
“Hari ini kita jadi jalan-jalan ya,” kata Dinda pada ketiga putranya. Dia gandeng Ghaidan yang telah rapi.
“Bekal sudah siap semua kan Mbok?” kata Eddy. Dia yang paling takut bekal terutama minum anak-anak tidak terbawa walau saat ini beli minum di mana pun mudah. Tapi lebih cepat bila tinggal mengeluarkan dari tas yang mereka bawa.
“Sudah semua Pak,” jawab Marni. Rombongan pun berangkat menuju Taman Balekambang Surakarta.
Sebagai kegiatan pertama keluarga ini menuju Taman Partinah Bosch atau Hutan Partinah yang memiliki fungsi sebagai paru-paru kota dan daerah resapan. Terdapat macam-macam tanaman yang tumbuh di hutan ini, yaitu apel, beringin, dan kenari.
Eddy memilih tempat ini karena selain ada beberapa tanaman, di hutan ini juga terdapat kawanan rusa yang biasanya menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan yang mengunjungi Taman Balekambang Surakarta.
Eddy ingin cucunya bermain dengan bebas dengan rusa-rusa yang jinak. Eddy membuat banyak video dan foto cucu-cucunya.
“Kita ke Taman Kelinci yok, ajak Eddy setelah anak-anak puas bermain dengan rusa.
Taman kelinci ini bisa dimanfaatkan untuk memberikan edukasi. Selain kelinci, di taman ini juga terdapat beberapa satwa lainnya, yaitu kura-kura, biawak, dan domba merino.
Tentu saja anak-anak senang karena dapat berinteraksi langsung dengan berbagai satwa yang ada dan didampingi dengan petugas. Petugas yang ada akan menjelaskan bagaimana cara merawat, macam-macam jenis, dan cara mengembangbiakkan satwa yang ada di Taman Kelinci.
Eddy, Adit dan Dinda membiarkan anak-anak bebas berlarian.
“Dinda,” sapa seorang lelaki kepada Adinda yang sedang duduk menanti Adit dan anak-anak serta simbok keliling. Dia duduk bersama Eddy sambil menikmati salad buah dari home stay sebagai cemilannya.
“Eh pak Wahid. Apa kabar?” kata Dinda sambil berdiri dan menerima uluran tangan dari lelaki yang menegurnya barusan. Ternyata pak Wahid yang 3 tahun lalu pernah ngejar-ngejar Dinda ketika dia tinggal di Bekasi dulu.
“Perkenalkan Pak, ini mertua saya,” Dinda memperkenalkan Eddy.
“Bukannya waktu itu kita sudah pernah kenal ya waktu di Australia,” kata Wahid sambil mengulurkan tangan pada Eddy.
“Wah saya malah lupa,” jawab Dinda.
“Papa masih ingat Pa?” tanya Dinda pada Eddy.
“Waktu itu kayanya kita semua lagi gendong si kembar pas baru turun dari taksi. Jadi Papa lupa,” jawab Eddy.
“Sama siapa pak Wahid?” kata Dinda. Dia lihat Wahid sedang membeli 2 botol air mineral. Satu dingin dan satu tidak.
“Sama istri dan anak,” jawab Wahid.
Dinda kaget karena Wahid sudah punya anak, kalau dihitung dari pertemuan Sydney seharusnya anaknya maksimal tidak lebih dari usianya Ghaidan, karena Ghaidan dibentuk saja di Sydney.
“Nah itu putri dan istri saya,” kata Wahid. Terlihat bocah berusia 3 tahun lari dengan dikejar pelan-pelan oleh seorang perempuan yang sedang hamil. Mungkin usia kehamilannya sama dengan usia kehamilan Dinda saat ini.
“Ibu Dinda ini yang barangnya suka Papa ambil buat di toko.”
Dinda pun bersalaman dengan istrinya Wahid.
“Wah cantik sekali putrinya, sudah umur berapa?” kata Eddy.
“Tiga tahun Pak,” jawab istri Wahid.
Dinda langsung mengerti pasti ini bukan anak Wahid karena saat mengejar Dinda Wahid belum pernah menikah.
“Halo Sayang namanya siapa?” tanya Dinda dengan lembut.
“Sekar Tante,” jawab sang ibu.
“Wah Sekar cantik sekali.” Dinda mengusap lembut pipi gadis kecil itu.
“Sudah mau punya adik ya, sudah berapa bulan?” tanya Dinda lagi.
“Ini sudah 16 minggu,” jawab istri Wahid dambil tersenyum.
“Semoga selalu sehat ya, enggak jauh dari saya hamilnya,” kata Dinda.
“Masa sih Mbak? Tapi perutnya gede ya,” istri Wahid tak percaya melihat perut Dinda.
“Apa kembar lagi Din?” tanya Wahid yang terbiasa tak pernah memanggil Dinda dengan panggilan Bu.
“Iya kembar lagi,” jawab Dinda sambil mengusap perutnya.
“Wah senangnya, nanti jadi 4 ya,” ujar Wahid. Dinda tak membenarkan ucapan Wahid. Dia hanya menjawab dengan senyum saja.
“Kemana anak-anak?” tanya istri Wahid yang ingin melihat anak kembar Dinda.
“Sedang keliling sama ayahnya dan para mbok yang ikut membantu menjaga,” jawab Dinda.
“Mari kami jalan lagi,” pamit Wahid.
“Ya, silakan. Saya hanya menunggu di sini enggak berani jalan jauh,” kata Dinda.