
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Lho Australianya di mana?” tanya Dinda. Dia sungguh tak percaya kalau Wahid juga akan ke benua yang sama dengannya. Siapa pun bisa menduga kalau dia janjian dengan Wahid.
“Saya di Brisbane,” jawab Wahid sambil mengamati Ghibran dan Ghifari yang sekarang malah minta bersama ayahnya sementara Dinda mengurus check in.
\*‘Alhamdulillah,’ \*batin Dinda karena tujuannya ke Sydney bukan di Brisbane.
‘*Ternyata mereka tak janjian*,’ batin Adit lega mendengar percakapan Dinda dan Wahid. Adit makin sadar dia terlalu bodoh. Di luar dirinya Dinda banyak yang memburu dan dia malah membuat Dinda ilfeel dengan kecemburuannya yang tak beralasan.
“Kalian sama Bunda dulu, besok Ayah nyusul. Sekarang Ayah kerja dulu,” bujuk Adit. Dinda dan Adit bingung si kembar tiba-tiba tak mau berpisah dari Adit.
Dinda melihat titik air di sudut mata Adit. Dia lihat Adit menciumi kedua putranya.
“Nanti malam kita videocall ya. Ayah akan belikan kalian bola baru untuk kita main. Sekarang Ayah kerja dulu,” bujuk Adit.
“Ade pintar kan? Bilang ke Mamas kalian akan pergi dengan Bunda dulu. Besok Ayah susul kalian ya?” Adit tahu lebih mudah bicara dengan Ghibran yang lebih bisa berpikir dengan logika daripada si perasa Ghifari.
“Ayo Mas, egi ma Nda,” ajak Ghibran memegang tangan Ghifari. Ghibran bilang ayo mas kita pergi sama bunda.
Ghifari menggeleng dan memeluk leher Adit. Si super sensitif ini memang lebih dekat dengan Adit. Ghibran tegas seperti Dinda.
“Mamas, anak Ayah yang hebat. Mamas pergi dengan Bunda dan Ade dulu. Nanti Ayah nyusul Mamas,” bisik Adit tanpa didengar siapa pun.
Ghifari menatap tajam ke mata Adit seakan bertanya are you promise?. Semua itu tak lepas dari mata Dinda. Adit mengangguk sambil tersenyum. Dia kecup kening putranya.
Ghifari memeluk Adit lalu balik badan menghampiri Ghibran dan Dinda.
‘*Apa yang mas Adit bisiki sehingga Fari menurut dan tak menangis*?’ pikir Dinda melihat putra sulungnya manut pada perintah Adit.
Adit membuang airmatanya tanpa malu sepanjang perjalanan menuju mobilnya. Dia melihat luka di mata Ghifari saat harus berpisah dengan dirinya. Bagaimana bila Dinda menjatuhkan palu dan memutuskan stay jauh darinya? Bagaimana nasib dirinya dan Fari?
Banyak yang melihat Adit berkali-kali menghapus air mata. Adit tak peduli. Dia tak mau belaga kuat menghadapi perpisahan yang entah kapan akan terjadi bila Dinda telah mengambil kepastian.
“Kamu yakin Dit?” tanya Eddy tak percaya ketika mereka mendarat di Sidney.
“Yakinlah Pa, tenang aja,” kata Adit dengan percaya dirinya.
Adit dan Eddy menyewa satu kamar hotel dekat dengan kamar hotel yang di sewa oleh Dinda dan anak-anak. Mereka hanya beda lantai saja.
Hari ini Adit dan Eddy belanja macam-macam. Kue tart kecil berbentuk mobil sudah mereka pesan di hotel. Juga topi pesta, balon angka dua dan berupa macam makanan dalam jumlah sangat sedikit. Memang hanya mereka berlima yang ada yaitu si kembar dan Adit, Eddy serta Dinda.
“Siapa ya pagi-pagi kok ada yang ngebel?” kata Dinda. Hari ini jam 5 pagi waktu Sydney. Dinda baru selesai salat subuh.
