
Saat rombongan tiba di villa, di halaman belakang sudah terpasang 4 buah tenda. 3 tenda buat tidur dan 1 tenda buat ruang makan termasuk dapur. Memang tenda khusus dapur berbeda dengan tenda buat tidur.
Adit memang meminta kepada jasa penyewaan tenda agar memasangkan dengan benar dan kuat. Kalau dia dan anak-anak yang pasang, tentu akan terpasang tapi tidak kuat anak-anak belum waktunya belajar pasang tenda.
“Ini tenda khusus memang bukan buat tidur ini suka disebut dapur umum. Di sini buat kita masak, ada kompor gas kecil. Biasa kalau zaman Ayah sama bunda dulu, kita nggak pakai kayak gini kita masak pakai tungku. Tapi zaman sekarang sudah nggak model ya pakai tungku. Jadi ini disiapin kompor di dapur umum. Di sana ada beras dan segala macamnya nanti kita masak secara manual. Nanti bunda yang akan bantu kalian bagaimana cara masak manual bukan dengan magic jar. Semua peserta akan ikut sesion masak. Bukan hanya khusus Biyya.”
“Ayah sudah siain bahan sayuran dan lain-lain bumbu juga sudah siap nanti kita masak seru-seruan ya. Jadi semua harus fun, kalau yang nggak enak badan atau males atau berantem lebih baik kalian tidur di villa sama kakek,” jelas Adit pada anggota rombongan.
“Ih Kakek juga mau tidur di tenda kok. Ngapain liburan kok tidur di villa. Kalian di tenda, ya kakek juga tidur di tenda,” kata Eddy tak mau kalah.
“Yeeeeaay, kita semua tidur di tenda,” kata Ghaylan bersemangat.
“Sekarang waktunya kita cari ranting kering, Ayah akan ajarin kalian caranya membedakan antara ranting kering dan ranting basah.”
Rombongan berjalan di sekitar halaman tidak keluar halaman villa sama sekali. Adit mengajarkan perbedaan antara ranting kering dan ranting dan menjawab pertanyaan anak-anak apakah yang mereka dapat ranting kering atau basah.
“Zaman dulu mungkin kalian sudah pelajari bagaimana cara membuat api yaitu dengan menggosok-gosokkan ranting. Ayah nggak akan ajarin itu karena terlalu lama. Cuma kan teorinya ada seperti itu dan harus kalian ketahui. Mungkin kalau suatu saat kalian mau coba silakan. Tapi saat ini Ayah nggak akan mengajak kalian mencoba itu. Yang penting kalian sudah bisa bedakan yang mana ranting kering dan ranting basah.”
“Untuk mudahkan nyala api unggun kalian juga bisa ambil daun kering yang jatuh, tapi kadang daun kering sudah menjadi lapuk, menjadi humus, menjadi pupuk alami. Daun kering itu nanti kan lembab. Jadi kalau mau buat api unggun ya harus yang benar-benar kering. Yang baru jatuh satu dua hari itu benar-benar kering. Kalau jatuhnya sudah lebih dari seminggu dia akan lapuk dan lembab.”
Adit memberikan semua pengetahuan itu tanpa sadar kalau dia sebenarnya mampu, hanya Dinda yang tersenyum melihat kemampuan suaminya yang sangat baik. Padahal suaminya sangat tak percaya diri merasa rendah diri karena kemampuannya tidak sebagus Dinda.
Itu sebabnya dalam beberapa perjalanan harus selalu ada pemimpin. Karena dengan begini terlihat kemampuan Adit. Di depan anak-anak memang Dinda selalu mendahulukan Adit menjadi pemimpin mereka dalam hal apa pun agar anak-anak punya pandangan baik buat Ayah mereka. Ayah mereka bukan seorang yang kalah dari bundanya. Ayah mereka adalah HERO itu yang selalu Dinda tanamkan pada anak-anak secara tidak langsung. Semua sikap Adit adalah hero buat anak-anaknya.