GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BERCERITA KESERUAN MASAK



“Opung kami pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa kabari saja,” kata Sondang. Dia tak mau menemui Gultom karena tak ada hubungan apa pun lagi. Kalau anak-anak tentu beda, mereka tetap anaknya Gultom.


Opung pun mengerti bahwa Sondang tak mau menemui mantan suaminya tersebut.


“Ya nanti akan Inang kabari,” kata opung. Dia bersyukur Sondang tetap menginap menemaninya, walau tak mau masuk ruang rawat.


“Kalian mau  pamit dulu pada papamu sebelum pulang?” tanya Sondang pada kedua putrinya.


“Malas ah Ma. Harus ganti pakaian lagi. Sudah kita langsung pulang saja. Nanti opung saja bilang kami sudah pulang,” kata Tarida.


Sepanjang jalan Tarida dan Icha bercerita tentang pengalaman mereka di rumah Santi maupun di green house, mereka bilang nanti mama minta saja video kami di papi saja


“Nanti pasti papimu akan share kok di grup. Entah lewat mami atau lewat bunda Dinda,” ucap Sondang ketika diminta Icha agar Sondang minta video memasak mereka.


“Oh gitu. Pokoknya seru deh Ma. Beneran enak lo masakan kami,” kata Tarida bersemangat.


“Apa kalian benar-benar masak sendiri?: tanya Sondang dengan senyum. Dia sudah lihat videonya sejak tadi.


“Benar Ma. Itu dari awal sampai akhir kami masak sendiri. Mami itu hanya ngeliatin saja. Mami sudah siapin bahannya nasi yang akan kami masak itu empat piring tapi ketika digoreng bisa jadi 5 atau 6 porsi lah. Lalu mami siapin fillet ayam, sosis, bakso, dan telur. Mami siapin garamnya, cabe yang harus kami iris sendiri. Kalau kami mau pakai cabe atau pakai merica terserah kami. Lalu mami siapin kecapnya. Kalau garam memang mami siapin jumlahnya nggak boleh dikurangi atau ditambah. Tapi kalau merica atau kecap, dan cabe, itu kami harus atur sendiri,” kata Icha dengan rinci.


“Sebelum masak mami sudah ngajarin step by step-nya apa yang harus kami lakukan mana yang harus ditumis dulu,” sambung Tarida.


“Ini Mama lihat deh ini sudah diplatting sama mami,” Tarida memperlihatkan foto nasi goreng hasil kreasi mereka tadi pagi. Sondang melihatnya dan tersenyum.


“Mama telepon mami deh, tanyain bagaimana kami masak. Dibantu apa enggak,” ucap Tarida menggebu.


“Iya takut Mama nggak percaya saja. Masak di rumah mami memang lebih ada tantangannya dibanding dengan saat kita masak lauk di green house. Karena kalau di green house kita kan hanya tusuk-tusuk lauk yang ingin kita makan lalu kita bakar.”


“Tapi seru juga sih. Lebih-lebih buat anak yang lebih kecil dari kita seperti anak bunda Puspa. Mereka pasti senang banget bisa masak lauk sendiri,” ucap Tarida sambil mengingat para adik yang senang disuruh masak sendiri.


“Aku tadinya males loh bikin sate ayam sama ikan karena tanganku jadi bau amis,” ujar Tarida.


“Pas nyobain punya kak Biyya, sate udang atau sate ayamnya tuh enak banget. Jadi akhirnya aku bikin sate ayam juga sate ikan, lalu aku bakar dan pakai in saus. Wih mantap banget,” kata Tarida.


“Memang kenapa kok tangannya malas kotor?” tanya Sondang. Lampu jalan mulai menyala, mereka sudah keluar dari tol.


“Kalau sate bakso atau sosis kan tangan kita nggak bau amis banget Ma. Kalau yang ayam sama ikan dan udang itu sudah direndam bumbu atau di marinasi, jadi kan berantakan kalau kita pegang,” Tarida memberitahu alasan awal mengapa dia malas bikin sate tiga bahan itu.


“Padahal tinggal ambil tissue basah yang tersedia lalu kita bikin lagi atau cuci tangan, beres koq,” kata Icha.


“Iya, aku tadi bikin banyak banget yang ikan. Yang buat orang tua aku bantu bikin. Mereka senangnya ikan sama ayam terus makannya pakai sambal pedas.”


“Eh sate paprikanya enak loh. Aku nyobain punya Menur. Ternyata paprika itu manis-manis pedas tapi banyakan manisnya Ma. Bukan seperti cabe,” jelas Tarida.


“Aku tadi lihat Ghibran dan Ghifari makan sate paprika sama keju nggak pakai ikan bakso atau apa pun,” kata Icha.


“Iya. Twins tu nggak ada yang bikin sate bakso atau sate sosis. Mereka bikinnya ikan, ayam, sama udang saja. Sama paprika juga sih,” kata Tarida.