GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BUKAN BUAYA YANG DIKADALIN



Sejujurnya Sondang sangat mencintai Gultom lelaki pertama dan terakhirnya. Tapi dia juga sakit hati, karena ternyata selama ini Gultom telah selingkuh.


“Saya boleh tahu kenapa kamu mempunyai istri dua, tiga, empat, dan seterusnya?”


“Saya tidak mencintai mereka seperti yang saya bilang pada Tarida. Saya hanya merasa tertantang menaklukkan perempuan dengan kejujuran saya bahwa saya punya istri. Saya bilang kok sama mereka saya punya istri. Sayangnya saya bohong. Satu kebohongan saya yaitu mengatakan istri saya tidak bisa hamil. Itu kebohongan saya yang fatal. Saya jujur sama mereka, kalau mereka mau menikah,  saya tidak akan melakukan resepsi. Hanya nikah di gereja, hanya tercatat antar keluarga saja. Saya juga bilang sama mereka saya tidak akan memberi mereka nafkah berupa gaji rutin, karena gaji saya full milik anak dan istri saya. Saya hanya akan memberi mereka keuangan harian tergantung persentase yang saya dapatkan dari kantor sebagai honor atau fee dari pekerjaan saya dan mereka mau!”


“Mereka mau jadi istri simpanan kamu? Mereka mau tidak diberi gaji karena gaji kamu untuk ke istri lalu mereka mau apa lagi?” pancing Sondang tak percaya.


“Mereka tau saya tidak pernah menginap di rumah mereka karena saya tak mau istri saya curiga akan keberadaan mereka. Jadi saya hanya mendatangi mereka saat jam kantor. Mereka janji tak akan merengek meminta yang saya tak janjikan seperti menginap dan gaji rutin.”


“Benar-benar perempuan idiot. Tidak ada perempuan waras yang mau diperlakukan seperti itu. Saya meragukan apa motivasi mereka. Jangan-jangan kalau malam mereka punya suami lain,” ucap Sondang.


“Jangan-jangan mereka itu bukan anakmu,” kata Sondang lagi.


“Segila-gilanya perempuan. Dia tidak akan mau tidak diberi nafkah rutin. Dia tidak akan mau kalau hanya didatangi siang, karena malam suaminya takut sama istrinya. Tidak akan pernah mau! Jadi kamu coba pikir itu apakah memang perempuan-perempuan itu waras? Aku nggak yakin mereka sebodoh itu. Aku yakin mereka lebih jago menipu dari dirimu,” kata Sondang.


Sondang kaget ada perempua seperti itu. Dia tentu saja curiga Gultom itu hanya diperalat untuk main-main saja. Malam tentu mereka punya yang lain. Dan income dari Gultom hanya sekedar tambahan uang jajan saja. Anggap saja sebagai bayaran mereka tidur bersama.


Namanya istri simpanan tentu mereka akan menuntut diberi banyak uang, kalau tidak mereka akan memberitahu istri sah. Ini koq tidak? Mereka menerima saja apa yang Gultom gariskan.


‘Iya juga ya mana ada perempuan mau seperti itu? Kalau pun dia jadi istri simpanan dia pasti ingin sekali-sekali suaminya menginap, pasti dia minta nafkah rutin, tak mungkin istri simpanan mau hanya diberi sekadarnya saja,’ pikir Gultom.


‘Waktu aku menikah mereka nggak ada keluarganya loh. Sama seperti aku mereka hanya datang sendirian. Jangan-jangan benar akubukan suami yang di ketahui oleh keluarga mereka.’


‘Aku baru sadar, anehnya di rumah sewa yang aku bayar, tidak ada foto aku berdua Cilla atau Niken atau aku dan Marry. Harusnya kan ada foto kami saat nikah atau saat bersama Marry atau setidaknya foto pernikahan lah. Sama sekali tak ada. Hanya ada foto close up-nya Marry foto Pricilla tapi tidak ada foto bersama dengan aku bahkan foto pernikahan nggak ada!’ Gultom baru tersadar saat ini.


Gultom sangat takut mau menyelidiki, tapi dia penasaran mengapa semua itu tak pernah dia pikirkan?


‘Di rumah Niken pun sama tak ada foto pernikahan mereka. Untuk Niken memang dia tidak di kontrakan rumah karena Niken punya kamar kost sendiri. Tapi sejak menikah pun foto pernikahan mereka tidak terpampang. Jangan-jangan itu juga bukan anak aku,’ batin Gultom marah.


‘Pantas mereka tenang ssaja tuh nggak minta nafkah, pasti bukan mereka yang bodoh tapi aku yang du-ngu. Aku akan menunggu sampai anaknya lahir aku juga ingin tahu itu anak siapa,’ batin Gultom memikirkan anak di perut Niken.


Gultom ingat saat Velove bilang Marry tidak mirip dengannya dan Cilla membenarkan kalau Marry tak mirip.


‘Dia tak mirip aku karena bukan anak aku kah?’


‘Kurang ajar ternyata aku hanya sekedar kadal buat mereka, aku bukan buaya yang dikadalin, aku hanya kadal yang dicicakin. Sangat kecil artinya.’


Gultom ingat sehari-hari memang dia yang membelikan semua keperluan Marry, dia yakin nanti dari orang lain mungkin uang yang didapat oleh Priscilla bisa dia gunakan untuk hal lain.


‘Ah aku terlalu bodoh. Kalau tidak dibuka Sondang seperti ini aku nggak pernah berpikir bahwa mereka itu lebih pintar dari aku!’ sesal Gultom.