GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
PERSIAPAN MEETING UNTUK KUNJUNGAN KE PANTI JOMPO



“Minggu depan jadwalnya Fahrul ya?” tanya Dinda, dia mengetuk-ngetuk meja dengan pensil di tangannya.


“Iya Bu, jadwal pak Fahrul,” balas Irene.


“Oke, kamu atur jadwal untuk pertemuan besok jam 01.00 siang, seperti biasa sesudah makan siang.” kata Dinda lagi.


Sudah Bu sudah sejak 3 hari lalu jadwal diumumkan, besok pertemuan rutin untuk membahas kegiatan minggu depan. Yang pak Fahrul bikin itu ke panti jompo Bu, bukan panti asuhan balita atau anak-anak atau remaja pak Fahrul pilih panti jompo.”


“Biarkan saja sesuai dengan pilihan kepala cabang. Kita ngikutin saja,” kata Dinda.


“Ya Bu saya mengerti. Pak Fahrul juga sudah memberi list apa yang kita butuhkan. Sudah minta data dari sana berapa jumlah penghuni lalu kebutuhan yang sangat mereka butuhkan apa saja,  datanya sudah ada dari panti jompo tersebut.”


“Yang perlu kita ketahui panti jompo atau panti asuhan atau panti asuhan balita itu bukan yang pemerintah punya. Saya sudah bilang kan tidak boleh pemerintah punya karena pemerintah punya itu sudah di subsidi full, jadi sumbangan kita itu tak ada artinya.”


“Perhatikan apakah sudah ada donatur tetap yang qualified. Maksudnya mereka punya donatur tetap yang memberi sumbangan besar secara rutin. Kita jangan ambil lahan itu karena berarti panti jompo atau panti asuhan tersebut tidak butuh uluran tangan lagi, sudah ada perusahaan besar yang menanganinya. Cari yang tidak terjangkau oleh mata pengusaha, yang tidak terjangkau oleh media, karena biasanya pengusaha besar itu memberi sumbangan karena diekspos media. Kita bicara dalam senyap.”


“Saya mengerti Bu, tapi ada baiknya besok kita ulas lagi di pertemuan rutin. Mungkin untuk tahap pertama panti jompo yang dipilih pak Fahrul ini tidak memenuhi kriteria yang Ibu sebut, karena sudah terlanjur memilih dan waktunya sudah tinggal minggu depan tapi untuk bulan-bulan berikutnya kan itu bisa kita revisi tujuannya Bu,” kata Irene.


“Sepertinya saya sudah pernah ngomong kok bulan lalu tentang acuan kunjungan kita itu ke mana saja. tapi benar sih besok saya harus bahas itu lagi, agar tidak salah ambil sasaran dan ingat tidak boleh ada media satu pun. Kita benar-benar harus bekerja dalam senyap. Tak boleh diekspos, tak boleh ada yang posting tentang kegiatan kita sedang bakti sosial di panti. Boleh posting tapi tidak menyebutkan kita sedang bakti sosial atau apa pun. Posting saja bahwa kita sedang di sana sudah. Bukan memberi bantuan atau segala macam yang terlihat riya.”


“Kamu tapi catat dulu poinnya, jadi kalau saya besok lupa saat bicara kamu beri garis besar itu.” kata Dinda.


“Ya Bu. Ini setiap hari saya catat poin-poin yang Ibu instruksikan,” kata Irene.


“Apa lagi yang belum kita bahas?”


“Saya ada pertanyaan sejak kemarin Bu. Saya berpikir tentang makan siang yang akan kita adakan di panti jompo tersebut Bu. Saya berpikirnya tentang menu. Kalau kita pesan di luar, takutnya itu tidak sesuai dengan menu diet para lansia. Beberapa lansia itu tidak boleh makan A atau makan B atau pakai garam dan segala macamnya Bu. Jadi kalau kita beli di luar takutnya merusak tatanan diet mereka. Itu yang saya pertanyakan sejak kemarin.”


“Kalau kita menyediakan dan tidak termakan kan mubaxir, sebanyak itu hanya buat pengurusnya saja Bu. Jadi enaknya bagaimana? Apa kita berikan uang kepada pengurus panti untuk menyediakan makan siang bagi mereka atau kita diskusi lagi besok?”


“Saya juga sejak kemarin berpikir begitu. Kita nggak mungkin makan siang dengan menu yang sama dengan para penghuni panti karena mereka masing-masing punya diet tertentu. Mungkin ada yang diabetes tidak boleh jenis sesuatu, atau ada yang kolesterol tingggi tidak boleh jenis makanan tertentu. Itu yang harus kita antisipasi.”


“Kira-kira Fahrul sudah pesan makanan belum ya?”


“Saya belum tanya pak Fahrul Bu,” jawab Irene.


“Oke kamu catat soal itu,” kata Dinda lagi.