GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MAAF BUKAN HANYA SEKEDAR DIUCAP



“Maksud kamu yang dikirim oleh perempuan itu? Pasti itu rekayasa. Aku yakin itu Lovv, jangan percayai begitu saja,” ujar Dinda.


“Biar aja nanti akan aku buktikan di pengadilan,” jawab Velove tegas. Dia sudah terlalu sakit hati.


“Kalau itu berupa foto atau video kamu cek dulu kebenarannya. Kamu tanya ke ahlinya itu foto editan atau bukan? Zaman sekarang gampang banget bikin foto atau video editan. Kamu inget kasus video editan artis yang selingkuh sampai ada video pornonya? Ternyata bukan mereka kan?”


“Iya mbak, kamu jangan cepat-cepat ambil keputusan,” ujar Puspa.


“Aku enggak bisa ngomong apa-apa kalau soal itu karena aku sama sekali enggak tahu. Aku bahkan tahu aku diselingkuhi aja setelah kasus di gelar di kantor.”


“Selama dia di rumah aku enggak tahu kalau dia punya cem-ceman. Bahkan sampai main threesome benar-benar menjijikan,” kata Puspa. Dia jadi ingat bagaimana Utoro, Reynaldi dan Angelica tidur bersama bertiga. Tak bisa terbayangkan oleh dirinya yang polos.


Velove jadi penasaran dengan yang dikatakan Dinda soal foto editan. Dia lalu mencari di Google siapa yang bisa dia minta tolong untuk mengetahui foto yang dia punya itu editan atau bukan.


Dari Google Velove dapat alamat terdekat dengan tempat tinggalnya yang bisa mendeteksi foto tersebut editan atau bukan.


Bagas ketar-ketir hari ini adalah persidangan pertama proses cerainya dengan Velove. Orang tuanya belum diberitahu, begitu pun orang tua Velove. Mereka masih menjaga rapat masalah ini. Di depan mamanya yang sedang menginap di rumah, Bagas dan Velove masih bersikap biasa saja.


“Dit,” panggil Eddy kepada Radit. Sambil mengedikkan kepala agar Adit mengikutinya.


“Ya Pa?” Radit akan menghampiri Eddy. Dia baru saja membantu Dinda menjemur bayi-bayi mereka yang sudah mulai pecicilan di usia 7 bulan. Dinda sengaja menjemur dengan memberi sarapan sehingga anak-anak tidak terlalu jenuh dijemur tanpa kegiatan.


Karena menjemur mereka Dinda dan Adit juga sama-sama kena sinar matahari pagi membuat mereka sehat juga sehat.


Hari ini ketiga kakak tidak sekolah, Iban dan Fari sudah SD. Sekolah sudah tiap hari dari hari Senin hingga hari Jumat. Tap hari ini semua libur karena guru ada kegiatan sendiri. Sehingga ketiga kakak juga ikut sarapan di kebun. Mereka juga sama seperti Adit-Adit bayinya hanya menggunakan pakaian dalam saja. Kalau Adit-Adit tentu hanya memakai diapers.


“Bun aku ke papa sebentar ya? Sepertinya Papa enggak mau bicara di sini,” bisik Adit.


“Ya, nanti ceritain aku ya?” kata Dinda mengerti. Mereka bertiga memang sangat hati-hati bicara di depan anak-anak terutama Iban dan Fari yang mulai kritis bertanya.


“Oke,” jawab Adit sambil berlalu dari teras belakang.


“Mbok Marni, Bu Asih tolong bantu Dinda. Saya dipanggil Papa,” kata Adit saat melewati dapur pada kedua mbok yang ada di sana.


Adit mencari Eddy yang tadi memanggilnya ke belakang. Ternyata Eddy ada di ruang tengah.


“Kenapa Pa?” tanya Adit langsung.


“Papa barusan dapat telepon dari pakdemu, kakaknya mama,” jelas Eddy.


“Ya, ada apa pakde telepon?”


“Tasih kritis di rumah sakit polisi,” jawab Eddy.


“Loh sakit apa?” tanya Adit.


“Kena DB, tapi katanya juga ada komplikasi ginjal. Jadi sudah kritis. Barusan kakaknya minta supaya kamu dan Dinda datang karena dia ingin minta maaf pada kalian berdua sebagai permintaan terakhir.”


“Aku hari ini jadwalku penuh Pa. Aku belum tahu jadwalnya Dinda. Nanti aku beritahu apa aku bisa geser jadwal pagi, agar tidak telat  ke rumah sakit. Namanya orang sudah kritis. Pagi-pagi sebelum berangkat kantor aku ke sana dulu berdua Dinda bila dia bisa,” kata Adit.


“Habis ini aku bicara ke Dinda ya Pa. Sehabis kami membereskan anak-anak yang berjemur. Karena aku belum bantu Dinda,” jawab Adit lagi.


Sehabis berjemur anak-anak biasanya dilap dengan handuk kering lalu diberi colonge agar segar tak gerah, baru mereka dipakaikan baju.


“Papa minta kamu dan Dinda menyempatkan diri. Walau Tasih memang sangat salah besar sehingga membuat Dinda sampai koma dan mencoba membunuhnya tetap aja kita wajib memberi maaf.” Jelas Eddy.


“Kalau maaf kayanya mudah diucapkan. Tapi kalau tidak ikhlas di hati percuma Pa. Sebenarnya itu sih poinnya. Mau kita seribu kali bilang memaafkan, tetap saja enggak ada gunanya kalau kita masih sakit hati atau belum ikhlas.”


“Tidak semudah mengucapkan kata-kata Pa. Sebenarnya tidak perlu diminta pun kalau kita memang sudah ikhlas memaafkan itu sudah kok tak perlu diucap,” bantah Adit.


“Papa mengerti pandangan kamu, tetap saja di masyarakat umum harus ada pembicaraan,” Eddy meminta Adit agar mengikuti kebiasaan yang ada.


“Baik Pa, aku enggak janjiin ya. Seperti yang tadi aku bilang, tergantung Dinda dia bisa datang atau enggak. Kalau jadwal aku sih penuh tapi aku bisa geser lah kalau memang Dindanya bisa datang.”