GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
INGIN UBAH LIST



Adit memeluk bahu Dinda, mereka bahagia memberikan anak-anaknya wahana laboratorium terbuka ini.


“Lalu itu adalah kolam kecil berisi ikan liar yang biasa ada di got atau selokan. Itu juga untuk makanan burung yang nanti mereka ambil sendiri. Jadi biarkan mereka terbiasa cari makan sendiri itu memang kita beli buat mengisi selokan di lahan ini. Memang Dinda membuat kolam lalu mengalir ke selokan selokan dan kembali lagi ke kolam begitu seterusnya. Jadi dibiarkan ikan-ikan itu bebas.


Selain itu Dinda juga membuat peternakan lele skala kecil dari plastik dia biarkan anakan lele ada di sana atasnya diberi satu ikat tanaman genjer yang akan dimanfaatkan buat sayur karena sayuran genjer mulai jarang ditemukan di pasar, tidak semudah kangkung yang nanti tentu akan bertambah menjadi banyak.


Dan Dinda kemarin juga membeli sepasang induk katak hijau!


“Bunda ini mau diapain?” tanya Fari.


“Bunda ingin kalian tahu kita pelihara itu. Sekarang kamu bisa lepaskan dia,” kata Dinda saat Fari melihat stoples berlubang tempat katak hijau besar.


“Woow, lucu ya, aku mau pelihara itu,” ucap Ghaylan.


“Itu punya kita kan?” jawab Ghaidan.


“Ya, itu punya kalian, sebentar saja dia akan berkembang biak banyak. Jadi Bunda hanya beli indukan satu pasang saja agar bila musim hujan nanti green house akan rame dengan suara kodok. Sebentar lagi, green house akan ramai dengan suara jangkrik,” jawab Dinda dengan penuh senyum. Dia bahagia anak-anaknya suka akan kejutan yang dia berikan.


“Ini list kalian kemarin itu silakan kalau ada yang mau diubah. Besok kita mulai belanja dan Kakek maunya apa silakan masukkan,  besok kita mulai beli. Mungkin kita akan beli ke pasar burung Barito atau ke pasar burung Pramuka atau ke tempat lain,” jelas Adit.


“Ya bisa, kita ke pasar burung Barito dan Pramuka tapi kita bisa juga ke Jatinegara. mungkin ke pasar Jatinegara juga kalau memang yang kalian cari belum ada di dua pasar sebelumnya,” kata Adit.


“Ah aku jadi akan rubah ah. Ternyata tempatnya seperti ini. Aku pikir mau dibikin kandang di rumah,” kata Gathbiyya yang menuliskan kucing persia.


“Ingat jangan bikin yang berlawanan, tadinya Bunda mau beli OWL atau burung hantu tapi tak mungkin kan? Kalau ada burung hantu nanti burung sawah ini habis semua dimakan.”


“Kalian kalau mau piara anjing dengan kucing beli saat keduanya masih bayi sehingga mereka nanti bisa saling menyayangi tidak berantem,” kata Eddy.


“Oh iya juga ya. Pasti mereka berantem kalau kita belinya sudah besar,” kata Ghibran.


“Ya kalian sekarang sudah tahu lokasinya silakan kalian bikin listnya mau diperbaiki atau tidak,” Dinda menyerahkan list yang sudah dia print. Nanti akan ditambah coret-coretan anak-anaknya juga tambahan data dari Eddy.


“Maksudnya apa Yah?” tanya Fari,


“Jangan bikin kawin silang. Jadi pelihara ayamnya satu jenis saja agar tak ada hybrid kecuali hewan liar seperti burung. Kucing juga hanya satu ras, tak boleh berbagai ras. Marmut juga seperti itu.”


“Papa nggak ingin tambah apa-apa?” tanya Dinda merreka sudah duduk di batang kayu yang dibuat kursi dan jadi sangat mahal karena telah di poles anti rayap dan di pernis.


“Kayaknya burung tekukur ini sudah bikin nyaman Din. Papa enggak butuh hewan lain,” jawab Eddy menyesap teh-nya.


“Enggak mau tambah perkutut?”


“Enggak lah Papa sudah senang dengar suara prenjak dan kutilang saja juga crocokannya ini sudah mantap kalau buat yang cantik Papa senang dengan parkitnya tapi lovebird juga bagus,” ucap Eddy denganbinar mata bahagia.


“Itu di setiap sudut sudah kami sediakan sarang sintetis yang kami siapkan. Kali saja mereka mau pakai. Tapi bisa jadi mereka nanti buat sendiri di pohon-pohon ini,” kata Adit. Karena di sana memang pohonnya sudah besar-besar. Ternyata yang di sana bukan pohon jambu air, melainkan pohon jambu dersono atau jambu jamaika atau jambu ***, bukan jenis jambu air seperti yang Dinda katakan sebelum beli tanah ini.


“Aku sudah tanam durian montong kaki tiga.” kata Dinda pada Eddy.


“Aku juga sudah tanam lengkeng Pa kayaknya cukup ya. Papa mau tanam pohon lain?”


“Nggak sih. Sudah ada mangga. Rambutan nggak ada ya?” jawab Eddy melihat berkeliling.


“Nggak ada Pa, rambutannya. Ada banyak pohon pisang. Tapi mau aku ganti semua karena ini pisangnya pisang batu. Hanya bagus untuk di ambil daunnya. Tapi buahnya tidak bisa kita makan. Aku mau ganti dengan pisang tanduk,” kata Adit.


“Iya kalau pisang batu tidak bisa kita gunakan. Suruh gali saja sampai habis, jangan tersisa. Kita ganti dengan pisang tanduk atau pisang nangka saja yang bisa digoreng,” Eddy setuju dengan ide Adit mengganti pohon pisang batu.


“Aku sudah cari bibit pisang tanduknya. Kemarin aku sudah minta pada office boy di kantor untuk beli tiga bibit,” sahut Adit.


“Besok mereka akan gali sampai habis bibit pisang yang di sini sehingga nanti tidak bercampur dengan yang lain. Dan kita tanam di lokasi pojok saja. Selain agar tak tertukar bila pisang batu tumbuh kembali, juga karena lokasi pohon pisang batunya tidak estetik. Besok pohon pisang batunya akan dibawa pulang tukan. Akan mereka tanam di rumah karena daunnya bisa di jual.”


Kemarin Dinda dan Adit akhirnya setuju conblock hanya di beberapa bagian dekat dengan tempat duduk jadi mereka di tempat duduk saja yang dipasang conblock tempat lain tetap dibiarkan alami dengan rumput toh nanti saat akan beranak kelincinya dimasukkan ke kandang agar tidak terkontaminasi dengan hewan lain jadi tidak akan ngerong atau membuat lubang untuk beranak.