GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
PERTEMUAN TAK SENGAJA



“Nggak nyangka ya Yah, kita sudah sampai sini lagi. entah bulan madu kita ke berapa di sini kali ini,” kata Dinda. Mereka tak pernah bosan datang ke tower ini setiap kali ke Sidney. Di sini sembilan lalu pertama kali mereka honeymoon setelah pernikahan kedua mereka dan langsung jadi Ghaidan. Satu-satunya anak mereka yang tak kembar.


Mereka memang sedang ke Sydney tower. Mereka di sini untuk belanja kebutuhan tokonya Dinda yang semakin maju. Padahal tanpa usaha ini keuangan Dinda sudah lebih dari cukup. Tapi dia enjoy menjalani. Lagipula banyak perut yang bergantung pada usaha ini. Sehingga Dinda tak mau menutup usaha sampingannya ini.


Mereka memang hanya berdua, anak-anak sedang sibuk sekolah dan mereka tak mungkin lagi dibawa-bawa seperti dulu saat masih kecil-kecil. Dinda tak mau membiasakan anak-anak sering membolos.


“Aku nggak pernah bosan mengingat bagaimana aku jungkir balik mencarimu ketika itu. Aku juga nggak pernah bosan mengingat bagaimana aku cari cara supaya bisa dekat kalian. Jadi waktu kalian pesan tiket ke Sidney, aku juga langsung pesan tiket. Sayang tiket hari yang sudah habis dan esok harinya aku ada janjian dengan klien besar. Sayang kalau dibatalkan. Seandainya saja aku tahu kepergianmu itu satu minggu sebelumnya, tentu klien bisa aku pending atau aku majukan. Klien dari Prancis mereka sudah datang, nggak mungkin aku dan papa nggak hadir saat itu. Untungnya aku bisa menyusul tepat di hari ulang tahun si kembar,” kata Radite memeluk mesra bahu istrinya.


“Inget nggak nekadnya kita langsung daftar akad nikah di sini?” kata Dinda.


“Ingatlah, tanpa persiapan apa pun, kita beli kebaya di butik bawah hotel waktu itu. Pokoknya asal pakaiannya berbeda dengan pakaian kita sehari-hari dan kita todong orang di KBRI untuk menikahkan kita karena kita nggak ingin ada zina.” ujar Adit mengenang masa manis ketika itu. Adit tak berani menunda, karena takut Dinda berubah pikiran.


“Mungkin aku bisa ralat, lebih tepatnya yang tidak mau ada zina itu aku! Bukan kamu,” kata Dinda.


“Iya deh, aku tahu aku kotor,” jawab Adit.


“Kan kita sudah pernah bilang, masa lalu itu tak mungkin kita hapus. Jadi kalau sudah tahu dulu pernah kotor, jangan ulangi lagi,” ucap Dinda memeluk erat suaminya. Kalau dibahas pasti akan sakit terus tak akan pernah sembuh, sedang mereka sekarang punya enam buah hati yang tak bisa ditukar dengan apa pun.


“Ayah mau tahu nggak rasanya ketika dokter bilang aku hamil, sedang hasil pemeriksaanmu adalah kamu menjurus ke infertil?” kata Dinda.


“Eh iya, perasaanmu saat tahu hamil padahal sudah gugat cerai itu belum pernah kamu ceritakan,” jawab Adit.


“Aku takut banget. Super takut. Sampai aku bilang sama papa, apa lebih baik aku gugurin saja Pa? Papa langsung ngamuk,” kata Dinda memandang lekat netra suaminya.


“Bukan karena itu cucu papa, seandainya Adit bukan anak papa sekali pun, dengan probabilitas sangat kecil itu, kamu rela mau buang?”


“Aku takut Pa, sedang hasil pemeriksaan dokter adalah dia infertil, lalu aku hamil. Itu gimana Pa? Apa nanti orang engga tuduh aku selingkuh? Dan lebih parah kalau ada yang bilang ini anak papa karena kita dekat. Itu diskusi aku dan papa ketika itu,” jelas Dinda. Adit bisa membayangkan kalutnya Dinda kala itu.


“Akhirnya malam itu kami ke rumah dokter!”


“Ke rumahnya?” tanya Adit tak percaya.


“Iya. Dokter yang pertama itu kan sahabatnya papa waktu SMA dan mereka beda fakultas saat kuliah. Jadi papa kenal banget makanya dia bisa rekomendasiin kamu untuk diperiksakan untuk pemulihan ****** mu. semua kan karena papa kenal banget sama dia.”


“Om itu juga marahin aku habis-habisan. dia berpikir belum tentu dengan kondisi kamu saat itu, kamu akan bisa dapat anak lagi. Jadi terlalu bodoh dan naif kalau aku memikirkan omongan orang yang mencibir bahwa itu bukan anak kamu. Dan papa berani bersumpah walaupun bisa saja aku bohong, bahwa itu memang anakmu. Papa berani menjadi penjamin bahwa aku nggak pernah nakal atau pun main dengan orang lain.”


“Tapi tetap saja pulang dari rumah dokter itu aku kacau. Sangat kacau dan dokter kasih aku obat yang digunakan untuk dicampur di susu agar aku bisa tenang. Karena bahaya bila aku tidak tenang sedangkan aku sedang hamil.”


“Doa aku saat itu, kalau pun aku hamil. Aku tidak repot dengan kebiasaan ibu hamil yaitu morning sickness dan ngidam, karena aku sendirian!”


“Itu doaku saat itu, dan Allah memberi kemudahan. Aku memang benar-benar tidak ngidam maupun mengalami morning sickness,” kata Dinda.


“Ya alhamdulillah kamu tidak mengalaminya. Aku rela kok ngalamin itu dan kangen masa-masa itu. Kangen bagaimana aku jungkir balik setiap pagi tidak masuk apa pun. Hanya mau kopi hitam padahal aku tak suka kopi tanpa gula.”


Dinda memeluk suaminya. Saat itu tanpa sengaja Adit melihat sosok yang hampir memporak-porandakan rumah tangganya. Siapa lagi kalau bukan Shalimah!