
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kamu serius bakal ganti mereka?” tanya Adit pada Dinda saat dia sedang minta ACC soal draft MOU yang akan Adit lakukan dengan klien baru nya.
“Mas enggak percaya sama aku?” tanya Dinda sambil memperhatikan draft dengan sangat teliti.
“Bukan begitu, tapi kan mereka loyalitasnya sudah terbukti sejak lama. Sudah 5 tahun mereka bergabung dengan perusahaan. Mereka masuk bareng kita berdua kan?” jawab Radite Alkav.
“Jangan cuma karena mereka terbiasa baik lalu kesalahan mereka tidak kita beri sanksi. Mas lihat angka kerugian yang auditor berikan? Itru seharga 3 rumah mewah. Mereka menggelapkan M bukan hanya sekdar ratusan juta seperti kamu. Kamu yang anak papa aja harus mengembalikan uang ratusan juta, masa mereka yang bukan anak papa dibiarkan mengambil dana dengan angka M?” jawab Dinda santai dan memberi ACC untuk draft yang Adit ajukan.
“Dua tahun lebih mereka enak-enakan, sejak aku terbaring koma tak ada harapan hidup. Mungkin mereka berharap aku mati agar bisa terus leluasa menggerogoti uang perusahaan. Sekarang aku gebrak kamu berpikiran seperti itu seakan kamu enggak setuju?”
“Ingat ya Mas, yang buktikan juga auditor independen kan? Bukan aku! Aku cuma kasih bahan saja. Mereka yang memeriksa. Kenapa kamu tanya aku serius mau ganti mereka atau enggak?” tanya Dinda.
“Ya enggak, aku cuma tanya kamu beneran serius atau enggak aja koq,” jawab Adit mencoba menurunkan emosi istrinya.
“Siapa pun termasuk kamu, kalau memang grogotin uang anak-anak pasti aku hajar! Aku hanya menjaga amanat. Semua ini milik mereka ini bukan perusahaanku penuh,” kata Dinda tegas. Kalau sudah bicara soal milik anak-anak, Dinda tak mau kompromi sama sekali.
Adit mengerti soal itu. Besok pagi tidak tanggung-tanggung Dinda akan memanggil manager HRD yaitu Utoro Bilowo, dan manager keuangan yaitu Rizaldy Thohir, juga pengacara perusahaan serta polisi berikut tim auditor yang akan memberikan bukti-bukti penyalah gunaan wewenang dan penyelewengan mereka sejak 2 tahun ini.
Gebrakan Dinda memang tidak tanggung-tanggung.
“Baiklah kalau memang kamu maunya seperti itu Mas setuju kok. Terima kasih ACC nya,” Adit mengecup kening Dinda dan berlalu dari ruangan sang istri.
“Kalau Mas kurang yakin sama aku, kamu lihat nanti apa yang aku bongkar di depan semua orang,” jawab Dinda sebelum suaminya meninggalkan ruangannya,
“Ingat, pertemuan kita akan langsung dihadiri oleh di pengacara perusahaan, juga ada dua tamu khusus. Kamu tunggu ya. Aku enggak main-main.” kata Adinda. Tentu saja Adit kaget kalau Dinda akan mengemukakan fakta lain.
“Jam berapa kita mau konferensi pers?” tanya Adit pagi ini karena dia lihat Dinda sudah hadir di kantor jam 08.36. hari ini jadwal anak-anak libur sekolah.
“Kita enggak konferensi pers kok, kita cuma meeting tertutup aja sama polisi, pengacara, auditor, dan 2 orang lain.” jawab Dinda dengan senyum. Mereka bertemu di lobby saat Dinda baru datang dan Adit akan menuju ruangan Eddy.
“Siapa yank?” tanya Adit.
“Lihat aja nanti, pokoknya semua sudah aku undang,” kata Dinda.
“Bu ruang rapat sudah siap,” lapor Shindu.
“Dan semua undangan yang dari saya pribadi, siapkan ke ruangan saya. Ingat jangan ketuker,”
“Baik Bu,” jawab Shindu.
“Kamu standby di ruang meeting ya. Kalau semua sudah lengkap kabari saya dengan telepon di ruang itu jangan di luar agar semua tahu kamu menghubungi saya.” pinta Dinda
“Akan saya laksanakan Bu,” jawab Shindu.
“Kalau semua sudah ready di ruang meeting baru saya akan ke sana karena tamu-tamu saya tidak boleh kelihatan oleh semua yang ada di ruang meeting sebelum mereka kumpul,” jelas Dinda selanjutnya,
“Baik Bu,” jawab Shindu.
Sementara itu Adit dan Eddy sudah menunggu di ruang meeting. Di sana sudah ada auditor, ada pengacara perusahaan, ada Utoro dan Rizaldy. Tentunya ada 5 orang anak baru yang di bawah bimbingan Shindu dan Dinda. Mereka juga membantu meletakan nama hadirin sesuai data yang Dinda minta.
Adit tak percaya Dinda tumben mengatur posisinya duduk di kiri Dinda. Kursi yang biasanya diduduki Shindu.
Semua tamu melihat ada nama TAMU 1, TAMU 2, TAMU 3, TAMU 4, dan TAMU 5 yang duduk diatur sedemikian rupa oleh Dinda tamu 5 duduk di ujung meja panjang berhadapan dengan Dinda, Selain nama tamu yang memang tertulis namanya seperti nama Adit, Eddy, Utoro dan yang lainnya.
*Siapa ya Tamu 1 sampai tamu 5 itu*? Demikian pertanyaan semua yang membaca nama tersebut.
Saat itu Shindhu datang dengan 6 orang polisi yang siap dengan pakaian lengkapnya. Satu orang duduk di meja panjang dengan nama Untari
”Bu di sini siap,” kata Shindu, semua mendengar bahwa Shindu menghubungi Dinda.
“Baik, saya akan datang 5 menit lagi, jawab Dinda.
“Baik Bu,” jawab Shindu.
“Mari Bapak Ibu kita langsung ke ruangan meeting, biar Bapak dan Ibu jelas mengapa Bapak dan Ibu semua saya undang,” beritahu Dinda pada 7 orang tamunya.
7? siapa aja hayo? Nanti ya eyang kasih tahu kalau kita sudah sampai di ruang meeting.
eyank akan buat novel baru, langsung cuss ke sana kalau sudah rilis yaa. Judulnya REGRETS
Ceritanya tentang penyesalan seorang suami yang menyia-nyiakan istri sah nya karena selalu memuja mantan calon istrinya yang telah meninggal!
Langsung kasih bintang 5 kalau sudah rilis yaa
Enggak boleh lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar biar eyank semangat nulis kelanjutan ceritanya
Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta.