GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SAMBAL DAN ANEKA LALAPAN



“Ingat ya, kalian bikin untuk diri sendiri. Tak usah melihat temannya bikin apa karena belum tentu selera kalian sama. Kalau tidak bisa kalian bisa minta tolong simbok atau minta tolong Bunda. Nanti Bunda bantu,” kata Dinda. Dia sudah memotong paprika merah dan kuning untuk anak-anak yang menginginkannya.


Saat itulah Velove dan Bagas kembali dari rumah sakit. Wika tak mau ketinggalan pulang dari rumah sakit dia mampir dulu untuk makan siang bareng nanti sehabis makan dia akan langsung pulang ke rumahnya. Kedua perempuan itu langsung mencuci tangan dan bersiap membantu Dinda melayani anak-anak.


Velove melihat Menur membuat masakannya sendiri tentu saja dia senang. Putra bungsu Bagas sedang dibantu oleh Dinda untuk membuat masakan sendiri.  Tentu yang masih kecil-kecil tak bisa dilepas. Dinda, Velove dan Wika menanyakan apa yang anak-anak inginkan lalu dibantu. Mayoritas anak-anak itu sukanya hanya sosis dan bakso. Kecuali anaknya Adit yang sibuk dengan fillet ikan dan fillet ayam daripada sosis maupun bakso.


“Ini ikan sama udang dan ayamnya sudah dimarinasi jadi tinggal bakar loh kalian nggak mau pakai ini?” tanya Wika.


Anak-anak lain hanya menggeleng. Sekali lagi mereka hanya senang bakso dan sosis serta keju beda dengan anak Adit yang lebih memilih ayam, udang dan ikan sebagai menu lauk mereka.


Tentu saja anak-anak senang membuat barbeque sendiri mereka juga sudah membuka nasi yang dibungkus daun dan sudah dibakar oleh mbok nasinya juga nasi bakar benar-benar nikmat.


“Yang sudah punya lauk boleh mulai makan, nanti bikin lagi nggak apa-apa yang penting mulai makan.” ucap Velove.


Tarida yang awalnya tidak suka masak kali ini dia benar-benar terjun full. Dia juga membantu anak-anak Puspa untuk membuat sate sesuai dengan keinginan adik-adiknya.


Para Bapak dilarang mendekat mereka boleh mendekat hanya untuk membuat foto atau video anaknya masing-masing. Yang membantu hanya Dinda, Velove, Wika dan para mbok juga para kakak misalnya Menur, Tarida dan Biyya serta Mischa tentunya.


Tentu saja para Bapak gatal ingin membantu tetapi dilarang oleh ibu komandan jadi mereka hanya melihat dari jauh.


Dinda membuat sate paprika dan udang juga sate paprika dan keju untuk para Bapak dan ibu karena anak-anak tak terlalu suka dengan paprika. Mereka mengira rasa paprika pedas seperti cabe.


Menur mengambil satu sate yang sudah selesai dia bakar lalu dia suapi pada Bagas.


“Enak nggak Dad?” tanya Menur.


“Enak. Super enak,” ucap Bagas memuji hasil masakan putrinya.


“Mommy nggak dikasih?” protes Velove.


“Para mama nanti ada masakan sendiri, aku cuma kasih Daddy saja,” kata Menur dengan kenesnya.


“Wah Daddy sudah dikasih, Papi kok nggak dikasih?” kata Ajat sambil terus membuat video.


“Ini Papi dari aku saja,” kata Ghaylan. Ghaylan menyuapi Ajat sate paprika udang yang dia buat.


“Terima kasih Sayangnya Papi. Nikmat betul sate udangmu,” puji Ajat.


“Tadi kak Menur duluan tuh yang nyuapin Daddy,” kata Gathbiyya.


“Ya sudah. Yang lain sekarang nggak usah nyuapin. Kalian makan sendiri-sendiri hasil masakan kalian. Hasil olahan kalian. Kalau ada yang mau tambah saus ini sausnya,” jawab Velove


Saat itu tiga ibu yang di rumah baru satu yang kembali yaitu Santi.


“Mami sini Mi, ini enak banget tau Mi,” kata Tarida memperlihatkan hasil sate yang dia buat.


“Kak Tarida bikinnya apa saja?” tanya Santi. Biru sudah pindah tangan ke Fahrul yang memintanya.


“Aku tadi bikin sosis sama bakso saja, tambah ke,” balas Tarida.


“Kenapa nggak pakai ikan sama ayam? Enak lho sama seperti Biyya dan Ghibran tuh makanya ikan sama ayam,” ucap Santi.


“Aku males pegangnya, kayaknya tangan jadi kotor,” balas Tarida.


“Itu karena ikan, ayam dan udang sudah di marinasi Sayang.”


“Ini kak Rida enak deh, cobain,” kata Biyya sambil memberikan sate udang.


Tarida pun mengambil satu udang yang sudah di bakar oleh Biyya.


“Ih enak banget Biyya, benar enak banget. Kakak akan bikin lagi ah,” kata Tarida. Dia pun lalu langsung meracik lagi sate udang paprika serta ayam seperti yang Biyya buat.


Anak-anak terus nambah dan nambah mereka mana bisa makan sedikit bila hasil masakannya sendiri. Para orang tuanya tersenyum melihat kebahagiaan anak-anak.


“Ayo para Bapak para Ibu, ini sudah siap nasi bakar juga ayam geprek,” kata Dinda. Saat itu Puspa dan Ratih datang bersamaan.


Rupanya mbok juga menyediakan teri pedasnya di luar racikan yang dibungkus. Jadi kalau mau nambah teri pedasnya ada di mangkok.


“Wah ini super! Kalau sudah ketemu teri seperti ini rasanya dunia terlupakan,” kata Ajat.


Sambel gepreknya dan lalapannya banyak banget. Dinda menyiapkan aneka macam jenis lalapan. Ada ada daun pohpohan, ada timun. ada kacang panjang mentah, kol mentah, terong goreng, kenikir mentah dan daun pepaya rebus. Benar-benar mantul untuk ukuran makan siang.