
“Eh! Kamu sini!” kata Fahrul. Usianya sudah 13 tahun karena dia memang pernah tertinggal 1 tahun. Sedang Gathbiyya baru 8 tahun di kelas 5 dan dia juga sudah mendaftar untuk akselerasi agar bisa ikut ujian SD. Walau ketua yayasan bilang terlalu cepat, tapi Dinda dan Adit tidak melarang.
“Kalau Gathbiyya memang bisa, biarkan saja. Nanti toh dia akan berhenti saat dia tidak mampu entah di SMP atau pun SMA nya,” begitu kata Dinda saat Adit mendaftar akselarasi untuk putri mereka.
Gathbiyya tak menoleh saat diteriaki oleh Fahrul.
“Eh! Kamu tuh jangan sombong ya! Aku panggil kamu dari tadi loh,” kata Fahrul dengan marah. Dia merasa disepelekan anak perempuan kecil itu.
“Kita satu kelas sudah lebih dari 7 bulan dan kamu tahu nama saya! Kenapa kamu panggil dengan nama EH? Saya punya nama. Kalau kamu tahu sopan santun kamu panggil nama saya.” kata Gathbiyya tanpa terkenal takut.
“Sombong banget sih,” kata Fahrul sambil langsung hendak memukul Gathbiyya, tapi gadis itu mengelak. Merasa ‘dilawan’ Fahrul kembali menyerang sehingga kena dada anak perempuan kecil itu yang membuat sedikit tubuhnya terdorong ke belakang.
Ini namanya ular cari penggebuk! Yang sudah jago karate saja nggak berani melawan Gathbiyya. Karena merasa didahului Gathbiyya tak takut. Adit dan Dinda sudah memberi tahu semua anaknya tak usah takut bila benar karena di semua lini kelas maupun di luar sekolahan CCTV full memantau semua kegiatan siswa.
Karena didahului diserang Gathbiyya langsung melawan. Dia menarik tangan Fahrul, memutarnya dan membanting Fahrul tanpa rasa kasihan. Tentu saja beberapa siswa langsung berteriak dan ada yang lari memanggil guru atau siapa pun orang dewasa untuk menolong Fahrul.
Sehabis menjatuhkan Fahrul, Gathbiyya tidak berlari, dia menunggu orang yang hendak menolong Fahrul. Tak ada rasa gentar dalam hati gadis kecil itu. Dia tak takut disalahkan.
“Miss tanya sama Fahrul dan Miss lihat CCTV kalau mau panggil orang tua dia dan orang tua saya. Lihat dulu CCTV jangan sampai kejadian seperti Abang Ghibran terulang lagi. Kasusnya Steven dan orang tua yang ngamuk pada Abang saya,” kata Gathbiyya.
Gathbiyya meninggalkan arena, saat Miss Niken dan dua orang dewsa lainnya menolong Fahrul. Tidak ada rasa takut. Tentu saja bu Niken ingat kasusnya Ghibran yang dimaki-maki oleh orang tua Steven yaitu Lucas, sampai akhirnya Iban stress dan cukup lama dibawa ke psikiater. Stress bukan karena dia dimarahi oleh Lucas. Saat itu dia stres karena ayah dan ibunya dituduh tidak bisa mendidik anak-anaknya. Kesedihan itu yang bikin dia kecewa. Karena ayah dan ibunya sudah mendidik mereka dengan baik.
Ibu Niken menyuruh seorang guru olahraga yang datang belakangan untuk mengangkat Fahrul dia mengajak Gathbiyya untuk ke ruang BP.
Di ruang BP Gathbiyya menceritakan semuanya sejak awal.
“Kalau dia tidak menyerang saya lebih dulu, saya nggak pernah mau main tangan. Kalau hanya omongan saya memang berani lebih dulu, karena itu tidak menyakiti fisik. Tapi dia menyerang saya lebih dulu. Ada banyak faktor yang membuat saya balas menyerang. Pertama dia laki-laki tapi melakukan hal seperti itu pada perempuan. Sungguh bukan hal sederhana. Sampai besar dia akan menganggap perempuan itu lemah bila saya tak melawannya,” kata Gathbiyya yang memang dimasukkan karate lebih dulu oleh Dinda. Kelima anak lainnya malah tak diharuskan. Saat itu Dinda berpikir Gathbiyya harus bisa jaga diri sendiri, tak mengandalkan ke lima saudara lelakinya.
“Alasan selanjutnya saya lebih muda usianya. Kalau saya tak lawan dia measa bisa sewenang-wenang terhadap makhluk yang dia anggap lemah karena lebih kecil.” Miss Niken tak percaya alasan Gathbiyya sungguh masuk akal.
“Dan ketiga dia sudah kurang ajar lebih dulu. Dia tak mau memanggil nama saya, seakan saya makhluk rendahan yang tak ada harganya depan mata dia. Jadi itu tiga alasan saya membalas serangannya. Kalau dia tidak melakukan semua itu dia aman,” kata Gathbiyya. Tentu saja ibu Niken tidak berani langsung memanggil Radit untuk masalah ini. Dia dan semua jajaran guru atau pegawai sekolah dan yayasan sudah hafal karakter orang tua kembar 5 ini.
Orang tua Gathbiyya memang selalu kooperatif terhadap panggilan sekolah baik masalah kemajuan belajar maupun apabila ada kendala seperti sekarang. Terlebih selalu anak-anak ini tidak menyerang lebih dahulu. Mereka hanya membalas dan selalu orang tua lawannya yang marah-marah.