GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
KAKAK BENCI PAPA



“Tadi jadi ketemuan?” tanya Sondang pada mertuanya saat dua baru pulang kerja.


“Jadi seperti biasa,” jawaban sang mertua.


“Tapi kali ini anak-anak tak terlihat antusias.”


“Kenapa Inang?” tanya Sondang. Tak biasanya anak-anak seperti itu. Sondang membiarkan, kapan saja Gultom mau bertemu anak-anak, dia izinkan. Asal ada mertuanya. Dia tak ingin Gultom mengajak anak-anak kenal dengan calon ibu barunya sebelum dia beri pembekalan.


“Inang belum korek-korek mereka. Nantilah kalau sudah agak santai. Sepertinya mereka lagi bete,” jawab inang.


“Baik nanti aku juga akan korek-korek agar mereka cerita,” jawab Sondang.


‘Ada apa dengan Rida dan Icha ya?’ pikir Sondang. Rida adalah panggilan untuk putrinya yang bernama Tarida sedang Icha adalah panggilan untuk putrinya yang bernama Theresia.


Sondang langsung mandi dan berganti pakaian. Dia bersiap menyiapkan makan malam untuk mereka berempat. Walau tadi yang memasak masakan adalah inang dan pembantunya, tetap saja dia yang menyiapkan bila akan makan malam. Semua harus disiapkan olehnya sendiri. Tak mau semua urusan rumah dikerjakan oleh ibu mertuanya atau pembantu walau dia kerja sekalipun. Dia tetap harus mengurus anak-anak juga ibu mertuanya.


“Bu panggilkan anak-anak,” perintah Sondang pada pembantunya. Dia memang memanggil ibu atau bu pada sang pembantu karena sudah ikut dia sejak lama. Sejak Icha masih kecil sampai sekarang.


“Halo anak Mama, ayo kita makan.”  ajak Sondang pada Icha.


“Mana opung? panggil opung dulu.” ucap Sondang selanjutnya sambil menerima gelas dari pembantunya.


“Opung baru mandi,” jawab Rida yang mendengar perintah Sondang.


“Aduh kenapa opung mandi malam-malam? Apa dia nggak lupa pakai air panas ya? Takutnya dia lupa,” Sondang jadi khawatir akan mertuanya.


“Nggak lupa kok Nyah ( nyonya maksudnya ). Tadi saya sudah bawakan air panas untuk opung,” kata sang sang pembantu.


Tentu saja di rumah itu Sondang tak punya pemanas air buat mandi jadi kalau mau mandi air panas ya harus bawa air yang dimasak buat campuran di ember.


“Ayo Opung, kita makan dulu,” ajak Sondang ketika ibu mertuanya sudah menghampiri meja makan. Dia lihat mertuanya fresh sehabis mandi.


“Rasanya gerah saja. Tumben hari ini bawaannya banyak keringat. Jadi mau tidur nanti nggak enak kalau tidak mandi. Itulah makanya Opung mandi dulu, habis mandi langsung makan kan jadinya tidak terlalu kedinginan,” kata sang opung.


“Ya sudah ayo kita makan,” ajak Sondang. Dia meminta Tarida memimpin doa sebelum makan.


“Kalau nggak salah, hari ini jadwal kalian ketemu papa kalian ya?” pancing Sondang pada kedua putrinya.


“Iya Ma,” jawab Icha.


“Ya sudah, yang penting saat jadwal seperti itu kalian manfaatkanlah waktu kalian bersama papamu. Kan tidak setiap waktu dia bisa bersama kalian,” ucap Sondang.


“Iya,” jawab Icha.


“Kakak kenapa Kak? Kok diam saja?” tanya Sondang melihat Tarida tak antusias.


“Kakak benci papa!” lontar Tarida kesal.


“Nggak boleh begitu loh. Mama nggak ajarin kamu benci papamu. Ini ada Opung. Opung itu ibunya papa, nanti dikiranya Mama ajarin kamu yang nggak benar,” tegur Sondang.


“Opung kan lihat tiap hari Mama nggak pernah ajarin hal buruk seperti itu. Tapi memang Ida benci saja sama papa,” jawab Tarida. Dia kalau penyebut dirinya sendiri Ida bukan Rida.


“Alasanmu kenapa? Nggak baik loh benci orang tua. Mama saja yang sudah disakiti masih bisa terima kelakuan papamu,” memang Sondang memberitahu alasan dia dan Gultom bercerai yaitu karena Gultom punya istri lain. Sondang tak mau berbagi sehingga membiarkan Gultom dengan istri lainnya saja. Tentu saja anak usia 10 tahun dan 12 tahun sudah mengerti apa kata suami istri dan perceraian.


“Papa tadi bilang bahwa dia hanya cinta sama Mama dan kami berdua. Kalau dia hanya  cinta sama Mama dan kami berdua, kenapa dia punya anak yang namanya Marry itu? Sama istrinya yang lagi hamil?” kata Icha dengan beraninya.


Sondang menatap mertuanya bingung.