan pada suaminya yang di-bully oleh Santi. Santi memang paling senang membully Ajeng, sehingga kali ini ditujukan untuk Sindhu.
Benar seperti yang Santi duga, Shindu kesal karena sudah dua malam tidak mendapat jatah perang. Si kecil Baim rewel sehingga sepanjang malam tentu saja Ajeng menolak peperangan dengan Shindu.