
“Pa. Papa berangkatnya nanti saja ya. Jam 09.00-an. Jadi sampai sana langsung ikut ke pemakaman atau bisa juga Papa berangkat jam 10.00 langsung ke pemakaman. Biar Papa nggak capek di rumah duka,” kata Dinda saat pagi-pagi dia menyiapkan sarapan semua putra-putrinya.
“Ya. Nanti Papa berangkat jam 09.30 atau jam 10.00 tergantung siapnya. Kalau jam 09.30 Papa berangkat ke rumah duka tapi kalau sudah jam 10.00 Papa berangkat langsung ke pemakaman saja,” kata Eddy.
Habis sarapan Dinda dan Adit langsung berangkat ke rumah duka. Sejak bangun tidur tadi Dinda dan Adit sudah memberi pengertian pada putra dan putrinya kalau hari ini Dinda tak mengantar mereka ke sekolah seperti biasanya. Untungnya anak-anak mereka mengerti.
Pagi jam 07.00 rumahnya Ajat dan Santi sudah mulai ramai karena pemakaman nanti jam 11.00 berangkat dari rumah duka jam 10.00
Saat tiba di rumah duka sudah ada Velove dan Puspa rupanya mereka datang lebih dulu. Kemarin sore Bagas tidak bisa hadir sehingga Velove juga tidak hadir karena cukup jauh dari rumahnya,
Hari ini ada Sondang datang. Kebetulan Gultom juga datang karena dia mendengar kabar duka, jadi sebagai kenalan saat dia bekerja di kantor Dinda, Gultom pun datang.
Gultom sudah bekerja lagi di sebuah perusahaan tentu tidak sebesar perusahaan Dinda, tapi setidaknya dia tidak menganggur. Dia masih terus mendekati Sondang. Dia tak mau lagi cari perempuan lain karena memang sebenarnya cintanya hanya untuk Sondang. Cuma waktu itu dia tergoda ingin menaklukkan sesuatu aja. Dia ingin merasakan sensasi menaklukkan suatu tantangan. Sekarang dia sudah sadar dan kapok.
“Kamu sudah cek pemakaman?” tanya Adit pada Ilham saat akan masuk ke rumah Ajat dia bertemu Ilham di kursi di bawah tenda.
“Yang urus pemakaman kemarin Fahrul, Pak. Bukan saya kan,” kata Ilham.
“Coba kamu tanya dia,” pinta Adit.
“Baik Pak, sebentar saya cari Fahrul tadi dia kayaknya ada dekat Wika.
“Tolong ya saya kabari. Jam 10.00 itu harus sudah ready. Jadi jam 11.00 masuk. Jangan jam 10.00 mereka belum siap,” jelas Adit.
“Baik Pak. Saya akan tanya lagi ke Fahrulnya,” Ilham langsung meninggalkan Adit padahal Adit juga belum masuk. Baru sampai di jalan raya tempat tenda di pasang saja ketika bertemu sama Ilham.
“Selamat pagi pak Halimi. Wah terima kasih sudah datang pagi-pagi. Ibu apa kabar?” tanya Adit memang dia adalah tuan rumah walaupun tidak tinggal di situ.
“Alhamdulillah kami baik Pak,” jawab istrinya pak Halimi.
“Ayo ibu saya masuk dulu. Saya baru datang ini, maklum anak saya banyak dan pagi-pagi saya dan istri harus menyiapkan mereka dulu,” kata Adit.
“Ah yang benar aja Bapak. Istrinya masih muda begitu kok,” kata ibu Halimi. Dinda memang sudah masuk sejak tadi, dia takut Mischa mencarinya.
“Benar Pak, Bu. Anak kandung kami enam. Bapak bisa tanya ke semua pegawai saya di sini. Anak kandung kami enam,” kata Adit sambil tersenyum.
‘Bagaimana tidak bersyukur. Sedang aku dapat satu saja nggak,’ kata Halimi dalam hatinya.
Anaknya Halimi dan istrinya dua sudah. Sang kakak sudah kelas 12 SMA dan adiknya kelas 10.
Tapi semuanya anak adopsi, Halimi tak bisa punya anak. Itulah dia paling benci melihat ada orang membuang-buang anaknya seperti Wiwik.
Istrinya Halimi penasaran dia tanya pada seorang tamu di situ yang kebetulan sepertinya pegawainya Adit, karena tadi saat Adit datang dia memberi hormat pada Adit.
“Kamu pegawai di tempatnya Pak Adit?” tanya istrinya Halimi.
“Benar Bu. Saya di sana bagian cleaning service.”
“Memang benar anaknya Pak Adit enam?”
“Iya Bu, anaknya Pak Adit enam. Semuanya sudah punya perusahaan jadi sekarang Pak Adit cuma menjalankan usaha anak-anaknya saja,” jelas cleaning service itu.
“Memang anaknya sudah dewasa?” kata istri pak Halimi makin tak yakin Adit punya anak enam yang sudah punya perusahaan.
“Belum Bu. Anaknya baru kelas 6 SD. Tapi sebenarnya umurnya baru 9 atau 10 tahun begitu. Saya malah nggak tahu. Mungkin ada yang SMP saya juga kurang tahu. Tapi umurnya belum ada yang 10 kok Bu.”
“Masya Allah benar-benar ya Pak Adit itu penuh kejutan.”
“Yang punya perusahaan istrinya Bu, dan ibu Santi yang ini adalah pemegang salah satu cabang perusahaannya ibu Dinda.”
“Oh begitu. Saya pikir dia kakaknya Pak Ajat atau kakak ipar bu Santi.”
“Semua dalam perusahaan itu bersaudara Bu. Kami nggak pernah ada yang dibedakan. Itu yang membuat perusahaannya Bu Dinda semakin besar.”
“Masya Allah. Itu orang baik sekali ya. Semua dianggap saudara.”
“Begitulah Bu. Makanya hidupnya berkah. Padahal dulu Bu Dinda waktu hamil pertama itu sudah niat dibunuh oleh orang.”