
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Hari ini Ghifari dan Ghibran masih sekolah. Dinda juga pamit kepada para guru memberitahu bahwa Ghifari dan Ghibran akan pergi ke Australia mungkin sekitar satu minggu hingga 10 hari jadi mereka izin 2 minggu.
“Hari ini Ayah yang akan nemani Bunda nganter kalian ke sekolah ya,” kata Adit di depan Mbok Asih dan Mbok Marni. Tentu saja Dinda tak enak mendengar permintaan seperti itu. Tak mungkin Dinda melarang karena akan menjatuhkan kewibawaan Adit di mata para asisten rumah tangga.
Adit melihat sekolah yang Dinda daftarkan untuk anak-anak mereka. Sekolah terbaik diseputaran rumahnya. Ada banyak sekolah baik lain tapi jauh. Pagi-pagi tentu macet bila cari yang jauh. Dan Dinda tak mau anaknya sudah lelah di jalan sebelum sampai sekolah.
Adit mengantar mereka hingga depan kelas karena keduanya memegang tangan Adit tak mau lepas. Si kembar ingin memamerkan kalau mereka juga diantar sosok ayah, seperti beberapa teman yang sering diantar papanya.
“Ini papanya?” tanya Miss Julia, guru kelas Ghibran dan Ghifari kali ini.
“Ayah,” balas Ghibran yang lebih jelas bicara dari sang kakak.
“Ya Miss, ini ayahnya anak-anak,” jawab Dinda. Hari itu memang mereka berdua tidak ada simbok. Adit memang akan menunggu anak-anak di sekolah, bukan hanya mengantar.
Adit dan Dinda menunggu di sisi kelas mereka memang tidak memangku anak-anak seperti beberapa siswa yang masih duduk dipangku pengantarnya.
Hari ini ada kegiatan dengan orang tua, Ghifari dan Ghibran beruntung karena orang tuanya datang keduanya. Tetapi Ghifari dan Ghibran maunya bersama ayah mereka tidak mau bersama bundanya sehingga satu orang tua bersama dua anak.
Kegiatan hari ini siswa disuruh membuat rantai dari kertas orang tua yang menggunting anak-anak yang mengelem. Dan Ghibran maupun Ghifari maunya dengan ayahnya yang menggunting, sehingga Adit yang melakukan semuanya itu untuk dua putranya. Dia tentu tak keberatan ikut berperan dalam kegiatan anak-anak.
Dinda membuat video kebersamaan Adit dan anak-anak.
“Besok biar aku yang antar ke bandara ya,” pinta Adit saat di mobil.
“Nggak perlu, aku naik taksi aja,” kata Dinda.
“Sampai segitu bencinya kamu, sehingga aku enggak boleh nganterin kamu ke bandara?” tanya Adit.
Akhirnya Dinda diam dan membiarkan Adit besok akan mengantar ke bandara sesuai dengan keinginannya.
Dinda membawa 2 koper besar untuk mereka bertiga. Dinda mengenakan CHILD SAFETY WALKING pada kedua tangan anak-anak. Tangan keduanya terhubung dengan tangannya sehingga tak akan hilang salah satu bila dia sedang urus yang lain.

Ketika Adit sedang menurunkan dua koper besar dan menaruh di troli, Adit tanpa sengaja mendengar ada yang memanggil Dinda tentu saja Adit kaget.
“Loh mau ke mana pak Wahid?” tanya Dinda ketika mendengar dia dipanggil.
“Saya ada perjalanan ke Australia,” kata Wahid.
Adit langsung curiga. Kok bisa barengan ya? Apa Wahid selalu stalking tentang Dinda? Tapi bagaimana dia tahu kalau Dinda pesan tiket ke Australia sedang Dinda tak pernah mengumumkan dia akan liburan. Adit benar-benar terpukul melihat Wahid juga pergi ke tempat yang Dinda tuju.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok.