GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SUPER MOM



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



Sesuai dengan rencana Dinda pulang sendirian. Mbok Marni dan Mbok Asih tak percaya bahwa Dinda sanggup menjaga kedua anak itu sendirian tanpa pembantu. Sekali lagi Mbok Asih kembali flashback mengingat bagaimana Shalimah yang tak pernah memegang anak sama sekali.



“Memang Mbak Dinda ini super sekali,” kata Asih pada Marni saat mereka melepas kepergian Dinda an dua buah hatinya.



“Shalimah boro-boro pegang anak,” gumam mbok Asih selanjutnya.



“Itulah sebabnya kami semua mencintai dia tanpa reserve,” balas Marni sambil meninggalkan Asih yang masih termangu di carport.



“Hebat, memang dia super hebat,” kata Asih sambil menggeleng melihat Dinda membawa kedua jagoannya tanpa kesulitan padahal jarak rumah mereka di Cilandak sampai ke Bekasi terlalu jauh.



”Bu Tari,” panggil Dinda pada lawan bicara nya di ponsel.



“Iya Bu,” bu Tari menjawab panggilan telepon dari Dinda.



“Saya sudah sampai depan Alf@mart, tolong ke depan ya.  Berdua dengan siapa yang sedang selo atau sedang tidak bekerja karena kedua jagoan tidur. Bantu saya menurunkan mereka,” pinta Dinda pada pegawainya itu.



“Baik Bu saya langsung ke depan sekarang juga. Nanti saya bawa siapa yang sedang menganggur,” kata Tari yang kebetulan sedang ada di dapur.



Sebelum tiba di rumah Dinda menelepon Bu Tari agar dia bersama seseorang menunggunya di depan pintu karena dia bawa kedua jagoan sedang tidur.



“Alhamdulillah sampai rumah juga,” kata Dinda begitu tiba di ruang atas tempat tinggalnya. Tentu kedua anak-anak saat bangun akan mencari ayah mereka. Dinda akan bilang kalau ayah mereka kerja.



Dinda sudah mengaktifkan nomor lama yang selama ini sengaja dia simpan. Nomor itu tidak akan hangus karena nomor pra bayar asal tiap bulan dibayar tentu tidak akan hangus.



Nanti kalau untuk menghubungi Eddy dan Adit, Dinda akan menggunakan nomor itu di ponsel yang satunya yang akan digunakan untuk nomornya anak-anak saja. Sementara nomor yang sekarang adalah nomor dari usaha pakaian dan juga nomor para guru di yayasan yang tempat belajar anak-anak.



‘*Sudah sampai rumah*?’ Tanya Adit pada Dinda. Tadi ibu anak-anaknya memang memberitahu kalau dia akan on the way ke Bekasi.



‘*Sudah*,’ jawab Dinda sambil memperlihatkan foto kedua anak-anak yang tertidur di kasur lantai ditempat tinggalnya. Foto itu juga dikirim oleh Dinda pada Eddy.



Eddy tentu tak percaya Dinda sudah tiba di rumahnya.



‘*Alhamdulillah sampai dengan selamat*,’ tulis Eddy sebagai balasan foto yang Dinda kirim barusan.




‘*Wah bekalnya sudah dihabiskan dari tadi sebelum jam makan siang*,’ lapor Eddy.



‘Padahal biasanya jam makan siang baru Papa pesan makanan. Ini karena bawa bekal dari rumah sebelum makan siang malah sudah habis duluan,’ begitu tulis Eddy selanjutnya membuat Dinda senang.



‘*Bagus. Nanti tiap hari aku akan pantau Mbok bawakan apa buat Papa. Aku enggak mau Papa tiap hari jajan. Karena makanan di luar itu tidak sehat buat Papa, walau buat orang lain enggak jadi masalah*,’  Dinda selalu memberi atensi seperti ini buat Eddy sehingga siapa pun akan jatuh hati pada kebaikannya.



“Pa, aku pulang cepat ya,” Radit memberitahu Eddy saat mereka makan siang. Eddy pesan gado-gado buat makan siang kali ini. Sedang Adit memakan bekal yang dari Dinda.



“Ada masalah apa?” tanya Eddy.



“Lagian kalau mau pulang, ya pulang aja. Memang nya Papa larang,” kata Eddy selanjutnya.



“Aku mau packing Pa. Baju aku,perlengkapan cukur dan segala macam nya. Aku takut anak-anak mencari ku saat mereka bangun,” jelas Adit.



“Kan bisa video call kalau mereka sudah bangun. Sekarang kan gampang kata Eddy.



“Asal Dinda sudah membuka jalur komunikasi semua tentu lebih mudah,” kata Eddy selanjutnya.



“Iya sih kalau komunikasi terbuka memang lebih mudah karena bisa video call tapi setidaknya mereka butuh kehadiran ku secara fisik,” jawab Adit.



“Ya sudah enggak apa apa.”



“Aku tetap akan berangkat sebelum jam pulang kerja. Jadinya masih lancar jalannya. Kalau sudah jam pulang kerja di jalan tol pun macet menuju ke arah Bekasi,” kata Adit.



“Benar banget,” jawab Eddy tentang kondisi jalan raya saat waktu pulang kerja.



“Kapan-kapan Papa ke sana Pa. Lihat kondisi lingkungannya anak-anak tinggal,” saran Adit.



“Enggak perlu lah, nanti Dinda merasa di intervensi. Biarin aja lah enggak apa apa. Menurut cerita kamu kan dia juga bukan tinggal di tempat yang kumuh atau tempat sempit,” jawab Eddy.



“Enggak kumuh kok Pa. Ruangan nya juga super besar. Kamarnya aja sebesar kamar di sini, ada 2 kamar. Lalu ruang tamu los karena enggak ada ruang tamu. Jadi ruang tengah keluarga besar banget. Ada sepetak dapur yang dia kasih pagar sehingga anak-anak tidak bisa masuk ke dapur. Juga ada pintu ke teras belakang,” Adit menjelaskan kondisi tempat tinggal dua Alkav muda bersama Dinda.



“Ya sudah itu sudah jauh dari cukup. Enggak perlu Papa khawatirkan,” jawab Eddy sambil menghabiskan gado-gado miliknya.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok