GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MALANGNYA MELIANA



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Apa maksudmu?” tanya Meliana lirih dan sedikit gugup saat tahu kalau yang menegurnya adalah Dinda.



“Kamu tahu kan maksudku? Kenapa pakai pura-pura enggak mengerti? Kali aja kamu pengin ikut dibayarin sama suamiku juga seperti kamu ingin tidur dengan suamiku!” seru Dinda ketus dan sedikit keras membuat para ibu di kasir sebelah dan yang di belakang Meliana mendengar. 3 deret antrian kasir semua terfokus pada kata-kata Dinda.



“Eh Mbak, mbak tahu enggak yang perempuan viral kemarin? Ketua Yayasan mau memperkosa orang tua siswa di kantornya?” tanya Dinda dengan julid kepada kasir yang akan menghitung belanjaan yang baru Meliana turunkan dari trolly. Tentu saja suara Dinda membuat perhatian para ibu tambah fokus pada Meliana.



“Ini nih Mbak orangnya, dia dua kali loh kasih kopi suami saya supaya mabuk tidur lalu dia mencoba melecehkan suami saya. Viral lo Mbak.” beberapa ibu yang ada di sekitar situ langsung bergumam merespon kata-kata Dinda yang sangat jelas itu. Meliana tertunduk tak berani menatap siapa pun.



“Oh ini perempuan enggak tau malu itu? Pada orang tua siswa aja dia begitu. Enggak tahu malu ya. Padahal ketua Yayasan!” cetus seorang ibu dengan keras. Akhirnya banyak yang ikut memberi tanggapan.



Dinda melenggang, dia memang masih benci dan sangat benci pada Meliana terlebih sekarang. Itu bukan sifat Dinda banget, tapi dia memang enggak bisa menahan langkah kakinya untuk mendekati Meliana tadi.



Tentu saja kasir dan beberapa orang tahu masalah viral itu, Meliana sangat malu di akhirnya tidak jadi belanja.



“Bu kalau ambil barang tanggung jawab dong Bu. Masa ditinggal begitu aja? Malu ya Bu di kasih tahu faktanya bahwa Ibu memang suka godain suami orang?” kata si kasir keki, karena satu keranjang belanjaan Meliana harus dikembalikan oleh teman-temannya bagian stock barang.



“Perempuan seperti itu memang orang enggak punya malu. Boro-boro tanggung jawab sama belanjaan, sama suami orang aja dia mau rebut.” Sahut konsumen di deretan lainnya.



Adit melihat keributan di ujung sana dia tahu pasti Dinda yang melakukan. dari awal Adit tahu istrinya tak ada di kursi tunggu dekat pintu keluar kasir tempat dia antri.



“Dari mana Yank?” tanya Adit saat dia sudah selesai belanja



“Habis menyapa Meliana. Kenapa? Mas enggak suka?” tanya Dinda ketus.



“Siapa yang bilang Mas enggak suka? Mas cuma tanya kamu dari mana?”



“Ya itu, tadi aku habis menyapa Meliana aja,” jawab Dinda santai tanpa dosa.



“Lalu kenapa rame?” tanya Adit curiga.



“Mas enggak suka ya aku nanyain dia?” tanya Dinda keras.



“Mas mau sama dia? Oke aku tinggal,” Dinda langsung berbalik badan tapi Adit sempat memegang tangannya lalu dia tarik dan dia peluk erat tubuh istrinya yang sedang marah.



“Mas enggak bilang enggak suka Yank. Mas cuma tanya kamu dari mana? Gitu aja,” kata Adit pelan. Entah mengapa Dinda sering emosi seperti ini meledak-benda tanpa sesuatu yang jelas.



“Aku tanya sama Meliana dia mau dibayarin kamu apa enggak,” jelas Dinda.




“Karena dia merasa kamu itu milik dia, kamu itu bisa diajak tidur makanya ya kamu wajib bayarin dia. Bahkan dia pernah kan mau bayarin belanjaan dapurku karena merasa dia adalah bagian dirimu,” jelas Dinda. Dinda ingat Adit pernah cerita Meliana ingin membayari belanjaannya ketika bertemu di supermarket Bekasi.



“Ngapain juga Mas sama dia. Mas sudah punya perempuan terbaik sebagai istri dan terbaik sebagai ibu. Tak akan pernah Mas berpaling.” Jelas Adit.



“Ayo ah kita pulang, kasihan anak-anak,” kalau sudah bicara seperti ini Dinda pasti akan luluh karena fokusnya adalah anak-anak.



Adit langsung mendorong trolinya sambil memeluk bahu Dinda.



\*‘Kenapa ya Dinda sekarang sering banget meledak-ledak, emosinya sangat tinggi serta cepat tersinggung,’ \*batin Adit sambil memasukkan barang-barang belanjaan ke bagasi lalu mendorong trolly bekas pakainya ke lokasi buat trolly di parkiran itu.



“Mas boleh nanya enggak?” tanya Adit saat mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah.



“Kenapa?” tanya Dinda.



“Mas lagi bingung aja kamu kok sekarang meledak-ledak dan sering marah padahal biasanya kamu enggak seperti itu,” tanya Adit pelan dan lembut agar Dinda tak terpancing emosinya.



“Aku enggak marah-marah kok,” balas Dinda cepat.



“Lah ini sekarang marah lagi kan, cuma Mas tanya kayak gitu,” jawab Adit.



Dinda tersadar kalau memang sekarang dia sering marah dan tadi saat nyamperin Meliana juga entah mengapa dia bisa julid seperti itu. Padahal dulu saat Adit dengan Shalimah yang jelas-jelas sudah tinggal serumah dan memang sudah melakukan hal terlarang sebelum menikah pun, dia tidak semarah ini. Begitu pun terhadap Merrydian, Dinda pun tidak sebenci sekarang. Walau jelas-jelas Merrydian juga selalu menyerang Adit di kantor.



Kebencian pada Meliana sangat membuat Dinda ingin membalaskan dendam dengan cara apa pun. Belum puas dia memviralkan di media sosial. Dia ingin langsung menikam Meliana, karena sejak kejadian di kantor Yayasan dia belum pernah bertemu langsung dengan Meliana. Baru tadi, itu pun sebentar tapi dia tetap akan terus melakukannya lagi.



Ternyata tanpa diduga ada yang membuat rekaman ketika Dinda mulai memberitahu siapa Meliana di kasir supermarket. Dan kasus tersebut kembali viral setelah di posting oleh seorang perekam. Komentar ibu-ibu untuk Meliana langsung bermunculan. Kebetulan sebelum posting ibu itu mencari akun Meliana lebih dulu di postingan viral sebelumnya, jadi dia me-mention akun Meliana. Langsung banyak pendapat atau komen yang menohok, dan tak satu pun komen yang membela pelakor seperti dirinya.



‘*Perempuan seperti itu enggak perlu dikasih hati, kucilkan aja*.’



‘*Hati-hati di setiap tempat kalau ada perempuan itu, entah itu di pasar di mall atau di mana pun pasti dia cari celah mendekati suami kita*.’



‘*Perempuan enggak tahu diri*.’



‘*Perempuan enggak punya malu*.’



‘*Dia mah kegatelan*.’



Dan banyak lagi makian dan hujatan dari para ibu di postingan itu.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok.