GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
GANGGUAN AWAL BUAT SANTI



“Sebenarnya ini kenapa sih Jeng kok bisa dia sampai dehidrasi seperti ini?” tanya Puspa.


“Mungkin karena dia tengah fase oral. Apa pun semua yang dia temukan masuk mulut. Yang diambil selalu masuk mulut. Jadi ada makanan kotor atau benda kotor yang masuk ke mulutnya. Saat itulah kuman penyakit masuk. Dia lalu muntah-muntah dan buang-buang air.”


“Eh, nggak. Awalnya dia buang air dulu sih. Akhirnya muntah. Karena buang air dan muntah itulah akhirnya dehidrasi sehingga perlu diinfus. Gitu sih kalau menurut perkiraan dokter. Karena dia kan juga masih ASI dan ASIP. Botolnya juga aku yakin bersih karena Mas Shindu yang bersihin sendiri.”


“Kalau soal botol, Mas Shindu nggak boleh kasih pembantu yang cuci. Harus dia yang bersihin. Satu anak saja botolnya itu 10. Karena nunggu Mas Shindu pulang kantor buat cuci semua, jadi dua anak kami itu punya 22 botol! Anak yang pertama memang lebih banyak.”


“Aku yakin bukan dari botol tapi dari fase dia mulai masukin apa yang dia temukan ke mulutnya.”


“Dia mulai buang-buang air itu kemarin sore saat aku pulang kerja. Waktu itu Mas Shindu belum pulang. Pas malam Mas Shindu pulang dia mulai muntah. Saat itulah aku panik. Jadi tadi malam jam 01.00 kami bawa dia ke rumah sakit, langsung di infus.”


“Tadi aku telepon Bu Dinda itu agak siangan setelah kami juga tenang juga nggak ganggu Bu Dinda.”


“Terima kasih loh Ibu juga usdah bikin pengumuman di grup. Aku sampai nggak kepikiran. Aku cuma mikir besok hari Senin nggak bisa datang padahal aku presentasi hasil pengamatan kita untuk program marketing selanjutnya.”


“Soal itu biar aku saja yang jadi pembicara. Enggak apa-apa aku bisa kok. Aku kuasai kok bahan itu, kan kita bikin bersama. Jadi aku nggak apa-apa. Yang penting kamu tahu bahwa aku yang akan gantiin,” kata Santi.


“Nggak, aku nggak keganggu. Baby-ku ini engga rewel dengan morning sickness, nggak ngidam, jadi papinya kesel karena papinya pengen ngerasain istrinya ngidam. Tapi mulai tadi pagi ada yang morning sickness sih. Dia sudah mulai mual dan muntah-muntah. Semoga saja dia ngidam jadi dia tahu dan terwujud apa yang dia cita-citakan. Yaitu punya istri ngidam,” kata Santi. Tentu saja Dinda, Puspa dan Ajeng tertawa.


Kalau Ajeng hamil dua-duanya dia yang ngidam dan dia yang morning sickness. Kalau Dinda siapa pun tahu lah bagaimana menderitanya Adit saat perempuan tersebut hamil.


“Bagaimana bisnismu? Lancar?” tanya Adit pada Ajat.


“So far baguslah. Terobosan yang waktu itu bang Adit bilang aku coba. Dan memang tok cer itu Bnag,” kata Ajat, yang memanggil abang pada Adit. Mereka mulai terbiasa untuk sharing antar sesama lelaki di grup perusahaan termasuk dengan Bagas. Walau Bagas bukan orang cabang tapi dia juga sekarang adalah site manager dari kantor pusat. Jadi selelu ikut saat meeting dengan kepala kantor cabang.


“Cuma aku lagi agak ketar-ketir Bang,” bisik Ajat.


“Kenapa Kang?” tanya Shindu pada Ajat.


“Bundanya Farouq datang ke kantorku dan dia bilang mau ambil Farouq. Aku belum berani bilang sama Santi takut ganggu. Dia sedang hamil. Tapi aku juga serem kalau nahan cerita ini terus-terusan. Takutnya dia langsung datang ke rumah dan bikin Santi syok.”