
“Apa maksud Inang?” tanya Sondang setelah berhasil meredam rasa terkejutnya.
“Tadi Pagi tadi kak Rida marah-marah pada Gultom,” ucap inang lirih.
“Kenapa Inang?” tanya Sondang berupaya terus meredam kaget dan amarahnya.
“Satu hari sebelumnya saat Tarida ingin ke toko buku dia bertemu dengan Niken. Tentu saja Tarida tak mau melihat wajah Niken, dia langsung berpaling. Rupanya Niken tak enak hati diperlakukan seperti itu oleh anak kecil, dia langsung menghampiri Tarida dan mengatakan jangan marah pada dirinya. Seharusnya Tarida itu benci pada papanya karena papanya yang berbohong mengatakan bahwa mamanya mandul. Tarida tentu saja marah mendengar kata-kata Niken seperti itu. Dia langsung berteriak : seharusnya tante berpikir kalau diperlakukan seperti itu oleh papa. Tante tanya ke mama benar nggak. Tante memang tidak pintar sehingga mau dikelabui oleh laki-laki! Begitu kata-kata Tarida. Inang tanya sama temannya karena Tarida tak mau cerita secara lengkap dan aku juga dapat cerita lengkap itu dari Gultom.”
“Berarti Niken itu memang benar-benar tidak pintar. Masa anak umur segitu malah diminta mengerti posisi dia sebagai istri kedua? Itu kan benar-benar stupid,” kata Sondang. Dia pun marah karena mantan istri simpanan Gultom menegur anak-anaknya.
“Itulah yang membuat Tarida mengamuk dan banyak orang yang membuat videonya.”
“Semua orang tentu saja mengejek Niken yang mau saja jadi istri simpanan diam-diam. Kalau memang dia percaya bahwa istri pertama calon suaminya mandul seharusnya dia kroscek, bukan menjadi istri diam-diam kata orang-orang itu.”
“Lalu tadi pagi Tarida langsung ngamuk pada papanya, sehingga dia langsung beli nomor. Itu yang membuat akhirnya Gultom putus asa dan mungkin langsung mencoba bunuh diri karena merasa tak akan mungkin lagi bisa menghubungi Tarida dan Icha karena mereka sudah mengancam tidak mau kenal dengan Gultom lagi.”
Sondang tak habis pikir. dia juga sudah merasa tak mampu lagi menjembatani permusuhan antara Gultom dan kedua anaknya.
Dia memang sangat terluka karena kelakuan Gultom, tapi anak-anak lebih terluka karena merasa ditiadakan oleh Gultom. Luka anak-anak tak ada yang bisa mengobati walau ditebus dengan apa pun. Kata-kata Gultom yang berbohong bahwa dirinya adalah mandul membuat mereka merasa terhina.
Padahal Sondang sudah mencoba menjembatani dengan membawa anak-anak ke psikolog tetapi tetap saja jiwa mereka tetap tak tergoyahkan terlebih Icha yang keras kepala.
“Aku juga tahu hal itu. Itu sebabnya aku bilang sama Gultom kami tak bisa membantu dia untuk menjadi juru damai bagi pihaknya dan pihak anak-anak.” balas inang.
“Dengan pemikiran itu mungkin Gultom tambah putus asa, karena maaf darimu saja belum didapat. Sekarang tambah kepastian anak-anak menjauhinya.”
“Itu sudah resiko yang harus dia tempuh saat dia bermain api. Kalau sekarang dia terbakar ya salah sendiri,” jawab Sondang.
“Jujur aku datang ke sini hanya karena memandang Inang saja. Kalau hanya untuk dia aku sama sekali tak mau peduli. Jadi Inang harus tahu bukan aku tidak mau menggantikan Inang, tapi aku tak akan pernah mau meladeni dan menjaga dia apa pun kondisinya. Mantan istrinya bukan cuma aku. Kalau memang mantan istri harus menjaga ya semuanya harus jaga gantian,” kata Sondang tegas.
“Tak perlu. Aku tak ingin dua mantannya itu juga datang ke sini. Cukup kamu aja sesekali datang melihat aku. Aku tak butuh orang untuk gantiin aku walau itu adalah mantan istrinya Gultom. Perempuan-perempuan tak pintar itu memang seharusnya berpikir ulang. Kenapa mau ditipu dengan mengatakan istri pertama mandul tanpa mengecek kebenarannya pada kamu. Kalau mereka tidak menemuimu, paling tidak mereka menyelidiki dan mereka tidak akan tertipu karena selama ini kamu dan anak-anak tak pernah sembunyi-sembunyi berjalan ke mana pun,” ucap inang.
“Padahal aku ke gereja selalu bawa anak-anak. Bagaimana mungkin mereka tak tahu itu anak aku ya?” kata Sondang.
“Mungkin Gultom mengatakan itu adalah keponakan-keponakan kalian yang tinggal bersama untuk menghiburmu karena kamu tak punya anak. Bisa aja kan seperti itu?” kata inang.
“Oh iya Inang. Mungkin seperti itu sehingga mereka tak mengira kalau Tarida dan Theresia adalah anak kami. Mereka mungkin mengira itu adalah cucu Opung dari anak-anak yang lain,” kata Sondang.
“Aku rasa juga seperti itu. Aneh saja mereka mau datang ke gereja melihat suaminya datang bersama istri sahnya,” ucap inang.