Dinda mengintip dari lubang di pintu. Dinda melihat ada seorang petugas hotel.
“Room service Bu,” kata petugas hotel.
“Sebentar,” jawab Dinda, dia membuka pintu masih mengenakan mukena.
“Saya tidak pesan, mungkin anda salah kamar,” jelas Dinda.
“Tidak apa-apa Bu. Ini memang service dari hotel untuk anak-anak yang berulang tahun,” kata room boy tersebut.
“Dari mana anda tahu bahwa anak-anak saya ulang tahun?” tanya Dinda curiga.
“Kan ada di datanya Bu,” jawab room service tersebut.
“Jangan bohong. Saya tak menulis data apa pun,” kilah Dinda.
“Enggak apa-apa Bu dan ini ada dua badut yang akan menghibur anak-anak Ibu.” di belakang room service ada dua badut yang tidak terlalu gendut hanya berpakaian badut dan berwajah lucu.
Dinda makin curiga, dia takut kalau mereka adalah orang jahat. Tentu saja Dinda tak membolehkan kedua badut itu masuk.
“Apa Papa enggak boleh ngucapin selamat ulang tahun buat cucu Papa?” tanya Eddy. Dinda kaget mengetahui bahwa badut tersebut adalah Eddy dan Adit.
“Kok Papa ada di sini?” tanya Dinda dengan bingung bercampur bahagia. Dia membuka pintu kamar dan membiarkan room servuca masuk.
“Ya iyalah Papa tahu, orang cucu Papa ulang tahun baunya kan sampai ke rumah. Jadi Papa meluncur kesini,” jawab Eddy.
Eddy langsung masuk ke kamar, kedua bayi tersebut baru bangun.
“Selamat ulang tahun jadi ibu ya Yank,” Adit mengecup kening Dinda tanpa bisa ditolak karena dia berdiri di pintu masuk dan mepet tembok. Dia berikan hadiah buat Dinda. Memang anak-anak yang ulang tahun, tapi ibunya selalu dia berikan. Dulu ulang tahun anak-anak pertama juga dia berikan hadiah dan diberikan ke Dinda setelah mereka bertemu lagi.
“Makasih masih inget Mas,” jawab Dinda.
“Mamas, Dede lihat ada badut,” kata Dinda.
Ghifari dan Ghibran tentu senang melihat badut mereka tidak takut.
“Selamat ulang tahun ya anak Ayah,” kata Adit dibalik pakaian badut.
“Ayah,” teriak Ghifari dan Ghibran begitu mendengar bahwa yang jadi badut adalah ayah mereka.
Dinda meneteskan air mata dia langsung mengabadikan momen bahagia itu. Ulang tahun di subuh pagi ini sangat berkesan buat Dinda juga anak-anak.
“Ayah sudah menepati janji Ayah ya, akan menyusul kalian kesini,” kata Adit pada annak-anak. Dinda ingat perkataan Adit di bandara. Dia kira saat itu Adit bicara hanya agar anak-anak tak rewel dan mau berangkat dengannya saja.
‘*Ternyata ini yang mas Adit bisikkan pada Fari sehingga anak ini mau berangkat lebih dulu denganku*,’ batin Dinda.
Mereka sarapan bersama tentu hanya rasa bahagia yang ada di relung hati semuanya.
‘*Sedemikian besar usahanya mencariku, sedemikian besar dia mencari anak-anak dan dia ingat ulang tahun anak-anak*.’
‘*Apa sosok ini harus aku buang*?’ pikir Dinda, dia melihat anak-anak tertawa terbahak-bahak dengan ulah ayah dan kakeknya.
\*‘Apa tawa bahagia itu harus aku singkirkan dari hidup anak-anakku?’ \*pikir Dinda. Dia tetap tersenyum dalam wajahnya tapi menangis di hatinya. Dinda galau sendiri menghadapi kenyataan pilihan hidupnya.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok.