
“Pa,” kata Tarida. Dia memeluk Gultom dengan sulit karena posisi Gultom berbaring.
“Maafin Papa,” bisik Gultom dengan lemah dan terputus-putus.
“Iya Pa, iya. Papa harus kuat bertahan. Aku sama Icha maafin Papa kok. Tapi dengan syarat Papa tak boleh menemui dua tante itu lagi. Walau dengan alasan anak mereka kritis atau apa pun. Kalau sampai kami tahu Papa bohong lagi dan menemui mereka, kami akan pergi jauh dari Papa,” kata Tarida dengan tegas. Sebelum nanti Gultom bohong lagi lebih baik dia beri ultimatum sekarang.
“Papa janji, Papa nggak akan temui mereka apa pun alasannya,” begitu Gultom berkata terbata-bata. Dia benar-benar tak percaya diberi kesempatan untuk hidup kedua setelah perjalanan panjangnya mengembara selama dia tak sadarkan diri.
“Sekarang aku keluar dulu ya Pa, nanti aku ditegur oleh suster. Nanti kalau Papa sudah pindah ke ruang rawat lagi kalau aku sudah pulang sekolah aku akan datang,” kata Tarida.
“Kamu serius?” kata opung.
“Ya Opung, aku sudah ngobrol banyak sama Papa. Dia sudah sadar kok. Sadar saat aku bilang aku maafin Papa dengan satu syarat dia tidak boleh bertemu dengan kedua tante itu apa pun kondisinya. Walaupun anaknya sedang kritis sekalipun Papa nggak boleh temuin mereka. Papa tinggal pilih mau temuin anaknya yang kritis dan aku pergi dari hidupnya atau Papa tetap bersama kami,” kata Tarida kejam.
Dinda dan Adit tak percaya bahwa ultimatum Tarida sedemikian keras terhadap papanya, tapi karena kata maaf dari Tarida juga akhirnya Gultom bisa sadar.
“Kalau begitu kami pamit dulu, salam saja buat pak Gultom bila kalian masuk nanti,” kata Dinda. Dia yakin keluarga itu ingin berbicara dengan Gultom dan mungkin juga Gultom akan dipindah ke ruang rawat lagi.
Dinda langsung mengirimkan kabar di grup emak rempong bahwa kondisi Gultom telah sadar.
Tentu saja reaksi emak itu semua heboh dengan mengucap hamdalah. Mereka senang karena Sondang sedikit ringan bebannya.
“Nggak nyangka ya Mas, Gultom bisa sadar dengan kata maaf dari Tarida,” ucap Dinda di mobil dalam perjalanan pulang.
“Iya sih dia memang putus asa karena kata-kata Tarida yang mengatakan tak pernah ingin bertemu lagi dengan papanya dan tak mau memaafkan papanya.”
“Tapi ultimatumnya juga serem loh karena mengatakan kalau papanya satu kali saja bertemu walau dengan alasan anak di sana kritis maka resikonya akan kehilangan Tarida.” ucap Dinda.
“Itu pilihan. Tapi harus tetap dipilih, yang mana yang mau dia beratkan. walaupun sama-sama anak. Sebenarnya nggak bisa juga karena semuanya anak. Tergantung sikap kita saja.” ucap Adit.
“Tapi kalau bertemu secara tak sengaja boleh kan? Mungkin maksudnya Tarida tadi bertemu dengan sengaja. Kalau tiba-tiba bertemu di mall tanpa kesengajaan masa nggak boleh?”
“Ya kalau bertemu lalu tidak ngobrol dan segala macamnya pasti boleh lah. Tapi maksudnya mungkin kalau sampai ngobrol dan sebagainya berarti kan mereka kembali berkomunikasi. Kalau kembali berkomunikasi nanti pasti ada akan ada rasa yang berbeda. Misalnya ingin tahu perkembangan anaknya, ingin tahu kesehatan mantan istri dan anaknya dan segala macam. Itu yang akan membuat Tarida marah.” ucap Adit.
“Serem ya Mas. Nggak kebayang kalau kamu juga seperti itu. Andai dulu Bram itu anakmu, aku nggak bisa ngebayangin. Karena aku yakin sebagai ayah kamu nggak akan mau dipisahkan dengan anakmu itu.”
“Ayah malah nggak pernah ngebayangin andai Bram itu anak Ayah. Kayaknya kalau dia anak ayah, nggak mungkin kan Shalimah dibuang seperti itu. Dia kan dibuang karena dia mengambil uang ayah juga penipuan rumah dan mobil atas nama Shalimah yang diperuntukan buat Bram. Kalau Bram anak ayah dia nggak mungkin ayah adukan dengan delik penggelapan. Paling hanya Ayah singkirkan mereka saja.”
“Iya Ayah singkirkan, tapi kan nggak mungkin juga ayah memutus hubungan dengan Bramnya. Mungkin dengan Shalimahnya bisa, tapi dengan Bramnya kan Ayah nggak mungkin bisa,” kata Dinda.
“Iya ya Bun. Sebagai seorang ayah nggak mungkin bisa Ayah memutus hubungan dengan anak kandung.”
“Tapi mungkin juga bisa sih Bun kalau seperti yang sekarang Gultom alamin. Karena dia kan tidak punya ikatan batin dengan anak-anak dari dua istrinya, terlebih yang sekarang masih dalam kandungan. Jadi mungkin bisa karena tak ada ikatan batin itu.” ucap Adit.
“Tau ah mumet ngebayangin semua itu. Mumet ngebayangin bila Bram itu beneran anakmu. Dan mumet membayangkan hubungan Gultom dan anak kedua istrinya itu,” kata Dinda. Dia pun mengganti posisi kursi mobil untuk lebih turun sehingga bisa setengah berbaring.