
“Jadi Pak Gultom berniat resign?” tanya Dinda. Hari ini sesuai jadwal Gultom menghadap pada Adinda.
“Ya Bu. Saya mengajukan resign saja karena istri saya minta cerai. Kalau kami bercerai sedangkan nafkah jatuh ke dia saya makan dengan apa? Sedangkan saya butuh operasional buat bensin juga makan. Karena kami sudah pisah rumah tidak mungkin kan saya minta dia. Tak mungkin saya ngemis karena uang sudah masuk ke rekening dia.” jawab Gultom memaparkan kebenarannya.
“Baik, saya juga sudah minta ke bagian marketing dan site project bahwa Anda tidak punya tanggungan tunggakan pekerjaan, karena program yang kemarin belum di-ACC oleh Pak Bagas, sehingga bukan tanggungan Anda,” kata Dinda melihat data yang dikirim oleh Irene. Tadi Dinda meminta Irene untuk menanyakan pekerjaan Gultom pada Bagas juga pada Radite.
“Oke saya ACC ya Pak. Karena Bapak mengundurkan diri tentu Bapak akan mendapat kompensasi gaji. Tapi seperti tadi Bapak tahu kompensasi gajinya masuk ke rekening Ibu Sondang tidak ke Bapak.”
“Iya Bu saya mengerti kok. Untuk itu mengapa alasan saya mundur karena biar bagaimana pun saya juga butuh makan. Kalau semua jatuh ke tangan dia hidup saya bagaimana? Bukan saya nggak cinta pada anak-anak tapi saya butuh makan itu saja Bu.”
“Baik,” kata Dinda. Dia langsung memberi paraf disposisi di pojok kanan atas untuk dibawa Gultom pada bagian HRD sehingga nanti akan keluar surat rekomendasi untuk mencari kerja.
“Terima kasih Bu,” kata Gultom lirih. Tak menampik, dia sedih harus resign dari kantor ini. Tapi dia harus realistis. Tak mungkin bertahan di sini tanpa income ke sakunya sedang dia sudah berpisah dengan Sondang.
“Kami dari perusahaan juga mengucapkan terima kasih atas kinerja Anda selama ini. Semoga Anda sukses dalam kerja juga dalam kehidupan Anda selanjutnya,” kata Dinda. Biar bagaimana pun Dia paling benci laki-laki pengkhianat, dia tak pernah mau pro pada laki-laki seperti itu. Tak terbayangkan, bukan hanya satu istrinya tapi sudah tiga belum ditambah satu perempuan yang sedang diincar. Mungkin ada perempuan lain lagi yang akan diincar. Benar-benar laki-laki tak tahu diri. Kalau gajinya tidak dipotong oleh Dinda seperti itu tentu akan makin banyak korban yang berjatuhan karena dia leluasa mengatur uangnya buat cari perempuan.
“Ibu Sondang datanya sudah kami terima dua hari lalu,” kata Ilham.
“Saat ini jabatan posisi yang kosong adalah kepala HRD dan kepala divisi keuangan. Saya sudah bertanya pada Ibu Dinda dan beliau menyarankan Bu Sondang jadi kepala divisi keuangan.”
“Ibu bisa mulai kerja hari Senin di jabatan tersebut. ini desk job Ibu. Mohon hadir jam 07.40 untuk absen karena jam 08.00 itu mulai kerja bukan jam 08.00 absen,” kata Ilham.
“Baik Pak Ilham,” kata Sondang pelan.
“Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Ibu Dinda dan Pak Ilham. Saya juga akan berterima kasih secara personal pada beliau,” kata Sondang. Perempuan itu hanya diminta melamar agar bisa punya penghasilan rutin. Dia tak menyangka akan langsung ditempatkan menjadi kepala divisi keuangan.
“Iya Bu dan mohon maaf karena ini adalah dunia pekerjaan, di dunia formal dengan terpaksa Ibu harus memanggil saya Bapak walaupun usia saya lebih muda,” ucap Ilham.
“Tidak apa-apa Pak. Saya mengerti memang itu keharusan dalam dunia formal,” balas Sondang.
“Sebagai bahan info saja buat Ibu. Ini di luar masalah kantor ya Bu. Ibu tidak usah berkecil hati. Ibu Dinda memang seperti itu, kalau menolong orang. Istri saya adalah salah satu orang yang beliau tolong. Padahal mantan suaminya dulu menggelapkan uang perusahaan lebih dari 3M. tapi sebagai sesama perempuan Ibu Dinda masih menolong istri saya. Itu sebabnya saya mengerti mengapa beliau menolong Ibu. Tapi saya harap Ibu tahan terhadap ujian yang saat ini diberikan oleh Bu Dinda.”
“Ujian apa ya Pak Ilham?” tanya Sondang bingung. Mengapa Ilham mengatakan soal ujian. Sedang dia sudah jelas-jelas diterima.
“Ibu diberi jabatan kepala divisi keuangan padahal Ibu orang baru. Itu adalah ujian buat Ibu dan di sini peraturan di perusahaan setiap 1 tahun sekali ada reposisi Bu. Jadi nanti semua pekerjaan Ibu akan dievaluasi oleh pengganti Ibu. Begitu seterusnya. Nanti Ibu juga akan digilir kemana pun.”
“Saya mengerti atas itu semua. Saya sudah diceritakan oleh mertua saya bagaimana sepak terjang Ibu Dinda menolong sesama perempuan. Jadi saya sangat mengerti saya juga ditolong oleh Ibu Dinda. Soal peraturan baru yang mengharuskan gaji suami itu masuk ke rekening istri itu saya tahu salah satunya untuk menolong saya agar semua gajinya Pak Gultom tidak dipakai untuk berfoya-foya dengan banyak perempuan di luar sana.”
“Iya Bu, seperti itu untuk itulah boss kita. Saya kasih tahu Ibu karena buat Bu Dinda tidak ada maaf bagi seorang pengkhianat Bu. Kalau memang Ibu akan melenceng sedikit Ibu berpikir ulang karena nanti anak-anak yang kena imbasnya.”
“Saya mengerti Pak Ilham dan terima kasih atas peringatan itu dan maaf kalau ada sesuatu yang tidak berkenan mohon saya segera diingatkan,” kata Sondang.